Ch 2. IVY

2217 Words
Sementara itu di waktu yang sama di tempat lain yaitu kediaman Ivy. “Hey guys, ketemu lagi sama aku Ivy, hari ini aku mau fitting gaun pengantin, let’s check it out!” Ivy membetulkan letak lensa kameranya sebelum kemudian memamerkan gaunnya yang mewah. Dengan antusias dia sengaja memperlihatkan setiap detail rancangan gaunnya itu dan berbicara sendiri pada kamera. “Gaun ini sederhana dan memang mirip sama gaunnya Kate Middleton. Itu karena aku terinspirasi dari beliau. Bagiku sih pernikahan itu gak perlu mewah, yang penting sakral.” terangnya sok bijak. Sudah hampir setahun Ivy menekuni dunia influencer, awalnya dia hanya iseng memajang foto selfienya di i********:. Bisa ditebak karena kecantikan dan tubuh seksinya followers-nya berkembang pesat. Dengan jumlah followers di i********: yang sudah lebih dari 1 juta, belum lagi di aplikasi lain seperti Youtube dan t****k. Ivy bisa meraup penghasilan cukup lumayan hanya dengan memposting satu foto atau video untuk endorsement. Maka dari itu Ivy di usianya yang kini 23 tahun, sebagai lulusan program Business Manajement dari Universitas bergengsi di Australia, dia sama sekali tak berminat melanjutkan usaha Ayahnya untuk bekerja kantoran. Padahal sang Ayah, Michael Alexander yang berkebangsaan Australia adalah seorang CEO Tesca Corporation, perusahaan yang bergerak dalam bidang dealer Mobil mewah. Dengan pengalaman minim saja Ivy sudah bisa langsung mendapatkan jabatan penting di perusahaan Ayahnya. Namun, Ivy sudah nyaman menjadi influencer. Ivy merasa lebih bebas menjadi influencer, dia bisa mengontrol jadwal kerja dan keuangannya sendiri. Selain itu membaca komentar pujian dari followers setianya sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. “Hh, capek banget hari ini!” Ivy melap peluh di dahinya dengan kertas minyak. Menatap dirinya di cermin dan menambahkan lagi bedak di wajahnya agar tak terlihat mengkilap. Bisa dibilang dia adalah seorang ‘High Maintenance Girl’, dari ujung rambut hingga kaki penampilannya harus selalu sempurna. Semua mantan kekasihnya tak tahan dengan sikapnya ini, hanya satu orang yang hingga kini masih bertahan, siapa lagi selain tunangannya Jordan. “Hai sayang, kamu lagi ngapain? Aku butuh asupan cinta dari kamu!” sapanya ceria pada seseorang di balik layar ponselnya. Wajah seorang pria tampan tampil memenuhi layar ponselnya. Dia adalah Jordan Andrean, 28 tahun, pria yang sebentar lagi akan segera menikah dengannya. “Aku masih sibuk sama kerjaan! Kamu sendiri gimana?” balas Jordan dengan senyumnya yang menawan. “Kok kerjaan terus sih yang diurusin! Bentar lagi kan pernikahan kita, kamu serius gak sih sama aku?” Ivy mulai merajuk, mengerucutkan bibirnya manja. “Ya iya lah, masa enggak.” “Terus kapan dong kita bisa ketemu? Aku kangen sama kamu!” “Loh kita kan lagi dipingit gak boleh saling ketemu dulu, sayang! Kalo melanggar tradisi, nantinya malah kenapa-kenapa lagi. Kita ketemunya nanti di pelaminan, Oke?” Jordan menjelaskan dengan nada penuh perhatian seperti sedang menggurui anak kecil. Lelaki ini memang paling pintar bermulut manis dan Ivy tak bisa berargumen lagi. “He, iya juga sih! Alright then, I love you so much! Mmuach!” Saat itu Ivy tak menaruh curiga sama sekali dengan sikap santai Jordan yang tampak enggan bertemu dengannya. Dia tahu jika Jordan sama seperti Ayahnya adalah seorang CEO, pastinya sibuk mengurus perusahaan Web Developer-nya yang tengah berkembang. Beberapa menit kemudian, Ivy bermaksud untuk mengganti gaun pengantinnya ke pakaian biasa namun kemudian tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Kali ini dia mendapat dirrect message sebuah kiriman foto. “Apa ini?” Mata Ivy terbelalak, wajahnya mendadak pucat pasi saat melihat dan membaca isi pesan di ponselnya. Jantungnya berdetak tak karuan dan perasaannya berkecamuk seperti dilanda badai. Kenapa harus di saat seperti ini dia mendapatkan kabar seperti ini? Sore harinya di sebuah Kafe area Kemang Jakarta. “Jadi, sekarang perut kamu sudah berapa bulan?” tanya Ivy langsung pada intinya. Dia menatap gadis berpenampilan lusuh yang duduk di hadapannya. “Empat bulan, Mbak.” jawab gadis itu lirih sambil menunduk malu. Dia membelai perutnya yang sudah tampak membesar, tak berani menatap mata Ivy secara langsung. Namanya Ningsih, usianya baru 19 tahun. Gadis lulusan SMA yang baru beberapa bulan ini bekerja di perusahaan Jordan sebagai Cleaning Service. Penampilannya terlihat lugu dan polos, tapi tetap saja wajah lugu itu tak bisa menyingkirkan emosi yang bergolak dalam d**a Ivy. Gadis ini adalah selingkuhan dari Jordan. “Jordan, b******k!” umpat Ivy saking emosi. “Kenapa kamu mau tidur sama dia? Kamu tahu kan dia itu statusnya tunangan saya?! Kamu juga sering lihat saya datang ke kantornya!” lanjutnya lagi mencecar. Ivy masih ingat jelas beberapa kali dia pernah bertemu dengan Ningsih saat gadis itu sedang mengepel lantai toilet di kantor perusahaan Jordan. “Hiks, maafkan saya Mbak.” Ningsih mulai terisak dan menyusut air matanya dengan sapu tangan. “Hh, makanya jangan suka ngehalu! Kamu pikir CEO ganteng tajir seperti dia mau nikahin kamu yang kerja cuma jadi cleaning service? Itu gak ada dalam realita! Buktinya kamu cuma dihamilin doang!” “Lalu saya harus bagaimana, Mbak? Hiks! Saya gak bisa pulang kampung sekarang dan membiarkan anak ini lahir tanpa Bapak!” “Loh. kok tanya ke saya? Ya tanya ke Bapaknya lah!” geram Ivy dengan intonasi meninggi. “Saya sudah mencoba menghubungi Bapak Jordan berulang kali tapi beliau malah memblokir nomor saya dan memecat saya dari pekerjaan. Hiks.” “Saya bilang juga apa?” Ivy memutar bola matanya sebal. “Tolong saya, Mbak! Sebagai sesama wanita saya hanya bisa berharap sama Mbak Ivy untuk membantu saya!” “Sebagai sesama wanita juga harusnya kamu sadar diri gak main tikung di belakang saya. Kayak bis antar kota aja! Cih! Kenapa kamu mau diperawanin sama dia sebelum halal? Apa kamu berharap buat jadi Nyonya besar? Apa kamu pikir kamu Cinderella?” cibir Ivy. “Eng-enggak, Mbak! Sumpah saya gak pernah berpikir demikian!” Ningsih kembali menangis tersedu-sedu. Ivy sadar kalimatnya mungkin terlalu kasar dan merendahkan. Tapi, bagaimana dia tidak emosi saat mengetahui tunangannya telah berselingkuh dan menghamili wanita lain? Walaupun berusaha sabar, Ivy tak sanggup menutupi kemarahan dan kebenciannya pada Ningsih. Jika saja tidak tahu wanita di depannya ini sedang hamil, Ivy ingin sekali menampar dan menjambak rambutnya dan menyeretnya hingga ke luar Kafe. Wajah Ningsih yang sok polos itu membuatnya semakin naik darah. Tapi Ivy sadar, sikap barbar justru akan membuat orang lain menganggapnya sebagai tokoh antagonis dan mewajarkan perbuatan Jordan yang selingkuh darinya. “Sa-saya dipaksa Mbak. Awalnya saya gak mau tapi Pak Jordan waktu itu mabuk dan sepertinya terkena bisikan setan,” lanjut Ningsih lagi di antara isak tangisnya. “Cih! Lagi-lagi mabuk dan bisikan setan yang disalahkan. Lagu lama!” batin Ivy dengan senyum sarkastik. Bagi Ivy air mata yang diperlihatkan Ningsih itu tak lebih dari air mata buaya. Dia sama sekali tak tersentuh. Hatinya juga sedang teriris pedih dan rasanya ingin menangis, meraung tapi Ivy menahan diri untuk terlihat tegar. “Alright then. Bagaimanapun saya harus dengar dari dua belah pihak. Saya enggak bisa percaya kamu begitu saja, saya harus dengar dari sisi Jordan. Karena itu, ayo ikut!” ajak Ivy seraya bangkit dari tempat duduknya. “Mau kemana Mbak?” Ningsih dengan wajah yang masih basah oleh air mata menatap kebingungan. “Pokoknya ikut saya! Yuk, capcus!” sahut Ivy tak sabaran. Sebagai sesama wanita Ivy ingat dengan istilah ‘women support women’, tapi jujur dia tak bisa percaya begitu saja perkataan Ningsih. Semua kenalan dekatnya termasuk jutaan followers-nya se-Indonesia sudah tahu kabar pertunangannya dengan Jordan. Sungguh ironis gadis ‘ndeso’ seperti Ningsih hadir menjadi orang ketiga tepat beberapa minggu sebelum pernikahan. Apa Jordan sudah gila? Kenapa selera Jordan begitu rendahan? Kenapa lelaki itu tidak selingkuh dengan gadis yang lebih cantik, lebih pintar atau lebih kaya darinya? Kenapa harus Ningsih? Bagi Ivy ini seperti penghinaan? Apakah ini semua kebetulan atau disengaja? Bagaimanapun Ivy sadar diluar sana banyak wanita yang rela melakukan berbagai cara demi mendapatkan pria idaman, tak peduli jika itu dengan cara merebut atau menyakiti wanita lainnya, dan Ningsih mungkin saja salah satunya. Apakah itu alasan Jordan bermain di belakang? Ivy sadar dirinya selalu menolak saat Jordan mengajaknya ke ranjang setiap kali mereka berkencan. Tak hanya pada Jordan tapi juga pada ketiga mantan kekasihnya, Edward, Chiko dan Rangga. Semenjak dia pacaran dari masa SMA hingga kuliah, Ivy selalu menolak hubungan seks sebelum menikah. Percaya atau tidak walaupun penampilan Ivy cenderung seksi, ditambah lagi dengan pergaulan luas yang pernah bersekolah di luar negeri, Ivy memiliki prinsip hanya ingin memberikan kegadisannya pada lelaki yang tepat. Itulah alasan mengapa dia selalu gagal menjalin hubungan dengan para mantan. Sialnya, Jordan yang dia pikir adalah pilihan terbaik ternyata sama saja dengan mantan kekasihnya yang lain. Lelaki itu tak bisa menahan diri. Beberapa jam kemudian... “Oh gitu, jadi dia sekarang lagi Bachelor Party sekarang? Oke, thanks, Cher!” Waktu menunjukkan pukul 11.30 malam di ponsel Ivy saat dia mendapat kabar dari salah satu kenalannya bahwa Jordan berada di sebuah Klub Malam. Ivy tak terlalu terkejut dengan kabar itu. Bachelor party adalah hal biasa yang dilakukan pengantin pria di USA, dan Jordan memang pria dengan pergaulan luas yang suka mengikuti trend dan budaya luar negeri. Ivy juga tak mau kalah, dia sudah berencana menyelenggarakan Bridal Shower dengan teman-teman wanitanya dalam waktu dekat ini. Namun, kabar perselingkuhan Jordan ini membuat dia mengurungkan niatnya. Dentum keras suara EDM masuk ke gendang telinga Ivy saat dia melangkah masuk kedalam Klub. Di sampingnya Ningsih tampak celingukan dan kebingungan. Dia berpegangan erat pada lengan Ivy dan hanya bisa menunduk malu saat orang melihat ke arahnya. Ningsih dengan baju daster ibu hamil memang terlihat mencolok dibandingkan pengunjung wanita lain. Ini adalah Klub Malam khusus kalangan atas, tepatnya anak gaul kota Jakarta Selatan. Semua gadis disini berpenampilan seksi dan fashionable dengan pakaian branded seperti Ivy. Dengan langkah tergesa Ivy masuk ke sebuah ruangan VIP yang berada di lantai 2. Di belakangnya Ningsih mengikuti dengan raut wajah gelisah. “Kamu pegang ini dan ingat pastikan tetap nyala, oke!” perintah Ivy pada Ningsih sembari memberikan kamera saku padanya. Ivy sengaja ingin mengabadikan reaksi Jordan sebagai bukti, sekaligus sebagai konten untuk vlog di sosial medianya nanti. Saat Ivy melangkah masuk, beberapa pria teman Jordan yang sudah dikenalnya tampak terkejut. Seorang gadis yang sedang menari di atas meja juga sontak berhenti. Mereka seolah bisa merasakan aura kemarahan yang menguar dari Ivy, terutama dari raut wajahnya yang menggelap. Tapi, masih ada satu orang yang tidak menyadari kehadirannya. Dialah Jordan yang tampak sedang sibuk mencumbu mesra seorang gadis yang duduk dipangkuannya. “Malam, Jordan! Lagi sibuk ya?” sapa Ivy dengan nada ramah namun sarkastik. “Loh sayang, kenapa kamu disini?” Jordan terperanjat kaget, dia sontak bangkit dari sofa tempat duduknya hingga gadis yang duduk di pangkuannya jatuh terjungkal. “Kenapa kamu bawa kamera? Hei, kenapa dia juga ada di-“ Splash! Belum sempat Jordan menyelesaikan kalimatnya, Ivy sudah menyiramkan air dari botol minuman beralkohol ke mukanya. “Apa-apaan ini Ivy?” Jordan terkesiap, mengusap wajahnya yang basah. “Kita putus sekarang juga dan pernikahan dibatalkan!” cetus Ivy, singkat, padat dan jelas. “Ivy, sayang kamu gak bisa memutuskan hubungan secara sepihak! Apa lagi kalau kalau kamu lagi emosi, Jelaskan dulu ada apa ini?!” Jordan kebingungan. Otaknya yang masih terpengaruh alkohol belum bisa mencerna situasi ini dan reaksinya yang lambat itu semakin membakar emosi Ivy. Awalnya Ivy tidak ingin mempercayai jika tunangannya ini adalah lelaki b******k, hati kecilnya berharap jika Ningsih yang berbohong. Namun, melihat tingkah Jordan yang seenaknya mencumbu gadis asing di klub ini tanpa rasa bersalah, Ivy tak bisa mengendalikan emosinya lagi. Api kecemburuan sudah membakar dan menghanguskan rasa cintanya pada lelaki ini. “Kamu lihat sendiri hasil ulah kamu sama Ningsih!” bentaknya berapi-api. “Harusnya kamu yang jelasin sama aku! Kenapa kamu bisa bikin dia tekdung kayak gini?! Terus berencana nikahin aku sambil senang-senang sama cewek-cewek panggilan ini?” lanjutnya sembari menunjuk sekumpulan wanita cantik di ruangan. “Mbak, saya bukan cewek panggilan, saya ini profesional esc-“ “Diam kamu!” bentak Ivy pada wanita yang tadi mencoba membela diri. “Ivy! Are you serius?” Jordan menatapnya tak percaya. Wajahnya masih kebingungan. “Yes, I’m serius! It’s over Jordan! I’m too worthy for a bastard like you!” cetus Ivy sebelum berbalik pergi meninggalkan tempat itu. “What? No way! Ivy! This b***h just a liar and gold digger! How could you easily trust her than me? I’m your fiance! We’ve been together for so long!” protes Jordan tak terima. “Pak Jordan! Saya hamil anak Bapak, Pak! Tolong Bapak harus tanggung jawab sama orang tua saya di Kampung!” Ningsih yang merasa dilupakan dalam situasi ini memberanikan diri untuk bicara. “Apa? Tanggung jawab? Kamu halu? Kamu sendiri yang godain saya! Ini semua gara-gara kamu! Dasar perempuan murahan! Berhenti merekam saya!” Jordan yang kalap merebut kamera dari tangan Ningsih. Ivy yang sadar berusaha mencegahnya. Dalam sekejap terjadi rebut-rebutan kamera yang dramatis diantara ketiganya. Sialnya, tenaga Jordan yang jauh lebih kuat dibanding kedua wanita itu membuat Ivy dan Ningsih jatuh terjerembab waktu yang bersamaan. BRUGH! “KYAAAARGH!” Ningsih dan Ivy spontan menjerit kesakitan. Namun, berbeda dengan Ivy yang jatuh ke lantai, Ningsih jatuh ke meja kaca kecil di belakangnya. Satu serpihan kaca menancap di betisnya hingga berdarah. Tak hanya itu dari sela kedua kakinya juga mengalir darah segar. “Sa-sakiit! To-tolong Mbak! Sa-saya pendarahan!” rintihnya lagi sambil menangis dan memegangi perutnya. Ivy terbelalak horor menyadari aliran darah sudah mengotori bagian rok Ningsih yang berwarna cerah. “Astaga! Lihat apa yang kamu lakukan, Jordan?! Kamu keterlaluan!” pekik Ivy histeris.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD