Randi Satria Sandy

1244 Words
Aku Randi Satria Sandy anak pertama dari dua bersaudara. Adikku Ardi telah menikah sedangkan Aku masih melajang diusia yang sudah menginjak kepala tiga lebih. Aku bukannya tidak laku, hanya saja aku orangnya pemilih kalau untuk urusan serius, ya menurutku pasangan adalah urusan serius karena ini menyangkut kehidupan aku dimasa depan kelak. Menurutku Ardi terlalu terburu-buru dalam menikah. Tapi tidak masalah untukku toh dia yang menjalaninya, hanya masalahnya adalah dia menikahi orang yang selama ini kucari. Ya, Risya adalah pasangan sempurna untukku bukan untuk Ardi. Awalnya aku tidak tertarik dengan Risya tapi setelah dua tahun ini aku selalu mengamati gerak geriknya yang sopan dan ceria. Tapi berbeda dengan penampilannya yang selalu tampil menggoda, aku tidak heran apalagi dia dulunya bekerja sebagai model majalah dewasa baginya tampilan dirinya adalah nomer satu tapi ternyata aku salah bukan hanya itu yang mendasarinya untuk selalu berpakaian terbuka, ternyata Ardi juga selalu ingin memamerkan keindahan tubuh Risya. Dasar adik bodoh. Kalau aku jadi dia aku tidak akan rela tubuh istriku dinikmati pria lain. Memang si bodoh itu terlalu dungu untuk menyadarinya. Bagaimana bisa dia enjoy saja ketika Risya digoda pria lain dihadapannya. Ya, aku tahu ini karena aku selalu memperhatikan mereka berdua jika dirumah orang tuaku atau saat kami pergi ke suatu acara bersama. Perlahan tapi pasti lekukan tubuhnya yang selalu memakai pakaian seksi membangunkan gairahku. Aku semakin mengamatinya dan lama lama aku tergoda untuk mencicipi tubuhnya. Bukan hanya karena nafsuku saja tapi hatiku juga ikut teralihkan kepadanya, aku merasa kasihan kepadanya yang terus dipojokan mama dan keluarga yang lain karena belum hamil sampai saat ini. Bahkan jika ada acara keluarga Risya seakan tak dianggap. Aku tidak ada hak untuk membelanya tapi Ardi yang mempunyai hak untuk membela Risya malah mengabaikannya seolah itu hanya masalah biasa. Hal ini juga yang mengakibatkan dia masih diposisi direktur saat ini karena sifatnya yang selalu menganggap remeh hal hal serius. Pernah aku menemukan Risya yang menangis sendirian ditaman belakang rumah orang tuaku aku tidak heran jika dia menangis pasti karena terus dipojokkan, tapi lambat laun Risya semakin cuek dengan keluargaku yang selalu memojokinya. Dia bangkit dan mencoba tegar jika ada yang mencemoohnya. Aku salut padanya, aku semakin mengaguminya bukan hanya parasnya yang cantik tapi juga hatinya dan Ardi sebagai suaminya tidak pernah melihat itu. Aku membenci Ardi karena selalu mengacuhkan Risya. Hubunganku dan Ardi memang dari dulu hanya sebatas pekerjaan, jika dirumah aku bahkan tidak pernah berbicara kepadanya atau mungkin dia yang selalu menghindari ku karena aku hanyalah anak dari simpanan ayahku. Aku bisa tinggal satu rumah dengan Ardi karena ibuku telah meninggal akhirnya aku tinggal bersama ayahku Hendry dan mama Lusy. Aku tidak menyesal dengan statusku yang hanya anak dari orang simpanan, karena itu aku bekerja keras sendiri membangun perusahaan di bidang perhotelan meskipun awalnya modal diberikan oleh ayahku tapi aku sudah melunasinya, aku membuktikan pada keluarga ayahku bahwa aku bisa. Tidak ada lagi yang mencemoohku bahkan sekarang mereka segan terhadapku karena sikapku yang dingin terhadap semua orang. Aku tidak akan mengambil posisi CEO diperusahaan ayahku biarkan Ardi yang menempatinya aku sama sekali tidak berminat meskipun ayahku memaksa. Aku memang terlambat mengenali Risya, karena dulu aku terlalu sibuk mengembangkan perusahaanku. Sekarang aku bertekad untuk merebut Risya dari Ardi atau bahkan aku tidak perlu susah susah merebutnya karena Ardi sendiri telah membuang berliannya. Aku semakin menyeringai aku tidak pernah main main dengan tekadku. Apalagi lekuk tubuh Risya dan wajah cantiknya semakin memenuhi pikiran ku sampai aku tak fokus saat bekerja dan jangan lupakan nikmat bercinta dengannya. Hhh... Membayangkannya saja membuatku b*******h. Memang aku salah telah menyetubuhi adik iparku sendiri tapi percayalah aku sudah tidak bisa menahannya. Oh ya, hari ini aku pergi ke rumah Risya tapi aku tidak menemukannya yang ada hanya Ardi yang sedang bercinta dengan yang katanya sahabat kecilnya, menjijikan sekali. Aku langsung pergi untuk menenangkan emosiku, aku berjanji akan merebutnya. Aku pergi ke hotel Ku yang berada di Bandung sekaligus aku akan refresing sesudah mengecek keadaan hotelku. Setelah sampai aku langsung disibukan dengan pekerjaanku hingga aku lupa makan siang dan sekarang sudah jam makan malam. Akhirnya aku mengajak klienku untuk  meteeng sekaligus makan malam. Aku memilih makan di ruangan VIP karena ruangan itu sangat privasi dan sangat cocok untuk meeting. Setelah meeteng aku melihat di ruangan VIP lain yang sangat gaduh mereka saling bercanda ria tiba tiba ada yang keluar dari ruangan itu seorang perempuan berbaju merah yang seksi dia berjalan sambil menunduk membersihkan pahanya memakai tisu Aku merasa mengenali wanita ini dan entah kenapa aku langsung membuntutinya dari belakang. Ternyata dia hendak ke toilet, aku mengintip dari balik pintu toilet yang terbuka. Oh ya ampun, ternyata wanita itu adalah Risya. Jodoh memang tak kemana aku pun tersenyum tapi tidak bertahan lama karena aku baru menyadari dia sedang menunduk membersihkan pahanya dengan tisu yang di basahinya dari wastafel yang otomatis membuat dressnya terangkat dan memperlihatkan celana dalamnya dan sebagian b****g indahnya. Dasar bodoh, bagaimana kalau ada pria lain yang lewat sini. Aku langsung masuk dan mengunci pintu, memeluk tubuhnya dari belakang belahan bokongnya persis berada didepan kejantananku yang mulai mengeras. Gerakan dia terhenti dia menegakan dirinya yang langsung melihat aku dipantulan cermin dihadapannya. Aku menyeringai melihat dia yang terkejut dan semakin mengeratkan pelukanku takut dia kabur. Dia mencoba melepaskan diri dariku tapi gairahku malah semakin meningkat karena gerakannya. Aku langsung bertindak untuk memberinya rangsangan di organ sensitifnya dan ternyata dia mulai melemah setelah titik sensitifnya kumasuki dengan ketiga jariku. "Ahh.." desahannya indah sekali Dia menyederkan kepalanya di bahu ku dan itu semakin memudahkan aku untuk mencecap leher jenjangnya. Akhirnya aku membawa dia ke closet dan bercinta didalam sana. Setelah aku dan dia merasakan pelepasan bersama dia terlihat linglung aku membantunya membersihkan selangkangannya yang penuh dengan spermaku dan dirinya. Dia menurut juga saat aku pakaikan pakaiannya dan setelah itu aku memakai celanaku sendiri. Kami keluar dari balik closet, dia melihat pantulan dirinya yang acak acakan dengan rambut yang lepek karena keringat. Seketika aku dilanda perasaan bersalah melihatnya dalam keadaan seperti ini. Apalagi sekarang dia menangis histeris dan mengacak acak rambutnya sendiri aku memeluknya mencoba menenangkan dia, menyalurkan perasaan bahwa aku akan menjaganya. Setelah beberapa saat dia tidak sehisteris tadi dan mulai melepaskan pelukanku dengan perlahan dalam diamnya. Ya Tuhan, aku sangat merasa bersalah sekali telah membuatnya menjadi seperti ini. Dia menatap benci ke arahku membenarkan pakaiannya dan pergi meninggalkan aku yang terpaku menatap kepergiannya. Aku menjambak rambutku seperti apa yang dia lakukan tadi. Bodoh bodoh bodoh bodoh sekali kau Randi. Batinku menyalahkan. Apa yang telah kulakukan tadi astaga. Dan bodohnya lagi aku malah berdiam diri disini tanpa mengejar Risya yang terlihat kalut. Oh tidak, bagaimana kalau terjadi sesuatu terhadapnya. Aku langsung mengejarnya ke ruangan tempat dia teman temannya berkumpul tapi disitu hanya terlihat pelayan yang sedang membersihkan meja dan piring yang berantakan. Aku keluar dari restoran ruang VIP dan berlari mencarinya kesana kemari. Hingga aku tersadar kenapa aku tidak menanyakannya kepada resepsionis, aku langsung berlari kelantai dasar dan menanyakan di kamar nomor berapa dia menginap. Setelah mendapatkannya aku langsung bergegas menuju lantai dimana kamarnya berada. 995 996 997...Dan 998 Ya kamarnya berada di nomor 998. Ku ketuk pintu kamarnya tapi tidak ada yang membukanya, ku ketuk sekali lagi bahkan terdengar menggedornya tapi tidak ada yang membukakan pintu. Aku semakin tidak sabar, ku keluarkan kartu andalanku sebagai pemilik hotel ini dan langsung ku gesekkan dipintu. Setelah terbuka aku masuk dan mencarinya di seluruh seisi ruangan kamar tempat dia menginap, sampai kubuka buka lemari di walk ini closet nya. Tapi hasilnya nihil. Aku keluar dengan langkah gontai. "Kamu dimana sayang." Suara terdengar lirih. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD