9. Dulu atau Sekarang

1176 Words
Kembali ke ruang rawat Tama di lantai naratama. Rheana sudah lelah, dia sangat ingin pulang dan tidur. Tapi tubuhnya ingin berendam di air hangat untuk melepas penat yang membebaninya. “Diam-diamlah di sini,” ujar Rheana. Dia sudah selesai jam kerja, sudah melepas jas dokternya. Jadi dia bukan lagi dokter yang bertugas meskipun para staf masih memanggilnya dokter. Tama menurut saja, duduk di ranjangnya. Membiarkan Rheana mengecek tetesan cairan infus, dan luka jahitan di perut serta lengan Tama. Memeriksa apakah ada yang terbuka karena Tama bandel sekali berjalan-jalan sepanjang rumah sakit yang besar itu padahal seharusnya dia berbaring saja sebagai pasien. “Lukamu aman,” ujar Rheana. Dia menutup baju Tama lagi. “Kenapa kau terus-terusan nyusahin aku, sih, Tam?” tanya Rhea dingin sambil mengatur selang infus. “Karena kau manis banget waktu marah. Nggak berubah dari SMA.” Rhea melirik tajam. “Satu-satunya yang nggak berubah dari kamu itu kelakuan bebalmu.” “Tapi kau ingat aku,” gumam Tama. “Itu aja cukup bikin aku senang.” Rheana berdecih. Seorang perawat datang untuk mengantarkan makan malam. Tapi Tama merengek minta disuapi Rheana. Dia bahkan tak peduli dengan perawat yang masuk dan menonton dengan heran. Perawat itu cengar cengir melihat kelakuan Tama yang mengendalikan Rheana. Padahal Dokter Rheana itu dikenal tegas, cerewet, tidak mau kalah, dan tidak ada yang bisa mengendalikan sikap liarnya. “Aku akan mengurusnya. Kamu bisa keluar sekarang, Angela,” titah Rheana tanpa embel-embel suster. Dia kesal karena perawat bernama Angela itu cekikikan sendiri. Di ruang rawat itu tidak ada siapa-siapa selain Tama. Leon di rumah ibunya pria itu. Biasanya asistennya datang untuk menemani tapi kali ini tidak. Yang menyebalkan bagi Rhea itu adalah manjanya Tama yang tak kira-kira. Dia cosplay jadi anak kecil. “Jiwamu ketukar Leon apa gimana? Ngeselin,” dumel Rhea sambil menyuapkan makanan ke mulut Tama. “Iya, Momy.” Soalnya Tama justru praktek dengan pose dibuat seimut mungkin. Rheana mual melihatnya, pura-pura nyaris muntah. Tapi Tama malah tertawa. Makan malam sudah selesai. Menjeda Beberapa menit, Rhea memberikan obat pada Tama agar di bisa istirahat dan lekas sembuh lagi. “Asisten yang biasa menunggumu itu ke mana?” tanya Rhea setelah menaruh ob*t Tama di atas nakas. “Sibuk. Dia ada tugas yang harus diselesaikan malam ini,” jawab Tama. Dia sudah berbaring di atas ranjang. Rheana mengangguk. “Kalau begitu, tidurlah. Lekas sembuh tuan muda.” “Hei, kau akan pergi?” Tama menahan pergelangan tangan Rhea. “Iya lah. Aku udah pulang dari tadi. Mau ke rumah ini, istirahat,” jawab Rheana seraya mencoba melepaskan genggaman tangan Tama tapi dia malah mengeratkannya. Tama terdiam. Dia tidak buta, tidak pula bodoh ketika dilihatnya wajah lelah Rhea. Gadis itu mungkin energik, tapi tetap saja ada gurat lelah di wajah cantik itu. “Temani aku sebentar,” pinta Tama sambil melepas tangan Rhea. Meski bingung dengan perubahan sikap Tama itu, Rheana memilih diam di kursi. Membiarkan Tama memejamkan mata. Dia yang mengatur ob*t untuk Tama jadi tahu kandungan serta dosisnya. Pria itu akan terlelap dalam beberapa menit. Hening. Rhea justru merasa aneh dengan diamnya Tama. Biasanya dia sering sekali merecoki. Padahal seharusnya, Rheana terbiasa dengan itu. Pertemuan mereka baru terjadi kemarin, tapi ternyata jejak kenangan dari masa lalu itu ikut terusik, membuatnya tidak asing dengan sikap Tama. “Kau mungkin tak ingat malam itu, Rhe,” kata Tama tiba-tiba. Rheana sempat tersentak. “Apa?” Matanya terpejam, tapi mulutnya bicara meskipun melantur. “Malam itu. Kita berdua, bertemu. Kita … tidur, bersama.” Mata Rheana membulat mendengar apa yang baru saja Tama katakan. “Kapan?” “Malam itu. Kau mabuk,” jawab Tama. Suaranya pelan, nyaris hilang sepertinya dia di ambang kantuk efek dari ob*tnya. Dahi Rheana mengerut, mencoba mengingat kapan dia mabuk. Lantas menatap Tama lagi yang matanya terpejam. “Kau … itu memang kau, kan?” Rheana bertanya memastikan, tapi satu menit, dua menit, bahkan tiga menit hingga menit ke lima sekalipun tidak ada sahutan dari Tama selain dengkur halus yang menandakan bahwa dia sudah masuk ke alam mimpi. “Sialan,” desisnya. Tapi Rheana bertanya-tanya apa mungkin malam itu memang Tama? “Sialan!” Rheana hanya ingat samar. Efek minuman yang dia habiskan malam itu terlalu banyak dan kuat sehingga mempengaruhi daya ingatnya, tengang cumbuan panas yang merenggut kesuciannya. Ada lega yang menyusup begitu tahu kalau Tama lah yang melakukannya. Memejamkan mata, dia mendesah tak percaya kala potongan demi potongan kejadian malam itu melintas di benaknya. Rheana malu tapi dia menatap Tama yang mulai lelap dalam tidurnya. “Ugh! Kenapa harus dia?” Rheana mendumel. Dia ingat permainan panas yang dilakukan mereka malam itu. Tapi dia tahu, ada yang jebol. Setelah memastikan Tama tidur, dia pun memutuskan untuk keluar dari sana. Memastikan laju air infus, Rheana melihat sekelilingnya, sepi. Jika Tama ditinggalkan sendirian, apa itu tdiak apa-apa? “Ah, ada perawat yang berjaga di luar,” katanya berbisik. Dia pun memutuskan keluar saja. Mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur di ruangan itu. Tapi dalam langkahnya ada jeda. Lorong rumah sakit malam itu sunyi, hanya suara monitor dan langkah perawat yang lewat sesekali. Di balik ketegangan hatinya, ada denyut perasaan yang pelan-pelan menyusup ke ruang hening di antara tanya yang bersemayam. Meski mulutnya berkata benci, nyatanya tubuhnya tidak. Hatinya apalagi, walau kenangan mereka banyak menyebalkan, tak dipungkiri jika ada jejak di dalam hati. Rhea tetap Rheana yang tahu kapan dia bilang tidak. Tapi sepertinya sekarang dia tidak bisa pergi begitu saja setelah melihat sekali lagi bahwa ruang rawat Tama tidak ada siapapun. “Yakin nggak rehat?” Suster Angela mengagetkan Rhea yang berdiri di depan ruangan itu. Sang dokter yang sempat berjengit itu mendelik. “Nggak ada kerjaan?” tanyanya. “Ada, sih, mau cek direktur,” jawab sang suster. Ah, Tama dikenal sebagai direktur rumah sakit itu per hari saat dia masuk sebagai korban kecelakaan. Para petinggi jajaran rumah sakit itu sudah datang berkunjung, dan sejujurnya Rhea muak saat para petinggi rumah sakit penjilat itu mewanti-wanti Rheana agar tidak berbuat ulah. Tapi mereka tidak tahu, semakin Rheana dilarang, semakin ingin melewati batasnya. “Masuklah.” Rheana membuka pintu kamar rawat Tama untuk Angela. Suster muda itu cengengesan. Dia menarik Rheana sekalian ke dalam ruangan. “Temani,” bisiknya hati-hati berjalan ke tempat tidur Tama. Rheana sih santai saja, hanya para perawat yang merasa tertekan dengan segara perintah yang ada dari atas. “Tensinya normal. Ventilator juga normal. Tidak ada yang salah, Dokter,” bisik Angela melapor. Rheana menatapnya. “Laporkan besok. Pergilah.” Angela mengangguk tapi dia sempat melempar senyum jahil pada Rheana. “Selamat malam, Dokter,” ucapnya pamit. Tentu, tidak ditanggapi Rheana sebab dia tahu makna dari senyum tipis itu yang menggoda. Angela bertugas di lantai naratama, jadi dia tahu skinsip yang dilakukan Tama terhadap Rheana, itu sebabnya Angela kerap menggoda. “Entah dulu, entah sekarang, kau tetap menjadi pusatnya. Nggak bosan atau apa?” katanya Rheana sedikit jengkel. “Menyebalkan,” sahut Tama dalam pejaman matanya itu. “Tapi kadang menyenangkan,” lanjutnya sambil membuka matanya. Rheana berdecak, dia tahu Tama tak benar-benar tidur. Tapi dia diam saja atau Angela berulah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD