7. Tidak akan Lepas

1138 Words
Rheana berdiri dengan kaku di sisi ranjang Tama. Dia menundukkan kepalanya dalam, malu, tentu saja. Di saat yang tidak tepat tadi tidak hanya seorang yang datang berkunjung, dan yang lebih parah adalah tamu itu ibunya Tama, sosok yang juga Rheana kenal dahulu kala. Wanita anggun yang seakan tak menua itu duduk di salah satu kursi dengan tangan terlipat, satu tangannya memijat pelipis. Leon berdiri di dekat wanita itu, wajah polosnya memperhatikan sang Oma. “Tadi … kalian itu … apa?” Wanita itu bertanya lagi, memastikan bahwa apa yang dia lihat itu bukan hanya sekadar halusinasi, bukan sekedar kebetulan apalagi kibulan. Tapi masalahnya, bagaimana mungkin? “Ya, seperti yang Mama liat, sih, kami berciuman,” jawab Tama enteng. Rheana melotot tajam, tak percaya dengan apa yang Tama katakan itu. “Tama!” Bukan Rheana, tapi suara gelegar ibunya yang menegur. Dia menatap sang putra yang masih berbaring di ranjang. Bukankah itu ajaib, Tama Evander baru saja kecelakaan dan melewati masa kritis, seakan tak merasa sakit, dia justru berulah. “Grandma,” Leon memanggil sambil menarik-narik ujung baru dress yang dikenakan wanita itu. “Kenapa, Sayang?” Sahutnya berubah menjadi lembut dan penuh kasih. “Momy.” Leon menunjuk pada Rheana. “Momy?” Wanita itu mengulang, tak paham. Leon mengangguk cepat. “Iya, Momy. Itu Momy. Tadi, Leo ketemu Momy, lalu Papa peluk.” Butuh waktu untuk menyatukan kalimat yang masih belepotan itu bagi Maria Evander. Ibunya Leon, dan pelukan? Ah, sedikit banyak paham. “Dia itu ibumu?” Maria bertanya pada Leon yang mengangguk cepat. “Aku ketemu Momy, nanti ikut pulang,” kata Leon. Maria menatap Rheana yang masih di tempatnya, berdoa agar unit gawat darurat sepi, supaya dia bisa pergi ke sana. Konon, jika staf rumah sakit mengeluhkan keadaan yang sepi, maka mereka akan kedapatan pasien. Keluhan sepi dan tenang itu seperti kata kramat tidak boleh diucapkan sembarangan. “Tadi itu, apa yang kalian lakukan di depan anak kecil, hah? Kalian pikir, itu pantas? Kalian juga sama sekali tidak ada hubungan apapun. Jadi untuk apa berciuman di tempat yang tidak seharusnya? Kalian pikir ini kamar pribadi kalian? Kalian pikir ini aman? Kau juga, Rheana. Ke mana saja kau, hah?” Rheana sedikit tersentak ketika Maria menegurnya. “Itu, anu … saya … aku … .” “Ngomong yang bener, dong. Masa gagap? Kau dokter, kan? Bagaimana menjelaskan pada pasien jika gagap begitu?” Maria kesal juga dibuatnya. Dia memang mengenal Rheana tapi di saat ini dia sama sekali tidak mau beramah tamah. Terlebih lagi setelah putranya membuat kekacauan besar sebelumnya. “Hehe. Maaf, Nyonya … Tante,” koreksi Rheana ketika Maria meliriknya tajam. “Aku rasa, ada salah paham. Aku dokter yang bertanggung jawab atas putramu. Kondisinya tidak gawat, aku jamin dia bisa sehat beraktivitas seperti sebelumnya, hanya saja membutuhkan istirahat untuk beberapa hari,” jelas Rheana selugas mungkin setelah menenangkan dirinya. Rheana juga sedikit banyak mengenal Maria Evander itu. Sosoknya yang berkelas dengan gaya sederhana tapi aura orang katanya kuat sekali. Dia menggigit bibirnya, berpikir bicara dengan Maria yang emosi tidak mudah. Dia pernah mengalaminya, seperti deja-vu. “Lantas, kenapa kalian berciuman, hah? Hubungan kalian apa?” Maria memberondong, tak sabar dengan pernyataan. “Itu, kamu tidak ada hubungan apa-apa, kok, Tan. Kebetulan, aku bertemu … melihat Tama dalam keadaan kritis. Jadi aku menanganinya sebab tidak ada dokter yang berjaga di unit darurat. Jadi —” “Aku tidak butuh penjelasan orang tidak ada hubungan apa-apa,” sela Maria sinis. “Kau juga, apa maksudnya, hah?” Tunjuknya pada sang putra. “Apa yang akan kau lakukan sebagai gantinya, Ma?” Tama jutsru bertanya, lebih seperti bernegosiasi dengan ibunya. “Hei, Tam!” Rheana menegur, tidak nyaman dengan ibunya pria itu jika harus berulah. “Dasar anak kurang ajar! Kau sudah membuat kekacauan di pertemuan itu, dan malah berciuman dengan wanita lain. Kenapa tidak sekalian saja bercinta dan berikan aku cucu darimu?” “Ah, ide bagus, Ma!” Timpal Tama dengan senyum lebar di wajahnya. Maria mendengkus, Rheana menatap tak percaya. Dia bahkan mencubit lengan Tama yang tak terluka dengan cukup keras sampai membuat pria itu mengaduh kesakitan. Maria tidak peduli. Hanya satu hal yang dia ingin pastikan. “Kau,” telunjuknya lurus mengarah pada Tama. “Aku tidak akan melepaskannya lagi. Jadi usahakan dia datang ke rumah saat kau keluar dari sini, kau paham, Tama?” Maria menatap tajam. Perkataan itu tak sampai pada Rheana tapi senyum jahil di wajah Tama membuatnya kesal. Berpikir kalau Tama dan ibunya membuat kesepakatan. “Tentu saja. Akan aku usahakan. Dan pasti tidak akan aku lepaskan juga. Jadi jangan khawatir, siapkan saja semuanya. Bagimu itu pasti mudah, Ma.” “Jangan memaksanya, ingat itu.” “Jika tidak dipaksa, mau gimana? Dia pasti kabur, Ma.” “Mama tidak mau tau, pokoknya tidak ada paksaan, dan waktunya hanya satu minggu dari sekarang, brandal. Jika tidak, kau akan menikah dengan wanita itu. Camkan itu, Tama!” Maria menegaskan. “Oke, Mama.” “Ya sudah. Mama pulang. Lekas sembuh lagi, My Dear.” Mendadak Maria bersikap lembut dengan senyum keibuan di bibirnya. Tama hanya memutar matanya malas. Dia tahu apa yang ibunya mau. “Leon, pulang sama Grandma?” “Tidak mau. Mau sama Momy,” jawab Leon. Maria menatap Rheana lagi tapi kali ini dengan senyum yang tidak biasa. Dia berjalan menghampiri Rheana, meraih tangannya. Rheana heran, sedikit bingung juga. “Sampai jumpa lagi seminggu kemudian, Rheana. Aku tidak akan melepaskanmu kali ini. Jadi, buatlah skenario terbaik untuk kau lari,” katanya pelan tapi tajam. Rheana harus berpikir cepat mendengar apa yang baru saja dia katakan itu yang seketika melemparkan pada kenangan masa lalu. “I-iya, Tante. Aku akan membuatnya sebaik mungkin,” balas Rheana dengan senyum terpaksa dan tawa garing yang lolos dari mulutnya. Berbalas senyum dengan canggung, kedua perempuan itu bersikap aneh bagi Tama. Maria pamit setelahnya, mengecup lembut Leon, memeluk hangat Rheana yang justru kaku, bahkan mengecup singkat dahinya Tama sambil berbisik, “Kali ini tepati janjimu, berandal. Aku tahu siapa ibu kandung anakmu itu.” Tama hanya menghala napas. Bukan hal aneh jika ibunya tahu latar Leon. Karena wanita sekelas Maria Evander yang sudah terlatih di banyak hal, terutama urusan Intel, seorang ibu akan selalu hebat saat menemukan sesuatu yang janggal. “Akan aku buat cucu untukmu di rahimnya, Ma.” Tama menimpali enteng ibunya dengan gurauan yang sesungguhnya diaminkan oleh Maria diam-diam. “Camkan itu, Tama.” Tama hanya mengangguk. Karena dia tahu, Rheana Isyra Edwinar itu bukanlah tipe yang mudah ditaklukkan. Bertahun-tahun lalu, sebelum semuanya runyam, Tama sudah berusaha tapi nyatanya Rheana emang tidak mudah untuk takluk pada pesona. Sejauh ini, dia belum mengetahui kelemahan gadis itu yang sangat ingin sekali dia dapatkan. Usai Maria pamit, Rheana hampir pergi juga tapi Tama menegurnya untuk tetap tinggal. “Atau, aku akan membuat kekacauan.” Cih! Ancaman itu bagi Rheana cetek.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD