Setelah mencarinya kemana mana akhirnya aku menemukan Risya di lantai hotel paling atas, disana tempat fasilitas hotel yang disiapkan untuk para penginap seperti kolam renang, tempat Gym, Sauna, dll.
Sekarang pukul 11 malam aku melihat dia berada di kolam renang dengan pakaian yang sama seperti tadi di toilet. Ternyata teman temannya melanjutkan acara mereka dengan berpesta disana.
Aku memperhatikannya dari jauh dia sedang bersama tiga orang perempuan ku yakini mereka teman teman modelnya terlihat dari postur tubuh serta pakaiannya.
Aku masih memperhatikannya dari jauh ku ambil minuman dari pelayan yang lewat. Mataku fokus memperhatikan gerak gerik dia.
Kulihat ada pria yang mendekati ke empat wanita itu dia langsung merangkul wanita yang berada disebelah kanan Risya.
Aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan karena suasana cukup ramai dengan suara musik yang cukup keras. Pria itu menatap d**a wanitaku intens, kurang ajar.
Aku hampir saja mendekati dan menghajarnya kalau saja pria itu tidak segera pergi dari hadapan Risya.
Dia merangkul pinggang teman Risya itu dan meninggalkan Risya dengan yang lain dan aku masih melihat tatapan mesumnya mengarah pada payudaranya sebelum dia pergi.
Sial, kenapa Risya harus memakai pakaian seperti itu sihh. Aku mendengus, tentu saja karena dia menyukainya seperti tidak tahu saja.
Kulihat satu persatu temannya mulai pergi meninggalkan dia sendiri.
Lalu dia meminum minuman dari yang dibawa pelayan dalam sekali tegukan.
Kemudian dia terus terusan mengambil minuman itu dari pelayan.
Tubuhnya mulai oleng dan tangannya bertumpu pada meja disekitarnya. Dia memegang pelipisnya kurasa dia sedang pusing sekarang karena terlalu banyak minum alkohol.
Saat aku akan menghampirinya ponselku berbunyi.
Tring tring tring..
Sial! Siapa sih yang nelpon.
Aku mengambil ponsel dari saku celanaku. Kulihat siapa yang memanggil oh astaga ternyata klienku. Aku melupakan dia langsung saja kuangkat ponselku.
"Hallo, maaf pak, sepertinya kita tidak jadi meeteng sekarang soalnya saya ada urusan mendadak."
Aku berbicara tanpa mendengarkan dulu apa yang dia katakan dan langsung menutup panggilan.
Kembali mataku melihat Risya. Dia sudah mulai melantur dengan tangan yang melambai lambai.
Lalu ada dua orang pria yang menghampirinya dan mulai menggoda Risya dengan menyentuh b****g seksinya aku langsung berlari ke arah mereka dan menyingkirkan tangannya yang hendak kembali meremas p******a wanitaku. Enak saja, aku saja harus memperkosa dulu kalau mau meremasnya.
Ku hajar mereka satu persatu.
"Eh Lo siapa hah main tonjok aja?" Dia terlihat sangat tidak terima.
"Gue pacarnya, mau apa Lo. Awas saja kalo Lo masih berani nyentuh dia lagi" gertakku.
"Halah baru pacar doang" tangannya bersiap akan menonjokku balik tapi aku langsung menangkisnya. Ku pelintir tangannya dengan membalikan tubuhnya dia meringis kesakitan.
Satu orang temannya akan menyerangku tapi kalah cepat dengan kakiku yang menendang tulang keringnya. Dia tersungkur lalu dengan kesakitan dia pergi.
"Bro ayo pergi" dia mengajak temannya yang saat ini masih ku pelintir tangannya. Lalu kehempaskan dia kelantai dan dia langsung ambruk. Dia pergi dengan merangkak menjauhiku.
Aku menyeringai menatap mereka.
Kualihkan pandanganku, Risya akan terjatuh dan aku bergerak cepat menahan lalu menggendongnya ala bridal style. Dia mengamuk dengan memukul mukul dadaku.
"Aku benci kamu mas, aku benci" teriak Risya.
"Kamu sangat jahat mas, kamu menghianati adikmu sendiri. Kamu jahat" kakinya diayun ayunkan mencoba untuk turun dari gendonganku.
Aku melangkah ke arah lift khusus petinggi disini.
Setelah lift terbuka aku langsung masuk dan memencet tombol 43.
Dia masih memberontak dengan meracau tak jelas.
"Awas kamu mas akan kupotong kemaluanmu jika kamu terus memperkosa aku, akan ku goreng dan kuberikan pada anjing penjaga rumahku" aku meringis mendengar ucapannya. Ngeri juga.
" tapi kalau suamiku tahu aku sering dilecehkan olehmu gimana mas" kini dia menangis sambil sambil mencengkram kerah kemeja ku.
Kenapa wanita kalau mabuk sangat menyebalkan sekali sih?
"Mas jawab mas gimana?!!" Dia semakin tak terkendali.
Aku menatapnya kasihan kalau saja kamu tahu apa yang dilakukan suami bajinganmu dibelakang sayang. Kupastikan kamu memilihku.
Haha pede sekali kamu randi. Batinku protes.
Setelah sampai dikamar hotelku aku langsung membaringkannya di kasur dan Kubuka hillsnya.
Dia sekarang mulai terlelap Setelah 10 menit terlelap tiba tiba dia bangun.
Huweekk....
Dia memuntahkan alkohol yang diminumnya ke lantai, aku membantu dia dengan memijit belakang lehernya setelah selesai aku mengelap mulutnya dengan tisu lalu dia kembali tertidur.
Aku mengambil air di baskom dan membawanya ke kamar, ku elap kembali mulutnya dengan handuk basah. Aku mengambil telepon kamar dan memanggil cleaning service untuk membersihkan bekas muntahannya.
Setelah selesai aku membuka bajunya yang terkena muntahan dan menyelimutinya dengan selimut sebelum aku hilaf. Hehe..
Aku membuka pakaianku dan segera mandi karena badanku sangat lengket setelah selesai aku mengambil kolorku dan tidur di sebelahnya.
Ku amati wajahnya yang tirus dia sangat cantik dengan hidung mancung, mata belo, dan bibir tebalnya. Apakah dia operasi plastik? Kenapa tampak sempurna seperti ini belum lagi dadanya yang besar turun naik dengan teratur pertanda dia sudah pulas sekali.
Kupeluk tubuhnya sambil menciumi pipi, bibir dan lehernya aku sungguh gemas sekali hingga aku sendiri pun tertidur.
****
Pukul 8 pagi aku bangun, aku langsung terkejut ketika wanitaku tidak berada di tempat tidur. Aku langsung bangun mencarinya Keseliling kamar tapi sayup sayup aku dengar seseorang di dalam kamar mandi.
Huweek... Huweek...
Oohh...Syukurlahh...
Aku mengusap d**a lega lalu kembali lagi ke tempat tidur, aku tersadar kembali karena Risya terdengar seperti orang muntah muntah. Kubuka pintu kamar mandi dengan cepat dia menoleh dan
"Aaaaa...."
Dia yang telanjang berdiri didepan wastafel langsung menjerit saat aku menerobos masuk kamar mandi.
"Ngapain kamu masih disitu mas, cepet keluarrrr..." Dia berteriak, aku gelagapan seperti sedang ketahuan mencuri padahal ini dikamar ku sendiri.
"Nggg... Kamu tidak apa apa kan??"
Akhirnya suaraku lolos juga.
"KELUAARRR"
Ohh astagaa, aku langsung keluar dengan cepat setelah mendengar jeritannya.
Aku yang orangnya tidak sabaran menunggu dia dengan berjalan bolak balik layaknya setrikaan.
Setelah menunggu dia selama hampir 10 menit di luar kamar mandi dengan memakai handuk pendek sontak saja aku terpana dengan kejantananku yang mulai tegang.
Siall.. kenapa seksi sekali sih. Aku menggerutu dalam hati.
Begini aja seksi apalagi kalo tel-
"Mmm... Mas kali ini kamu harus jelasin sesuatu kenapa aku bisa ada di kamar ini, setahuku ini bukan kamarku"
Dia membuyarkan gerutuan hatiku. Dia menatapku seperti mencurigai sesuatu.
"Ohh tidak tidak aku tidak memperkosamu lagi"
"Maasss..."
"Eh oh iya maksudnya akan kujelaskan setelah kita sarapan. Aku sudah memesan sarapan"
Aku melangkahkan duluan mendengarkan dia yang berdecak kesal dan menghentak hentakan kakinya.
"Mas aku gak mau sara-"
Risya kembali bersuara dan aku langsung memotongnya.
"Tidak. Kamu harus sarapan dulu kalau mau mendengar penjelasanku" ucapku tegas.
Dan dia langsung cemberut, oh manisnyaa. Aku tersenyum dalam hati, sepertinya ini keajaiban kami seperti suami istri saja yang bertengkar dipagi hari. Hehee...
Aku duduk di kursi yang sudah disiapkan pelayan didekat balkon. Aku sangat suka sekali sarapan didekat balkon.
Risya mengikutiku dari belakang dan langsung mendaratkan b****g seksinya ke kursi dihadapan ku, aku sengaja hanya menyiapkan dua kursi saja. Dia masih cemberut dan memakan sarapannya dengan cepat dan lahap..
"Udah, cepet jelasin" kulihat piringnya yang sudah tandas. Bahkan aku belum memakan sarapanku sama sekali.
"Sebentar sayang aku makan dulu yaa.." aku memakan roti dengan selai kacang kesukaanku setelah itu meminum kopi.
"Kamu mau dijelasin apa?"
"Semuanyaaa."
"Jadi semalam kamu lari dari toilet restoran ga tau kemana trus aku cari kamu keseluruh hotel ternyata kamu ada di kolam renang lantai atas dan kamu mabuk. Udah"
Aku menghela nafas lelah rasanya ini omongan terbanyak aku kepada seseorang. Aku menaikan alis ketika dia terlihat tidak puas dengan penjelasanku.
"Mass ihh, trus aku kenapa dibawa kesini?? Dan kenapa aku telanjang di kasur mu???" Dia kembali memberondong pertanyaan, dasar wanita.
"Karena aku tidak tahu kamar tempat kamu menginap dimana lalu baju kamu terkena muntahanmu sendiri oh ya dan satu lagi bra dan CD kamu kan udah aku robek"
Tentu saja untuk bagian kamar aku berbohong, Kulihat wajahnya memerah setelah aku mengatakan kalimat terakhir, aku menyeringai.
"Sudah ingat?"
"Stop!! Aku tidak mau mengingatnya, sekarang mana bujuku aku mau pergi dari sini" dia terlihat kesal cepat sekali dia merubah ekspresinya. Aku jadi semakin gemas padanya.
"Baju kamu udah aku buang"
"Hah.. Ka ka-mu buang mas??" Risya terlihat syok.
"Iya, kenapa?" Aku menaikan satu alisku padahal kan aku sudah membelikannya baju ganti yang banyak dan lebih layak.
"Baju itu pemberian dari mas Ardi mas, kenapa kamu buang" sekarang wajahnya terlihat sedih dan merasa bersalah.
"Sudahlah, aku sudah membelikanmu baju yang layak untuk mu. Tuh di kasur"
"Tapi mas-"
"Sudah aku mau mandi" aku bangkit berdiri dan menuju kamar mandi kudengarkan dia yang sedang menggerutu, aku sangat menyukainya ketika dia sedang bawel seperti ini.
Aku masuk ke kamar mandi dan memulai ritual mandi ku.
"MASSS KOK KAMU TAHU UKURAN DALAMANKU"
****