Kesempatan

1509 Words
Author POV Risya berjalan ke toilet yang berada satu lantai di ruangan VIP tempat mereka makan malam. Setelah sampai dia langsung membersihkan pahanya yang lengket karena terkena tumpahan kuah kari. Keadaan toilet sangat sunyi, hanya ada dirinya disini, Risya bergidik ngeri. Takut juga dia kalau sendirian seperti ini. Gak lucu kan kalau tiba-tiba ada yang mengejutkan dirinya. Cepat-cepat dia mengalihkan pikirannya agar tidak berpikiran mistis. Sedikit menunduk dia membersihkan tumpahan di pahanya itu. Beruntung dia memakai dress mini ini, hingga pakaiannya tidak sampai terkena tumpahan kuah kari tersebut. Setelah selesai, dia tersenyum. Lalu mulai mengeringkan tangannya menggunakan tissue yang tersedia disana. Sedang asyik-asyiknya mengeringkan tangan. Tiba tiba ada yang seseorang yang memeluknya dari belakang. Risya terkejut bukan main. Lalu tatapannya menatap lurus pada cermin di depannya.  Lantas bola matanya melebar sempurna, dia tidak menyangka akan bertemu kakak iparnya disini. Degup jantungnya seketika bertalu-talu. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Setelah beberapa detik terpaku, dia pun tersadar. Dihempaskannya tangan kekar yang memeluk pinggangnya tersebut. Lalu langkahnya bergeser agar tidak terlalu dekat dengannya. Wajahnya tegang bukan main. Dia sangat takut jika Randi akan berbuat hal yang tidak menyenangkan lagi kepada dirinya. Apalagi jika melihat keadaan sunyi seperti ini. "Mau apa kamu kesini?" Ucapnya gugup setengah mati. Randi tersenyum menanggapi, lalu dia akan meraih tangan Risya. Namun, sekali lagi Risya menghindar. Dia tidak mau ada orang yang melihat mereka dan menimbulkan salah paham. "Jangan coba-coba dekati saya!" Ancamnya tak gentar. "Hallo, sayang!" Sapa Randi dengan santai. Lalu dia memasukkan tangannya pada saku celana. Lantas bersandar pada tembok di belakangnya. "Please, jangan ganggu aku lagi. Aku takut ada orang yang mengenali kita dan melihat semuanya hingga menimbulkan kecurigaan. Jadi, aku mohon, mas. Tolonglah berpikir yang jernih." Kini Risya sudah putus asa menghadapi sifat bebal kakak iparnya ini. Memang Dia tidak banyak tahu tentang Randi. Namun sekarang dia baru tahu, kalau ternyata Randi sangat bebal dan berperilaku seenaknya sendiri. "Gak ada orang disini, sayang. Oh ya, lagian suamimu juga tidak ikut. Jadi, kita bisa bebas dong." Ucapnya dengan nada menggoda. Cih. Rasanya saat ini Risya seperti akan muntah mendengar kalimat menjijikkan itu. Apalagi kalimat tersebut keluar dari mulut kakak iparnya sendiri. Sangat menjijikan bukan. Menggoda dengan memaksa, lalu dilakukan dengan wajah datar sungguh perpaduan yang epik sekali. "Jangan harap kamu bisa berbuat seenaknya sendiri, ya, mas. Jika kamu terus seperti ini, akan ku adukan kamu pada papa dan juga mas Ardi." "Oh ,ya. Adukan saja, aku tidak takut. Mungkin mereka akan terkejut, namun kamu lebih terkejut lagi jika mengetahui semuanya." "Apa maksudmu?" Satu alis Randi terangkat. Lalu dia menyeringai. "Kamu mau tahu?" Tanyanya, sok misterius. Risya mengangguk tak sabar. "Sini biar aku bisikan." "Tidak perlu. Aku harus segera kembali, teman-temanku menunggu!" Seolah tahu maksud Randi, dengan cepat Risya berbalik untuk segera meninggalkan kakak iparnya yang gila itu. Padahal masih banyak wanita-wanita cantik nan seksi di luar sana, tapi kenapa dia harus mendekati Risya yang jelas-jelas adalah adik iparnya sendiri. Apa namanya kalau tidak gila. Beruntunglah Risya masih waras, hingga dia tak termakan bujuk rayunya. Wajahnya memang tampak, dan berkarismatik. Tapi, kelakuannya sungguh minus. Itulah yang Risya tidak suka darinya. Sungguh tidak ada sopan santunnya sama sekali, meskipun dia lebih muda darinya. Tak disangka, Randi mencengkeram pergelangan tangannya hingga membuat Risya kembali berbalik. Lalu dengan cepat, Randi membekap mulut Risya dengan mulutnya. Risya terkejut, dia ingin berteriak namun tindakannya telah salah. Dia sudah membuka akses untuk kakak ipar gilanya bermain lebih jauh dengan lidahnya. Risya memberontak, memukul-mukul Randi dengan tenaganya yang tak seberapa. Wajahnya memerah, bukan karena gairah namun karena asupan udaranya berkurang. Dia sudah kehabisan napas, tapi dengan gil* nya Randy masih tetap saja mencumb* dirinya. Risya mendorong tubuh Randi sekuat tenaga. Usahanya berhasil atau memang karena Randy mengalah. Entahlah, yang jelas sekarang ini Risya sedang menghirup udara sebanyak-banyaknya. Airnya sudah menggenang di pelupuk mata. Wajahnya memerah, emosi dan gairah bersatu. Namun, kepalanya tetap berpikir jernih. Bola matanya menatap Randi dengan tajam. Dia sudah tidak kuat mendapat hinaan seperti ini. "Apa sebenarnya mau kamu, mas! Kamu mau memiliki aku? Ingatkan baik-baik. Sekuat apapun kamu berusaha, aku tetap tidak akan berpaling dari suamiku." Teriak Risya. Dia sudah tidak kuat dengan kelakuan kakak iparnya. Jantungnya memompa dengan cepat membuat napasnya memburu. Sekuat tenaga dia menahan air matanya yang akan segera tumpah ruah. Dia sudah cukup pusing, dengan kehadiran Sahira di rumahnya. Di tambah kelakuan Randi, yang seolah tidak ada harga dirinya. Membuat Risya pusing sekaligus menorehkan luka bertubi-tubi di hatinya. Hatinya terasa dicabik-cabik dengan keadaan yang seakan memojokkan dirinya. Sebenarnya di dalam lubuk hatinya, dia sangat takut kehilangan Ardi. Kehadiran Sahira di rumahnya, membuat dia merasa terancam. Namun, dia pun tak bisa berbuat lebih. Rumah itu adalah Ardi yang Beli, hingga dia tidak punya kuasa di rumahnya sendiri. "Jika kamu masih terus mendekatiku, mau tidak mau aku akan melaporkanmu ke polisi!" Ancamnya dengan suara menahan bergetar. Dia sudah bersabar selama ini atas tingkah kakak iparnya, namun kini batas kesabarannya telah habis. Awalnya dia tidak mau memperpanjang tingkah tak senonoh Randy. Namun, ternyata Randy terus menerus mencoba untuk kembali melecehkan dirinya dan sekarang mau tidak mau Risya harus melakukan sesuatu untuk menghentikan aksi kakak iparnya yang semakin menggila. Randi terdiam. Bukan karena dia takut dengan ancaman Risya, namun dia sadar. Dia telah menggores luka yang begitu dalam pada wanita yang diam-diam dia cintai. Seketika dadanya berdenyut nyeri. Dia belum pernah merasakan sakit di d**a sampai seperti ini, rasa sesak di hatinya membuat dia kehilangan kata-kata. Dia memang pintar dalam urusan berbisnis, namun masalah percintaan nol besar. Tak ada pengalaman ber*cinta sama sekali, hingga dia tak sadar caranya mendekati Risya adalah salah. Kedua insan berbeda lawan jenis itu terdiam, membeku di tempat. Sekuat tenaga Risya melindungi harga dirinya meskipun dia sudah kecolongan. Begitu juga dengan Randy. Dia tak mampu mengeluarkan kata-kata yang telah tersusun rapi di kepalanya. Dia ingin meminta maaf, namun entah kenapa seolah kata maaf itu enggan keluar dari mulutnya. Risya hendak berbalik pergi. Dia tidak mau berlama-lama disini lagi. Sepertinya ancaman dia pada Randy berhasil, sampai membuat Randy tak berkutik di tempatnya. "Tunggu!" Ucap Randy menghentikan langkah Risya. Debaran di jantung Risya mulai meningkat, dia takut Randy akan berbuat nekad lagi kepada dirinya. Dia tahu saat ini dirinya tengah berpakaian seksi yang mana mampu membuat mata para lelaki terbuka lebar begitu melihatnya. "Aku mohon mas, jangan ganggu aku lagi!" Risya berbalik kembali. Kali ini dia ingin berbicara baik-baik kepada kakak iparnya. Toh, dengan ancaman sudah tidak dengannya. "Maaf--" satu kata kembali keluar dari mulut Randy. Dia tak menyangka kata itu berhasil keluar dari mulutnya. Sebagai lelaki dia memiliki rasa egoisme yang tinggi. Tapi, melihat begitu tersiksanya Risya atas perbuatannya dirinya membuat dia merasa begitu bersalah hingga membuat kata maaf keluar dari bibirnya. Risya terkejut mendengar kata maaf dari Randy. Dia menatap wajah Randy tak percaya. Randy mengangguk. "Ya, saya minta maaf." Tekannya lagi. Risya tersenyum tulus sebagai tanda dia menerima kata maaf dari Randy. Air mata keluar begitu saja dari bola matanya. Entah ini nyata atau tidak, dia merasa beban di bahunya seolah hilang begitu saja. Kata maaf itu begitu berdampak besar pada dirinya. Selama ini dia masih terus merasa bersalah atas kepamaksaan yang dilakukan kakak iparnya kemarin hingga membuat dia ternoda oleh Randy. Tubuhnya seketika melemas dengan tangisan yang pecah, membuat Randy panik bukan main. Dengan cepat Randy mendekati Risya dan membawanya ke dalam pelukan. Risya semakin terisak-isak, dia tak tahu kenapa dia bisa menangis sampai seperti ini. Namun, sejak kemarin saat dirinya meninggalkan rumah hatinya merasa tak karuan. Seolah ada sesuatu yang mengganjal dan merasa ada yang salah. entah karena apa dia sendiri pun tidak tahu. Risya menumpahkan kesedihan yang menggelayuti hatinya selama dia berada disini. Dia berharap setelah ini tidak terjadi masalah apapun lagi yang akan menganggu keharmonisan rumah tangganya. "Maaf kak." Ucapnya saat dia menarik ingus dengan keras. Randy mengangguk kaku, rupanya Risya begitu tertekan karenanya. Selang beberapa menit mereka keluar, Risya sempat melihat cermin dihadapannya, tampak matanya sedikit bengkak juga memerah. "Risya, jangan menangis lagi. Saya minta maaf." "Iya, mas, sudah aku maafkan. Tapi, aku mohon jangan ganggu aku lagi. Sebaiknya mas, segera cari istri untuk meluapkan hasrat, mas." Balas Risya dengan pipi merona merah. Dia cukup malu membahas hal ini, mengingat begitu menggebu-gebunya hasrat kakak iparnya ini. "Tidak bisa." "Kenapa?" "Karena saya sudah menyukaimu." "Maaf, mas, aku tidak mau bermain api dengan siapapun. Aku sudah punya suami, dan itu adalah adik mas sendiri. Aku juga tidak mau masalah kemarin sampai ke telinga mas Ardi. Kita sudah berdamai mas, tolong jangan buat perkara lagi." "Tidak. Aku akan tetap menunggumu." "Jangan gila! Kasihanilah umurmu yang semakin menua itu!" "Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi, jangan paksa aku untuk tidak menunggumu." "Dasar gil*!" "Jodoh siapa yang tahu." Randy melenggang pergi. Dia keluar begitu saja setelah mengucapkan kalimat yang membuat Risya kesal setengah mati. Risya juga kesal karena kalimat yang begitu ambigu itu. Seolah-olah Randy mendoakan dirinya dan Ardi tidak langgeng hingga dia harus berjodoh dengan Randy. Hiih, Risya bergidik ngeri. Mana mungkin itu bisa terjadi, selama ini rumah tangganya baik-baik saja. Dia dan Ardi pun tidak begitu mempermasalahkan persoalan anak. "Amit-amit! Jangan sampai aku pisah!" Batinnya lalu pergi dengan kekesalan pada kakak iparnya itu. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD