⚡D u a⚡

724 Words
"Bagaimana para saksi, sah?" "Sah!" Ah, sial. Aku saat ini sudah menjadi istri Prabu Mahaputra Sanjaya. Om-om galak, kejam, dan otoriter. Agak enggak terima sebenarnya, tapi aku enggak punya pilihan lain selain menjadi istrinya. Pintu kamarku dibuka, Om Prabu yang masih menggunakan jas berwarna putih menghampiriku. Dia mengulurkan tangannya, memberikan kode agar aku menyalaminya. "Aku enggak mau!" Tanpa permisi, dia langsung mengambil tanganku dan mendekatkan tangannya ke wajahku. Memaksaku agar menyalaminya. Dia juga membacakan doa-doa, sedangkan aku hanya diam saja. Mendengarkan pun tidak. "Luvita dengar saya," Om Prabu menarik daguku sehingga kepalaku menghadap ke arahnya, "sudah dibagian tubuh mana saja pacarmu menyentuhmu?" Kalimat pertama yang dia lontarkan setelah kami berdua menjadi sepasang suami-istri. Dia kayanya dendam banget sih sama pacar aku, sampai baru juga menikah, hal itu yang dibahas. "Jawab!" ucapnya dengan tatapan mata yang tajam. "Tangan." "Saat kamu ketahuan ciuman, berarti dia juga sudah menyentuh bibirmu." "Cuma kecupan." "Mau kecupan sekalipun enggak boleh!" sentaknya "Jangan pernah mau disentuh sama pria mana pun lagi!" Baru juga jadi istrinya, aku sudah kena mental. Pria itu menggenggam tanganku dan memaksaku untuk keluar. "Tebar senyum. Jangan malu-maluin saya." Akhirnya aku tersenyum, bukan karena perintah Om Prabu, tetapi karena aku enggak mau jadi omongan para tetangga. Tetangga di kampungku hobi gosip. Jadi, aku berusaha membuat mereka seolah mempercayai bahwa aku benar-benar menginginkan pernikahan ini. "Masih enggak percaya. Prabu dan Luvita yang dari kecil kaya kucing dan anjing, akhirnya menikah," Mak Puput menyentuh bahuku, "namanya jodoh enggak ada yang tahu ya." Aku hanya tersenyum membalasnya. Bodo amatlah. Dia ngomong begitu karena enggak tahu apa yang terjadi sebenarnya. "Kucing dan anjing katanya," ucap Om Prabu saat Mak Puput turun dari panggung pelaminan. "Iya. Kamu anjingnya, aku kucingnya." "Bukannya kamu? Yang sering berteriak-teriak siapa? Berteriak kaya gonggongan anjing." Aku menghela napas berat lantas memilih diam. Malas meladeninya. ••• "Maksudnya apa ini?" ucapku saat masuk ke dalam kamar Om Prabu, "maksudnya apa ranjang cuma satu!?" Tanpa malu Om Prabu mengganti kemejanya dengan kaus di depanku . "Enggak ada maksud apa-apa. Kamar saya memang cuma ada satu ranjang. Normalnya kamar memang begitu." Aku menggeleng tidak terima. "Enggak! Tadi Om minta aku buat tidur di sini, di kamar Om. Aku pikir sudah disiapkan ranjang buat aku juga, tapi ternyata enggak. Enggak mikirin apa aku tidur di mana!?" Om Prabu menunjuk ke arah ranjang. "Ranjang saya besar. Bisa buat berdua." "Om jangan cari-cari kesempatan!" "Enggak cari kesempatan," dia menarik tanganku agar duduk di tepi ranjang, "kita suami istri, Luvita. Wajar satu ranjang." "Wajar bagi suami-istri yang menikah karena cinta, tapi enggak untuk kita. Aku menikah sama Om enggak lebih karena terpaksa." Om Prabu terdiam, menatapku dengan sorot mata tajam. Rahangnya mengeras. Aku tahu dia marah, tetapi aku acuh. Aku memilih untuk berdiri lantas berjalan ke arah luar. "Aku mau tidur di kamarku aja!" "Berani kamu keluar, saya enggak mengizinkan kamu untuk kuliah di Jakarta!" Dia pikir, ancamannya ampuh? Enggak. Enggak sama sekali. Tanpa mengindahkan ucapannya, aku langsung berlari dari rumahnya dan masuk ke dalam rumahku. Bapak yang sedang menonton televisi menatapku dengan heran, sebelum Bapak bertanya aku langsung masuk ke dalam kamarku dan memejamkan mata. Tiba-tiba suara pintu terbuka, mungkin itu Bapak jadinya aku semakin memejamkan mataku. Berpura-pura kalau aku sudah tertidur. "Luvita," suara bisik dan dilanjutkan dengan sebuah tangan yang melingkari pinggangku, "mau pindah ke kamar saya dengan berjalan atau saya gendong?" Aku mengindik ngeri. Buru-buru aku melepaskan tangannya dari pinggangku. "Aku mau tidur di sini!" "Mau pindah ke kamar saya dengan berjalan atau saya gendong?" tanyanya mengulang, "saya gendong aja ya? Biar Bapak lihat kalau kita romantis." Idih. Romantis apaan. Paksaan ini mah. Tiba-tiba tangan Om Prabu sudah berada di kaki dan juga punggung bersiap untuk menggendongku. "Iya! Iya! Jalan sendiri aja Om, jangan digendong." Aku mengalah akhirnya dan menurutinya untuk kembali pindah ke kamarnya. Sebelum keluar, Om Prabu mengambil botol handbody dari kamarku. Entah untuk apa. "Kenapa kok bolak-balik?" tanya Bapak saat kami berpapasan di ruang televisi. "Ini," Om Prabu menunjukkan botol handbody di tangannya, "mau ambil handbody aja. Luvita mau pijatkan saya pakai handbody, Pak. Makanya kami ambil dulu di kamar." Apaan? Malas banget aku pijat badan dia, badan aku sendiri aja sudah pegal-pegal. Dan aku semakin cemberut saat Bapak tersenyum penuh arti. "Kalau misalnya sebelum lulus kuliah Luvita sudah hamil, Bapak enggak keberatan. Malah Bapak dukung." Refleks aku langsung menggeleng dan menyentuh perutku. Amit-amit kalau harus mengandung anaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD