Semenjak Taeil tinggal di apartemen Byungjin, Bomin jadi jarang datang ke sana. Ia menunda rencananya dalam merebut hati Byungjin. Oh, jangan bilang ia pengecut. Kau akan melakukan hal yang sama bila tahu mantanmu ternyata keponakan dari orang yang kau sukai.
Sebagai gantinya, Byunggyu dan Taeoh jadi sering datang ke apartemen Junho. Bukan untuk mencari Bomin, melainkan untuk menghindar dari Taeil. Mereka akan terus di sana hingga malam tiba dan waktunya tidur. Lagipula di apartemen Junho lebih menyenangkan. Ada Bomin yang bisa mereka ganggu, Eunjin yang pandai memasak berbagai makanan enak dan juga Junho yang bisa menemani mereka bermain game.
Bomin sebenarnya tak mempermasalahkan bila Byunggyu dan Taeoh sering bermain di apartemen Junho. Lagipula dengan begitu ia bisa lebih dekat dengan anak-anak itu bukan? Tapi masalahnya adalah...
"Kak Bomin, ayo ikut bermain bersama kami." ajak Wooseok riang.
Byunggyu selalu megajak Wooseok ke apartemen Junho. Itu membuat Bomin jadi risih sendiri. Terlebih bocah itu masih sering berusaha untuk merebut perhatian Bomin.
"Kau bermain saja. Kakak sedang ada urusan di luar." tolak Bomin.
"Kakak! Ikut!"
Dan Bomin hanya bisa menghela nafas dan membiarkan Wooseok ikut dengannya. Mau bagaimana lagi? Dirinya sedang suntuk dan tak memiliki ide untuk novel terbarunya.
Kalian pasti bertanya-tanya mengapa hanya Junho dan Eunjin yang selalu pergi bekerja sedangkan Bomin hanya bermalas-malasan di rumah. Itu karena Bomin adalah seorang penulis novel. Karena itu ia lebih santai dibanding Junho yang seorang pengacara dan Eunjin yang seorang dokter.
Awalnya Bomin memilih pekerjaan ini untuk menghindari kemungkinan bertemu Taeil. Namun sepertinya itu percuma saja karena ternyata takdir mempertemukan mereka lewat Byungjin.
Yah, takdir sepertinya senang menyiksanya...
***
Wooseok menempel terus pada Bomin sehingga Bomin tak bisa mendapatkan ide untuk novelnya. Percuma saja ia pergi jalan-jalan tadi bila akhirnya tak mendapat ide juga.
"Bomin kau sudah punya anak?" suara seseorang mengagetkan Bomin.
Bomin menoleh dan mendapati Taeil yang menatapnya terkejut. Hah? Apa Taeil mengira Wooseok anaknya? Apa pria ini bodoh? Kalaupun Bomin sudah punya anak mana mungkin sudah sebesar Wooseok?
"Kakak, kau salah besar! Aku bukan anaknya Kak Bomin, tapi kekasihnya," ucap Wooseok lantang.
Mata Taeil makin membola. Kesalahpahamannya semakin besar. Bomin benar-benar tak tahan dengan situasi ini.
"Astaga, Park Bomin aku benar-benar tak menyangka. Jangan bilang setelah putus denganku, kau jadi p*****l? Atau malah kau sudah begini sejak kita berpacaran? Jadi karena ini kau memutuskanku dulu?" ucap Taeil tak percaya.
Bomin benar-benar ingin melempari Taeil dengan tong sampah yang entah sejak kapan ada di sebelahnya.
"Wooseok-ah, masuklah duluan." pinta Bomin pada Wooseok.
"Ha? Tidak mau! Takkan kubiarkan kakak itu punya kesempatan untuk berdua denganmu." ucap Wooseok ketus.
"Wooseok, masuklah." ucap Bomin dengan penekanan agar Wooseok mengetahui kalau ia marah.
Sambil bersungut-sungut, Wooseok masuk ke dalam apartemen meninggalkan Bomin dan Taeil.
Taeil menatap Bomin dengan senyuman jahil.
"Ah, aku mengerti sekarang. Bocah itu menyukaimu tapi kau tak menyukainya. Apa dia harus kuanggap sebagai saingan juga?" goda Taeil.
"Kim Taeil, bisakah kau berhenti menggangguku dan membiarkanku hidup tenang?" ucap Bomin.
Taeil maju dan menyudutkan Bomin ke tembok.
Pria itu mendengus, "Aku sudah mencarimu kemana-mana sejak dulu. Kau pikir aku akan melepaskanmu semudah itu?"
Bomin mulai merasakan tanda-tanda bahaya. Apalagi Taeil mulai mendekatkan wajahnya tanda pria itu ingin menciumnya. Tidak! Ia tak boleh kembali terjebak dengan pria ini!
Dengan sekuat tenaga, Bomin menginjak kaki kanan Taeil. Membuat pria itu melepaskannya dan langsung memegangi kakinya kesakitan. Bomin tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera membuka pintu apartemen. Namun sebelum masuk ia sempat mengatakan sesuatu pada Taeil.
"Aku sudah berapa kali berada dalam situasi seperti ini, kau pikir aku akan jatuh ke lubang yang sama? Kim Taeil, kalau kau ingin mendapatkanku kembali kau harus berusaha dengan keras. Karena aku takkan membiarkannya." ucapnya.
***
Eunjin dan Junho sibuk dengan rencana pernikahan mereka. Keduanya meninggalkan apartemen sejak pagi. Eunjin tak sempat memasak apapun sebelum ia pergi jadi Bomin harus mengurus makanannya sendiri ditambah tiga kurcaci yang bermain di apartemennya.
"Kak Bomin, aku lapar." keluh Taeoh.
"Kau ingin makan apa? Nanti kupesankan." ucap Bomin.
"Kak, aku ingin masakan rumahan." ucap Wooseok. Ini adalah kesempatannya untuk memasak masakan Bomin.
Bomin menghela nafas lalu menatap Wooseok datar.
"Aku tak bisa memasak."
Pffttt...
Byunggyu tertawa dengan kencang. Bomin mengernyit. Ada apa dengan anak ini? Sudah sinting kah? Eh? Tunggu! Bukannya memang Byunggyu dari awal sudah sinting ya?
"Apa? Kau tak bisa memasak? Ckckck, aku jadi meragukan kau wanita atau bukan, Kak." ejek Byunggyu.
Bomin menahan emosinya. Oh ayolah Park Bomin, yang kau hadapi hanya bocah. Jangan membuat masalah dengan melempar bocah ini dari balkon.
"Tidak semua wanita pandai memasak." Bomin membela diri.
"Tapi tipe wanita yang disukai ayahku harus bisa memasak." Byunggyu menjulurkan lidahnya mengejek.
Bomin bungkam. Jadi tipe wanita yang disukai Byungjin adalah wanita yang pandai memasak? Baiklah! Kalau itu untuk Byungjin, apapun akan ia lakukan!
***
Namun ternyata memasak tak semudah yang ia pikirkan. Bomin hanya bisa memandangi masakan buatannya dengan pandangan kasihan.
Itu sebenarnya nasi goreng ala Indonesia. Dengan warna yang tak merata dan juga telur yang gosong seperti arang. Bau gosongnya bahkan bisa tercium dari jauh. Padahal ini satu-satunya masakan dalam buku resep Eunjin yang cara memasaknya mudah.
Oh, ia takkan tega melihat Bocah-bocah itu memakan nasi goreng yang terlalu 'enak' ini. Ia melepas apronnya lalu menatap ketiga bocah itu dengan tatapan meminta maaf.
"Kalian tak ingin makan ini kan? Tunggu sebentar. Aku akan membuat ramen instan." ucap Bomin.
Saat Bomin kembali ke dapur, ketiga bocah itu mendekati meja makan dan menatap nasi goreng buatan Bomin dengan penasaran.
"Kalian yakin ini nasi goreng?" tanya Byunggyu.
"Ini bukan nasi goreng, tapi nasi gosong." komentar .
Wooseok mengambil sendok dan mencobanya sesuap. Senyumnya mengembang. Byunggyu menatap sahabatnya itu dengan heran.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Byunggyu.
"Kak Bomin benar-benar keren! Ia bisa membunuh seseorang dengan rasa masakannya ini." puji Wooseok.
Bomin yang mendengar percakapan itu hanya bisa menghela nafas. Wooseok memujinya atau menghinanya?
***
Bomin tersenyum melihat anak-anak itu sudah tertidur. Wooseok sudah dijemput oleh ibunya sejak sore. Jadi tinggal Taeoh dan Byunggyu yang masih ada di apartementnya.
Ting tong...
Ah~ itu pasti Eunjin dan Junho. Bomin membuka pintu apartemennya dan terkejut saat mengetahui itu adalah Byungjin.
"Boleh aku masuk? Aku datang untuk menjemput Taeoh dan Byunggyu." ucap Byungjin.
Bomin mempersilahkan Byungjin masuk ke apartemennya. Sama seperti Bomin, Byungjin juga tersenyum melihat anak-anaknya yang seperti malaikat saat tertidur.
"Aku akan membantumu membawa Taeoh." tawar Bomin.
Byungjin mengangguk lalu menggendong Byunggyu. Mereka berjalan keluar apartemen lalu menutup pintunya.
Bomin merasa canggung. Wajahnya merona. Mereka jadi seperti keluarga bahagia saja.
Byungjin membuka pintu apartemennya dan mempersilahkan Bomin masuk, "Ayo."
Mereka berjalan dan masuk ke apartemen Byungjin. Taeil yang tadinya asik menonton TV pun menatap mereka namun tak mengatakan apapun. Byungjin dan Bomin membawa Byunggyu dan Taeoh ke kamar. Mereka membaringkan bocah-bocah itu di ranjangnya.
"Terimakasih telah membantuku menjaga mereka Bomin-ssi." ucap Byungjin. Pria itu mengelus kepala Byunggyu yang tertidur lelap.
Bomin mengangguk. Ia tentu takkan keberatan. Lagipula Byunggyu dan Taeoh juga calon anaknya. Yeah, walaupun belum secara resmi. Tapi ia menganggap dua bocah nakal itu seperti anak sendiri.
Keheningan melanda mereka. Bomin tidak tahu harus mengatakan apa agar percakapan antara dirinya dan Byungjin bisa berlanjut. Ia masih belum ingin berpisah dengan pria itu sekarang.
Tiba-tiba ia merasakan dorongan untuk melakukan hal gila. Ah, apakah ini sudah saatnya? Lagipula selama ini Bomin tak pernah memiliki kesempatan bicara berdua dengan Byungjin. Ini kesempatannya untuk menyatakan cintanya.
"Byungjin-ssi, ada yang ingin kukatakan padamu." ucap Bomin gugup.
Byungjin tersenyum, "Baiklah, katakan saja." .
Bomin membulatkan tekadnya. Tangan gadis itu mengurangi kegugupannya, "Aku menyukaimu."
"Aku juga." Byungjin berucap santai, "Kau tetangga yang baik." tambahnya.
"Bukan seperti itu!" Bomin tanpa sadar menaikkan nada suaranya. Kesal karena kesalahpahaman Byungjin. Byungjin menatap Bomin heran. Tak mengerti mengapa gadis itu terlihat kesal padanya.
"Aku menyukaimu seperti wanita menyukai pria. Seperti itulah." ucap Bomin lagi.
Byungjin terlihat terkejut. Pria itu lalu mengelus tengkuknya. Tertular kegugupan Bomin
"Bomin-ssi, itu..."
"Aku memberitahumu hanya agar kau tahu perasaanku." potong Bomin.
"Hanya itu saja, aku tak punya maksud lain. Aku tak berharap kau membalasnya. Lagipula aku tahu ini terlalu tiba-tiba. Eum, aku pulang dulu. Selamat malam Byungjin-ssi." Bomin memilih kabur.
Byungjin tersenyum. Gadis itu kabur setelah menyatakan cinta? So cute! Namun tanpa Byungjin dan Bomin sadari, ada orang yang mendengar percakapan mereka sejak tadi.
"Jadi kau menyukai pamanku, Park Bomin? Baiklah, mari kita lihat apa kau bisa bersamanya." ucap Taeil sambil tersenyum miring.
***
Makassar, 3 Maret 2016