Seperti Tama Evander yang Rheana kenal bertahun-tahun lalu, pria itu terkenal dengan ‘bebal’, bahkan ibunya pun sering kali mengeluhkan kelakuan Tama yang hiperaktif dulu. Entah saat kecil, atau bahkan saat beranjak dewasa. Perbedaan umur Theana dan Tama itu tidak jauh, lima tahun adalah ideal. Bagaimana mereka bertemu? Lewat sebuah acara dinner yang diadakan oleh suatu perusahaan besar. Orang tua mereka diundang, para orang tua itu rukun sebagai sesama pebisnis, tapi bukan hubungan baik yang mereka berdua temukan, justru sebaliknya, bermusuhan sebab Tama terlalu jahil pada Rheana kecil.
Tapi meski begitu, jarak rumah mereka ternyata tidak begitu jauh yang membuat Tama sering sekali datang berkunjung hanya untuk menumpang makan. Alibi saja, sih. Dia hanya ingin mengganggu Rheana yang kala itu baru masuk sekolah menengah atas. Dengan kelakuan tengilnya, Tama menggoda Rheana, bahkan mengklaim bahwa dia adalah kekasihnya jadi tidak ada yang boleh mendekati Rheana. Sebab itulah Rheana kesal dibuatnya, pergerakannya merasa dibatasi.
Bahkan, setelah bertahun-tahun kemudian pun, kelakuan Tama ternyata sama saja. Sekalipun tak bertemu lebih dari lima tahun, dia tetap ‘bebal’. Sehari setelah dirawat dan operasi, Rheana dibuat pusing oleh laporan suster jaga di lantai naratama.
Langit sore menggantung kelabu saat Rheana melepas jas dokternya. Jam kerjanya sudah selesai. Rambutnya disanggul asal, mata lelahnya menatap berkas pasien terakhir di Unit Gawat Darurat. Belum sempat dia duduk sebentar sebelum pulang, ponselnya berdering, seorang perawat menghubungi.
“Dok, pasien ruang 307 hilang!” Lapornya.
Jantung Rhea mencelos.
“Apa?!” Dia memejamkan matanya, desah kasar. “Oke. Aku akan mencarinya.” Dia menutup panggilan begitu saja, lantas segera keluar dari ruangannya mencari sosok yang sejak tadi membuat jantungnya mencelos.
Rheana menyusuri setiap belokan lorong rumah sakit dengan napas cepat. Kenapa dia begitu panik? Sial. Karena kenal pria itu, Rheana jadi tak tenang. Apalagi, pengaruh Tama pada rumah sakit itu ternyata cukup besar. Bisa-bisanya dia kena pecat untuk pekerjaan yang diimpikannya sejak kecil dulu.
Walau Tama bagian dari masa lalu yang menyebalkan dan tak pernah selesai. Musuh yang suka mengganggu, menyindir, dan muncul di mimpinya saat dia sudah terlalu lelah untuk menyangkal. Terlepas dari itu semua, Tama adalah tanggung jawabnya sebagai dokter. Bagaimana mungkin dia mengabaikannya begitu saja?
Rheana mendapati Tama berdiri di depan ruang UGD, nyaris terhuyung kalau saja Rheana tak segera tiba di belakangnya. Diabmengenakan pakaian pasien dengan infus yang menggantung setengah longgar.
“Tama!” Rheana mendesis tajam, berusaha untuk tidak berteriak menegur pria itu.
Tama menoleh pelan, wajahnya pucat tapi malah tersenyum.
“Heh! Dasar gila! Aku bilang, istirahat, kenapa kau berkeliaran?” Rheana tak habis pikir. Dia lelah terus negur Tama yang bebal' sekali dengan aturannya.
Tapi pria itu hanya nyengir melihat Rheana yang marah.
“Apa kau GILA?!” Rheana nyaris membentak. “Kau bahkan belum boleh berdiri! Mau mati lagi, hah?”
Tama hanya tertawa kecil. Suaranya serak, tapi ada ketulusan yang sulit ditolak.
“Kalau aku mati, kau yang selamatin lagi, kan, Rhea?”
Rhea mengepalkan tangan mendengar itu.
“Dasar menyebalkan!” Desis Rheana sebab di sana banyak orang yang menonton. Bahkan perawat yang hilir mudik pun sesekali melirik mereka. “Ayo pergi ke ruanganmu dan istirahat,” ajaknya kemudian.
Tapi tangan Tama menahan pergerakan Rheana membuat sang dokter menatapnya jengkel.
“Jalan-jalan, Rhe,” pintanya persis anak kecil memohon pada sang ibu untuk bermain di luar rumah.
Rheana mengerjap, imutnya Tama sama sekali tidak cocok. Wajah cool, postur tubuh tegap dengan otot kuat yang tak begitu menonjol itu lebih menawan bahkan sekalipun dia mengenakan baju pasien rumah sakit. Tapi binar mata itu, soalnya Rheana rasanya tak bisa menolak.
“Pakai kursi roda. Aku akan meminta perawat untuk mengantarmu ke taman,” kata Rheana. Tapi Tama menghentikan pergerakannya.
“Nggak mau sama perawat, Rhe. Maunya sama kamuuu.”
Wah! Rheana dibuat merah padam dengan kelakuan Tama itu yang seperti anak kecil. Mereka jadi pusat perhatian.
“Kau menyebalkan sekali, sih, Tuan muda. Iya, iya, aku antar.” Rheana pasrah walau tubuhnya lelah ingin istirahat.
Tapi demi Tama yang tak akan berhenti berulah, dia mengalah. Mendorong kursi roda yang Tama duduki ke taman rumah sakit yang nyaris sepi. Sore mulai beranjak petang, seharusnya para pasien masuk ke ruang perawatan masing-masing tapi Tama justru sebaliknya.
“Nggak apa-apa, biar aku saja,” ujar Rheana ketika seorang perawat menghampiri, berniat membantu.
Mendorong kursi roda hingga ke tengah taman rumah sakit yang dibuat menyenangkan, ramah untuk pengunjung, pasien dan untuk siapapun asal mereka mau ikut merawat taman itu bersama dengan mengikuti aturannya.
Duduk di salah satu kursi taman, Rheana menempatkan Tama di depan, tapi pria itu bukan ingin menikmati taman, melainkan wajah sang dokter.
“Nggak usah aneh-aneh deh, Tam. Udah, liat langit aja, indah tuh,” tunjuk Rheana merasa grogi ditatap dalam oleh pria itu.
“Kau lebih indah, sih, Rhe. Cantik.”
Sialan! Rheana merasa pipinya panas. Dia yakin kulitnya pasti merah.
“Gila!” Sungut Rheana, mengindari tatapan Tama.
Pria itu tertawa.
“Leon mana?” tanya Rheana mencoba mengalihkan.
“Sama Mama. Dia maunya sama Momy. Tapi Momy nya belum takluk, masih seliar tupai,” jawab Tama dengan perkataan ambigunya.
Rheana menatap Tama datar. Pria itu terkekeh.
“Ya, sorry. Emang gitu, kok, Rhe. Kau itu … liar, tapi keren.”
“Muji ya muji. Hina ya hina, nggak usah muji lalu menghina. Kau membuat orang terbang, lalu nyungsep di got. Nggak lucu, Tam.”
Sekali lagi Tama tertawa, justru semakin lepas.
“Kau tak banyak berubah, ya, Rhe? Tetap menggemaskan. Aku jadi pengen gigit.”
Rheana mendelik pada Tama.
“Diem kau, Tam!”
Makin Rheana marah, semakin Tama gencar menggoda. Di latar langit senja yang beranjak petang itu tawa Tama mengudara dengan tatap lembut yang tak mampu Rheana elak bahwa dia … rindu?
Membuang muka sebelum Tama menyadari tatapannya yang sendu, Rheana mencibir kelakuan Tama sebagai penutup dari rindunya itu.
“Kau tak berbuah ya, Tam. Masih tetap menyebalkan,” sungutnya kesal.
“Manusia itu tidak mudah berubah, Rhea. Kecuali ada hal besar yang membuatnya berubah. Sedangkan aku, tidak. Perubahan terbesarku adalah, kau.”
“Nggak usah gombal. Istrimu cemburu nanti. Aku nggak mau kena semprot, Tama. Jadi cepat sembuh dan keluar dari sini.”
“Kau mengusirku, Rhea?”
“Ya. Sebab aku bosan denganmu.”
“Tapi aku masih rindu padamu, Rhea. Jadi, bisakah kau tak mengusirku?”
“Suka-suka akulah, Tuan muda. Kau menyebalkan.”
“Lagi pula, kau tak akan lagi jauh dariku, Rheana.”
Rheana menatap Tama.
“Apa maksudmu?”
Tapi pria itu hanya tersenyum miring. Menyebalkan sekali.
“Hei, anakmu tak mirip denganmu, Tam.” Tiba-tiba Rheana membelok topik, mengangkat hal yang membuat raut wajah Tama berubah seketika, keruh.
Rheana bungkam kala menyadarinya. Dia tahu raut wajah itu. Tubuhnya kaku setelahnya. Apa ada yang salah?