Cakar Baja menyadari bahwa yang berada di belakangnya bukan lah sembarang pendekar. Ia terlihat tinggi besar dengan rambut ikal merah, serta jubah kebesarannya yang kemerahan. Sosok yang tak asing, yang di masa lampau pernah membuat onar di padepokan. Cakar Baja sadar, bahwa pendekar yang berada di belakangnya mempunyai ilmu yang jauh melampaui dirinya. Ia hanya bisa terdiam, tak berani lagi untuk melawan, untuk mengamankan nyawanya. Mulutnya juga terkatup, tak bisa berkata sepatah kata pun. “Kau tak perlu khawatir, Cakar Baja. Aku kesini bukan untuk menghabisimu. Aku kesini bukan sebagai Pengeran Panah Merah, tetapi aku kesini sebagai manusia baru yang berjuluk Pangeran Api Abadi. Aku bukan lah orang yang kau kenal di masa lampau. Bertahun-tahun aku mempelajari ilmu api, dan kini aku tel

