Ch 3. TRAGEDI

1584 Words
“Jordan, kenapa kamu diam aja? Ayo cepat tolongin, Ningsih! Dia mengandung anak kamu!” pekik Ivy begitu panik, sementara Jordan masih berdiri mematung dengan raut bingung. “T-tapi! Bagaimana kamu bisa yakin kalau bayinya anakku? Aku gak mau mengakui sebelum tes DNA terbukti!” “Ini bukan waktunya berdebat, Jordan! Cepat bantuin angkat dia!” geram Ivy. Keributan yang terjadi membuat manajer klub Malam dan beberapa sekuriti berdatangan untuk melerai, Jordan tetap tak bergeming malah salah seorang dari sekuriti yang terpaksa membopong Ningsih ke luar. Pengunjung lain terutama teman-teman Jordan yang lain saling berbisik, sebagian ada yang mengernyit jijik saat melihat darah berceceran di lantai. Ivy sungguh tak habis pikir dengan sikap pengecut tunangannya itu, dalam situasi gawat darurat seperti ini lelaki itu masih saja berusaha mengelak dari tanggung jawab. “T-tolong saya Mbak! Saya gak mau kehilangan bayi saya!” Ningsih memelas ditengah rintihan kesakitan dan isak tangisnya. “Iya, iya aku ngerti! Tapi kamu harus tenang, oke!” sahut Ivy dengan tubuh dan suara gemetar menahan emosi. Dia menyalakan mesin mobilnya berusaha tetap tenang dan konsentrasi saat mengemudi. Pikiran Ivy saat ini begitu kalut, situasi malam ini membuatnya menyadari betapa tak bergunanya lingkaran pertemanan antara dirinya dan Jordan. Mereka semua seolah tak memiliki empati. Hampir setahun lebih dirinya berpacaran dengan Jordan, tak ada seorang pun dari mereka yang membocorkan padanya tentang perselingkuhan Jordan. Apa mereka menganggap perasaan Ivy tak penting? Pandangan Ivy sudah buram oleh air mata namun dia tidak tahu harus menangisi siapa? Siapakah yang lebih malang, dirinya atau Ningsih? Jordan bahkan tak mau bergerak untuk membantu wanita ini. Pada akhirnya dia mengendarai mobilnya sendirian membelah jalanan malam ibu kota. Pikiran dan perasaannya kacau balau seperti benang kusut. Di tempat lain di waktu yang hampir bersamaan. PRIIIT! Adam meniup peluit yang menggantung di lehernya keras-keras. “Maju terus Om, maju, belok kanan geser dikit! Oke? Yes, sip!” serunya sambil memberi jempol pada pengendara mobil yang baru saja parkir di sebuah mini market. Adam berterimakasih saat pengendara itu memberinya imbalan selembar uang kertas dua ribuan. Dia segera memasukannya ke dalam saku, disaatukan bersama recehan lainnya. “Alhamdulillah, lumayan! Rejeki!” gumam Adam saat menghitung pendapatannya seharian ini. Dia mengipasi tubuhnya dengan uang lembaran yang lecek. Totalnya ada 28 ribu rupiah karena dikurangi uang makan tadi siang. Tidak seberapa tapi baginya patut disyukuri. Adam menghela nafas lelah, menengadah menatap langit malam kota Jakarta yang bertabur bintang. Tatapannya nanar sama seperti isi hatinya yang tengah diliputi kerisauan. Malam sudah larut namun kota metropolitan ini masih saja tetap sibuk. Para pekerja shift malam mulai beraktivitas, hingar bingar musik dari dangdut sampai EDM mulai diperdengarkan dari setiap diskotik dan klub malam. Pikiran Adam menerawang jauh ke rumah, saat ini di kontrakan sempit itu, Ibunya sedang terbaring lemah di kasur menahan rasa sakit kanker lambung. Setiap mengingatnya hati Adam teriris pedih, bukannya berobat ke dokter, sang Ibu lebih memilih pengobatan alternatif seperti ramuan herbal atau air doa dari Pak Haji. Bukannya Adam tak percaya akan mujizat do’a tapi baginya akan lebih baik jika sang Ibu dirawat inap di rumah sakit dan diperiksa dokter ahli. Tapi, apa mau dikata dengan status pekerjaannya seperti ini dia tak sanggup membayar biaya pengobatannya. Meskipun memiliki BPJS tetap saja dengan birokrasi yang rumit, sulit bagi orang kecil seperti dia dan keluarganya untuk mendapatkan perawatan terbaik di Rumah Sakit. “Ya, Allah! Kok ngenes banget hidup hamba-Mu ini, ya Allah? Apa ini saatnya gue harus jual ginjal?” Adam berkeluh kesah dalam hati, meratapi dirinya mengapa harus menghadapi situasi sulit ini. Seandainya saja Adam bisa mendonorkan lambungnya sendiri pada sang Ibu, mungkin keadaan akan lebih baik. Ironisnya, Siti Fatimah sang Ibu seperti yang sudah pasrah menerima nasib untuk segera dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Sesuatu yang belum bisa Adam terima, tentu saja Adam belum sanggup kehilangan sang Ibu terutama disaat dirinya belum sempat membahagiakannya. Jika imannya tipis, Adam mungkin sudah tergoda menjalani pekerjaan haram seperti temannya Lucky, menjual tubuh dan harga diri sebagai lelaki demi materi. Hanya saja Adam selalu teringat nasihat sang ibu untuk tetap menjaga akhlak, “Jangan mau deh lu kerja duit haram, biarin aja kita miskin di dunia asal nanti kaya di akhirat. Inget, Dam! dunia itu cuma sementara, akhirat yang kekal!” itulah sepenggal kalimat yang sering di ucapkan ibunya setiap kali Adam berkeluh kesah tentang keadaan ekonomi mereka. “Bang! Bang Adam!” Di saat Adam tengah larut dalam lamunannya, suara anak kecil tiba-tiba membuyarkan pikirannya. “Eh, Ucul, ngapain lu disini? Udah malem bukannya lu pulang ke rumah?” tanyanya keheranan pada bocah lelaki di depannya. Bocah ingusan berperawakan kurus kecil itu merupakan adik sepupunya yang bernama lengkap Samsul. “Bang Adam, Ucul minta duit dong, Bang!” sahut Samsul dengan lantang. “Ya elah, dateng-dateng malah minta duit, buat apan sih, Cul?” “Buat bayar iuran sekolah Ucul, Bang! Please!” bujuk bocah itu lagi dengan tatapan polos dan memelas. “Lah sekolah lu kan gratis dibiayain pemerintah! Bohong itu dosa loh, Cul! Abang tahu dari emak lu, lu ini lagi keranjingan main game, pasti minta duit buat beli item Mobile Legend kan?” “Iih, nggak Bang, sumpah! Uangnya buat beli kuota! Kan sekolah Ucul sekarang online, ayolah Bang! Please!” bocah kelas lima SD itu kembali merengek manja. “Bukannya kuota juga udah dikasih gratis, masih bocil udah pinter bohong! Nanti idung lu mancung gede kayak Pinokio!” “Yah, Abang juga jangan ngibul! Pinokio itu cuma dongeng, kalo beneran ada bapak-bapak sama Ibu-ibu yang kerjaannyq ngantor di gedung DPR idungnya juga pada mancung kayak Pinokio! Hayoo!” “Hm, bener juga ya?” angguk Adam spontan. “Lu bocil udah kayak Pejabat aja, pinter ngeles! Tapi udahlah, mending lu pulang cuci kaki, cuci muka, gosok gigi, bikin PR, tidur! Gih! Udah malem keluyuran mulu entar lu diculik Wewe Gombel! Mau? Entar Emak lu bingung nyari-nyari!” omel Adam panjang lebar. “Huu! Bilang aja Bang Adam gak punya duit! Dasar, Abang jamet! Ganteng-ganteng kere, bokek mulu! Wekk!” ledek Samsul sembari menjulurkan lidahnya nakal. Mendengar kalimat pedas itu hati Adam serasa tertohok dan matanya melotot, belum sempat dia membalas sepatah kata bocah bernama Samsul sudah kabur sambil tertawa terbahak dan kembali meledeknya sepanjang jalan. “Ya elah, bocil! Kecil-kecil udah jadi preman, beraninya malak orang tua, gue timpuk sendal tahu rasa!” kutuk Adam sembari membuka sendal jepit Swallow kesayangannya. “Eh, tunggu dulu! Gue kan gak punya sendal lagi!” lanjutnya kemudian berubah pikiran. Adam kembali ke aktivitasnya semula, membantu kendaraan parkir di sebuah mini market 24 jam. Meskipun pekerjaan ini ilegal dan bisa dibilang tak jauh beda dari pengemis, mau bagaimana lagi Adam tak punya cara lain. Dalam keheningan dan hanya ditemani suara derum mobil, dia kembali menghitung uang yang di dapatnya barusan. Dari kejauhan terlihat Samsul masih berkeliaran dan belum juga pulang. Entah apa yang sedang bocah bandel itu pikirkan, dia berlari menyeberang jalan tanpa lihat kanan kiri. Sialnya dari arah berlawanan terlihat kilatan cahaya dari sebuah mobil yang melaju cepat. “Astagfirullah, Ucul?! AWAAAS!” Adam yang panik sontak berteriak dan berlari sekuat tenaga berusaha menyelamatkan adik sepupunya, sayangnya belum sempat dia menepi ke jalan laju mobil tak terelakan sudah menghantam tubuh mereka berdua. BRAAAK! Suara mengerikan dari benturan tubuh yang tertabrak terdengar. Semuanya terjadi begitu cepat hingga tak ada seorang pengguna jalan lainnya menyangka hal itu akan terjadi. “Astaga apaan itu? Apa ada tabrakan? Inalillahi!” Suara klakson kendaraan bersahutan membuat bising telinga, para pengguna jalan baik yang di dalam kendaraan bermotor ataupun yang sekedar berjalan di trotoar bertanya-tanya hampir berbarengan. Tak lama kemudian dan tak jauh dari lokasi kecelakaan, mobil si pelaku berhenti untuk menepi. Seorang gadis cantik bersetelan hitam seksi dan rambut panjang kecoklatan turun dari sedan BMW-nya, dengan wajah penuh uraian air mata dia berlari tergopoh-gopoh menghampiri kerumunan. “Ya Tuhan! Apa yang udah gue lakukan?” Ivy terbelalak dan merutuki dirinya sendiri. Wajahnya pucat saat melihat dua tubuh tergeletak di aspal jalan dalam genangan darah. “Oh jadi ini si penabraknya? Mentang-mentang orang kaya, jalan “Kalo nyetir hati-hati, Neng! Ini jalanan umum bukan jalanan milik Bapaknya Eneng!" "Nih cewek udah punya SIM belum sih? Nyetir ugal-ugalan kayak Emak-emak lihat barang diskonan!” “Mabok kali dia, lihat aja tuh dandanannya seksi gitu kayak mau dugem!” Selentingan kalimat yang membuat hati dan telinga panas terdengar dari kerumunan. Tapi, Ivy berusaha menulikan telinganya, pandangannya semakin buram oleh air mata yang semakin deras dan hatinya semakin gusar. Bagaimana bisa di waktu yang hampir bersamaan dia mengalami tragedi seberat ini. “Saya gak bermaksud kebut-kebutan apalagi nabrak, Pak! Sumpah! Saya panik karena bawa ibu hamil yang sedang pendarahan kritis! Tolong bantu saya panggil ambulan!” Dengan suara gemetar dan isak tangis Ivy berusaha membela diri dari amukan massa yang mulai panas. Tak jauh darinya bersimpuh, di aspal yang dingin, dua tubuh lelaki beda usia tergeletak tak sadarkan diri, Dalam posisi meringkuk Adam terlihat memeluk erat bocah kecil, kondisi keduanya sangat mengenaskan. Percikan darah segar dari kepala Adam terlihat di pinggiran trotoar yang bercat putih. Rambut hitam dan panjang Adam yang acak-acakan menutupi wajah tampannya yang berlumuran darah. Ada sobekan besar di area kepalanya yang sepertinya membentur aspal. Sementara Samsul dalam dekapannya terlihat tak bergerak sedikitpun, kedua lengan kecilnya terkulai lemah. “Oh God please! Tell me they’re okay!” Sembari menunggu ambulan datang, Ivy melanjutkan isak tangisnya sambil bersimpuh di aspal yang dingin. Ivy kembali merutuki dirinya, bagaimana bisa di hari yang sama dalam waktu yang hampir berdekatan dua musibah menimpanya bertubi-tubi. Apakah ini tragedi atau sebuah takdir yang tak terduga?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD