Sore itu, langit sudah berwarna jingga keemasan ketika mobil hitam Tama berhenti di depan lobi rumah sakit. Dari balik kaca, dia melihat Rhea keluar dengan langkah terburu, masih mengenakan pakaian kerjanya yang rapi, rambutnya diikat sederhana. Begitu gadis itu melihat mobilnya, senyumnya langsung mengembang, membuat penantian singkat Tama terasa berarti. Pintu mobil dibuka, Rhea masuk sambil menghela napas lega. “Akhirnya selesai juga,” gumamnya sambil menaruh tas di pangkuan. Tama melirik sekilas, bibirnya membentuk lengkungan samar. “Hari ini melelahkan?” “Lumayan. Tapi jadi ringan karena ada kau yang menjemput.” Jawabannya sederhana, tapi membuat d**a Tama hangat. Dia menyalakan mesin, dan mobil pun perlahan meninggalkan halaman rumah sakit. Di perjalanan, Rhea sempat membuka je

