Roan mengajak Tama untuk bicara berdua, dan mereka pindah ke taman depan rumah. Tama mengikuti dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Roan. Roan menyalakan pipa tembakaunya, sebuah kebiasaan lama yang jarang dia lakukan kecuali saat ingin berbincang serius. Dia menghela napas panjang, menatap Tama yang duduk tenang di sampingnya. “Aku sudah lama menunggu saat seperti ini,” ucapnya. “Bukan karena aku terburu-buru ingin menikahkan putriku, tapi karena aku ingin memastikan lebih dulu siapa lelaki yang akan berdiri di sisinya,” katanya. Tama menoleh dengan penuh hormat, menundukkan kepala sedikit. “Aku mengerti, Papi. Itu wajar. Aku juga seorang ayah, jadi aku tahu apa yang Papi rasakan,” balas Tama. Roan tersenyum tipis. “Justru itu. Kau seorang ayah. Leon … ,” dia menyebut nama boca

