“Kau mau ke mana?” Rhea mendongak, menatap Tama yang menjulang di depannya. “Memberi pelajaran untuk Valeria,” katanya. Tapi Rhea justru terkekeh. Dia menarik tangan Tama yang masih bertaut dengan tangannya. Lalu dia menepuk sofa kosong di sebelahnya, meminta pria itu duduk. Setelah Tama menurut dan duduk, Rhea justru melakukan hal yang tak terduga. Gadis itu membaringkan kepalanya di pangkuan Tama, mengagetkan pria itu dengan sikap Rhea yang tak biasanya. “Tidak perlu buru-buru menemuinya. Jika kau pergi sekarang, jelas dia akan senang. Aku pikir, alasannya datang ke sini adalah agar kau datang padanya, agar kalian bisa bertemu. Sepertinya, Valeria merindukanmu,” kata Rhea lalu terkekeh. “CK! Kau bicara seakan kau tak cemburu, Rhe?” “Memang tidak,” jawab Rhea enteng. “Apa? B

