Kumbara terhenyak begitu mengetahui si pemilik tangan lembut yang memegang pundaknya. Ia seolah tak percaya ketika mendapati sosok Mahalini yang sudah berdiri di belakangnya. Padahal sebelumnya, jelas-jelas Mahalini sudah menghilang di balik pintu. Untuk sesaat, Kumbara merasa sudah tidak waras. Bagaimana tidak? Ia sudah mulai tak mempercayai pikirannya sendiri. Bagaimana mungkin Mahalini kembali begitu cepat? “Kau ... kau dari mana Mahalini?” tanya Kumbara dengan bingung. Sosok Mahalini juga tak kalah bingung. Ia juga merasa heran mengapa Kumbara tampak seperti orang yang ketakutan. Bahkan melihat dirinya, seolah melihat hantu atau makhluk aneh. Paras Kumbara tampak memucat. “Apa maksudmu dari mana Kumbara? Aku yang seharusnya bertanya di mana kita ini berada? Kamu ... kamu kenapa? Ini

