Bab 13. Penyerangan Tetua Heddwyn

1035 Words
Dalam perjalanan, Iefan dan Griffin sudah hampir mencapai perbatasan kerajaan mereka ketika hari sudah gelap sempurna. Beberapa vampire yang tidak sengaja berpaspasan dengan Iefan dan Griffin langsung pergi dari jarak sepuluh kilo meter. Kali ini Tifa dan Vian mengatur sedikit kekuatan dalam tubuhnya agar tidak menarik perhatian vampire lain. Ia berjalan di belakang Griffin dengan sambil mengaktifkan sinyal waspada. Karena bisa saja ia ditipu oleh vampire ulung ini. Griffin menoleh ke belakang untuk memastikan Tifa masih mengikuti mereka. Dan juga tatapannya langsung beradu tatap dengan Vian. Vampire pria satu-satunya yang paling waspada disini. Walaupun rasanya Griffin tidak punya kesempatan sedikit pun pada Tifa, setidaknya ia bisa menikmati wajah cantik Tifa secara cuma-cuma. Vian menatap tajam Griffin dan kemudian menarik tangan kiri Tifa sedikit ke belakang agar kakaknya memperlambat jalannya dan menjauh sedikit dari Griffin. “Berhati-hatilah dengan vampire sinting itu.” Bisiknya yang gagal berbisik. Tifa menuruti permintaan Vian karena memang Griffin memang suka sekali melirik ke arahnya. “Kau berjalan di depanku.” Tifa langsung menarik lengan Vian lalu berjalan di belakang adiknya. Ketika Griffin menoleh ke belakang lagi. Wajahnya langsung masam ketika melihat wajah Vian. Mendengus hampir muntah, Griffin menyenggol lengan Iefan sekali. “Kurasi adik Tifa akan membawa banyak masalah nantinya.” Iefan ikut menoleh ke belakang dan tentu saja Vian balik menatapnya dengan mata merah nyalanya. Ia tersenyum hambar sambil menundukkan kepalanya beberapa kali. Malu sekali rasanya melihat sikap dan kelakuan pamannya yang tidak tahu diri ini. “Jaga sikapmu paman. Dia tamu terhormat kita.” Desisan Iefan langsung dibalas dengusan kasar oleh Griffin. BLARR! DUAARR! Ketika empat orang sudah sampai di depan gerbang kerajaan Heddwyn, Tifa dan Vian langsung disambut kurang menyenangkan oleh tetua kerajaan. Sebuah bola api biru besar hampir mengenai Tifa dan Vian. Secepat kilat Tifa melompat setelah ia menarik pundak kiri Vian kemudian mendarat mulus di atas sebuah batu besar. Iefan dan Griffin berhasil selamat setelah mantra yang dibuat oleh salah satu tetua. “Tetua! Apa yang kalian lakukan ini?!” Teriak Iefan tidak percaya. Hampir saja ia menjadi vampire bakar. Sedangkan Griffin matanya memicing tajam dan mengawasi Tifa. Memastikan apakah dia terluka atau tidak. “Tifa! Kau baik-baik sa-“ Teriakan Griffin langsung tercekat ketika melihat pancaran mata merah pekat Tifa. Iefan pun ikut membeku di tempat sambil memperhatikan kejadian tak terduga itu. Vian langsung mengepalkan kedua tangannya dan giginya bergemerutuk kuat. “Mereka menjebak kita.” Ucapnya hampir siap mengamuk. Matanya langsung ikut memerah tetapi Tifa menghalangi Vian melangkah dengan sebelah tangannya. Tifa tahu situasi ini sangat tidak bagus. Dagunya terangkat untuk menatap tiga tetua Heddwyn yang ternyata menanti kedatangan mereka. “Mereka bukan tandinganmu Vian. Mundur.” Vian mendelik marah. Tidak terima jika kakaknya selalu melindunginya lagi dan lagi. “Ribuan tahun aku hidup tidak pernah sekali pun kau membiarkan aku melindungimu barang satu kali, Tifa. Mundur!” Tapi Vian langsung bungkam ketika Tifa menoleh ke belakang dan menatapnya dengan tatapan menundukkan. Vian dengan otomatis terdiam di tempat dengan kedua tangan terkepal. Lagi-lagi Tifa menggunakan kekuatan penakluknya pada Vian. Mau tidak mau mengikuti alur yang Tifa rencanakan dan lagi, ia akan menjadi penonton. Tifa kembali menatap ke depan dan menghitung jumlah prajurit vampire yang mengelilingi kerajaan itu. Dan tatapan jatuh pada Iefan dan Griffin yang masuk dalam barier sambil menatapnya khawatir. Tifa langsung bisa menyimpulkan sendiri situasinya. ‘Mereka dimanfaatkan rupanya. Dasar bodoh.’ Batin Tifa masih terus mengamati ketiga tetua mereka. Tiga orang tetua yang berdiri di depan pintu gerbang sudah menggunakan mantra dengan symbol-simbol rumit di tangannya. Tifa tidak mungkin salah ingat bahwa sebelumnya ia pernah bertarung dengan symbol seperti itu sekitar seribu lima ratus tahun yang lalu. Selama Tifa hidup ribuan tahun lamanya, ia sudah pernah bertarung dengan berbagai vampire kuat yang levelnya jauh berada di atas ketiga tetua itu. Tapi itu dulu, ketika Inti jiwanya belum diambil oleh Lucifer. Sekarang ia masih memiliki lima puluh persen kekuatan yang kumpulkan sejak seribu tahun lamanya. Tapi kemampuan Tifa masih bisa berfungsi walaupun sedikit yang bisa ia gunakan. Berdecak kesal Tifa melangkah satu langkah ke depan, dan ketiga tetua itu langsung memasang kuda-kuda. Tifa mendengus kasar. “Kenapa? Kalian takut?” Tanya Tifa merendahkan sekali. Vian membungkam mulutnya ketika memperhatikan ketiga tetua itu langsung bergerak berlebihan saat kakaknya baru melangkah satu langkah saja. “Aku yakin mereka hanya mendengar rumormu saja Tifa.” Ucapnya merasa sia-sia melihat tiga vampire lembah itu. Di dalam tubuh vampire terdapat inti jiwa yang dimana itu adalah inti dan pusat kehidupan dari vampire sendiri. Dalam tingkatan kekuatan tertentu, mereka yang sampai pada tingkat sepuluh inti jiwa akan mudah melihat seberapa kuat kekuatan vampire di hadapannya dengan mata telanjang. Tingkatan dari inti jiwa itu juga yang membuat vampire bisa menggunakan mantra-mantra sihir dengan menggunakan kekuatan inti jiwa yang dengan kata lain membayar kekuatan itu dengan jiwanya. Untuk itu Vampire lebih menggunakan cara aman untuk menggunakan kekuatannya dengan memakan manusia. Nutrisi dari darah manusia akan terserap alami karena nutrisi dari manusia sendiri bisa memperkuat inti jiwa vampire. Sayangnya jika titik jiwa vampire terlalu banyak menyerap darah manusia, secara alamiah pula vampire itu akan kehilangan kemampuan dan nafsu makan. Yang artinya tujuh panca indra vampire yang terdiri dari pengelihatan, perasa, peraba, penciuman, pendengaran, pendeteksi aura, dan juga kemampuan regenerasi akan mati. Setelahnya vampire itu akan mati jika di serang oleh kekuatan besar dari jarak dekat. Iefan langsung menatap ketiga tetua itu dengan mata merahnya. “Hentikan! Kalian yang menyuruhku untuk membawanya kemari. Kenapa kalian malah menyerangnya?” Tanya Iefan murka sekali. Griffin tidak bisa menggunakan kekuatan karena titik jiwanya sedang lemah karena tidak cukup waktu untuk hibernasi memulihkan kekuatannya. Mantra pengikat berwarna emas tiba-tiba saja muncul di kedua tangan Iefan dan mengunci tubuhnya sampai tidak bisa bergerak. Matanya nyalang menatap salah satu tetua, ia berusaha melepaskan mantra itu dari tubuhnya. “Alden!” Teriak Iefan begitu marah. Tifa menatap tiga orang tetua yang mengenakan jubah merah marun yang berdiri menatapnya dari jarak lima ratus meter darinya. Mata merah dari ketiga vampire itu menyala dari dalam tudung itu. Kedua tangan mereka menggunakan mantra emas. Salah satu dari tetua itu maju dan mantra di tangannya sudah berubah menjadi symbol dengan warna merah. “Aku tidak menyangka bisa melihat langsung mata vampire keturunan Yovanka dan datang ke kerajaan kami tanpa perlawanan. Tunjukkan kemampuanmu, Yovanka!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD