Mereka berdua masih duduk di ruangan Rhea, bersantai di sofa sambil menikmati cemilan yang Hanin bawa. Mereka bercengkrama bersama, tertawa kecil. Di waktu luang seperti itu, mereka bisa menggunakannya untuk istirahat sebelum sibuk di ruang operasi. “Jadi, wanita itu pengungkit?” Hanin menimpali cerita Rhea tentang Valeria yang dua kali melabraknya di rumah sakit. “Entah. Yang pasti dia terobsesi dengan Tama. Dia sampai ketakutan setiap kali Valeria muncul. Anehnya, aku juga merasakan ketakutan saat dia melabrak pertama kali. Itu membuat aku seperti ke deja-vu. Kau masih ingat insiden fitnah itu, kan?” Rhea menyuapkan sesendok kecil dessert ke mulutnya, menguyah pelan sambil melirik Hanin yang menganggukkan kepalanya. “Ya, aku ingat. Gara-gara cewek gatel, tuduhannya salah sasaran. U

