46. Undangan Sesat

1118 Words

“Ya, sudah. Mami tak akan menuntut. Tapi Rhe, jangan lama-lama. Umurmu gak lagi muda, kau pun tahu resiko hamil di usiamu ini. Mami ingin sekali gendong cucu darimu. Berpikir akan secantik atau setampan apa anakmu nanti,” kata Dinda mengungkapkan harapannya. Rhea diam, menunduk. Ah, ragu itu, mengganggu. “Tapi tidak apa-apa. Mami tak akan menuntut. Namun jika ada apa, tolong jangan dipendam sendiri. Kau tahu kalau kami akan selalu ada,” tuturnya lalu menatap Tama. “Itu pun berlaku untukmu, Tama. Jangan menanggung semuanya sendirian. Berbagi, entah pada Rhea, padaku, atau pada siapapun. Itu gunanya keluarga,” lanjutnya. Tama mengangguk, dia paham. “Baik Tante, akan aku usahakan,” katanya. “Baguslah. Tante tahu kau siap, lebih dari siap untuk menikahi Rhea. Tapi itu, anaknya masih ra

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD