Lain di tempat Rheana, tidak jauh dari kamar gadis itu, Davin diam di kasurnya. Dalam kondisi kamar yang gelap, menyisakan lampu tidur yang menyala remang, menyorot wajahnya yang tampak serius berpikir. “Tidak mungkin dia?” Davin mengulang itu, tanya yang tak mungkin mendapatkan jawabannya. Matanya terpejam, kilasan malam itu berputar di kepalanya. Tidak ada apapun selain malam itu, sesuatu yang hanya dia simpan sendirian. *** “Hei, Stev, hentikan!” Davin menyentak gelas dari tangan si gadis yang kesadarannya sudah nyaris hilang. “Ha ha.” Hanya tawa getir yang lolos dari bibir merah merekah gadis itu. Wajah cantiknya memerah, alkohol telah mengambil alih kesadarannya. “Hei, ayolah. Ayo, aku antar kau pulang,” kata Davin. “Eunghh. b******k!” Stevie, gadis itu mengumpat. “Kau be

