Part 5 - Ex-Lover

1153 Words
Bomin berjalan sambil menenteng cemilan yang di belinya. Namun langkahnya terhenti saat melihat orang aneh yang berada di depan apartemennya yang kini menjadi apartemen Byungjin. Dia seorang pria, berkulit putih, pendek dan memiliki pipi yang chubby. Tunggu! Sepertinya Bomin mengenalinya. "Astaga! Tak mungkin! Mengapa Kim Taeil ada di sini? Bahkan aku sudah kabur sejauh ini, bagaimana bisa ia menemukanku?" gumamnya. Bomin merasa bingung harus bagaimana. Ia lalu memakai tudung jaketnya melangkah ke depan apartemen Junho dengan mengendap-endap. Inginnya sih tak ketahuan oleh Taeil. Tapi sepertinya terlambat. Taeil menoleh dan terlihat terkejut melihat Bomin. Namun ia segera menyunggingkan seringainya. "Yo, mantan kekasihku. Lama tak bertemu." Bomin berdecak pelan, membuka tudung jaketnya dan menatap Taeil. "Apa yang kau lakukan di sini? Kau tak mungkin ke sini untuk mencariku bukan?" tanya Bomin sambil melotot. "Jangan berburuk sangka begitu. Aku hanya datang untuk mengunjungi pamanku. Mana kutahu kau tinggal di sekitar sini? Ternyata kita memang ditakdirkan untuk terus bersama." "Pamanmu?" Bomin menatapnya heran. Taeil mengendikkan bahunya sambil menekan bel. Tak lama, pintu pun terbuka. Byungjin yang membuka pintu terkejut melihat keponakannya ada di depan apartemennya, "Taeil-ah? Kau pulang ke Korea? Mengapa kau tak mengabariku dulu agar aku bisa menjemputmu?" "Yo, Paman." Taeil langsung menerobos masuk ke dalam apartemen Byungjin. Byungjin yang sudah hafal tingkah keponakannya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia menoleh pada Bomin yang hanya terdiam dengan mulut menganga. Menyadari Byungjin menatapnya, Bomin segera mengubah ekspresinya. "Bomin-ssi. Apa kau dan keponakanku saling kenal?" tanya Byungjin. Bomin berusaha tenang. Gadis itu menjawab, "Begitulah, dia seniorku di SMA. Jadi, Taeil adalah keponakanmu?" tanyanya memastikan. Byungjin mengangguk, "Aku tak menyangka dunia akan sesempit ini. Taeil anak dari kakak laki-lakiku. Ia kakak Taeoh." Bomin menganga sekali lagi. Jadi benar Taeil mantan kekasihnya di SMA itu keponakannya Byungjin? Tapi tunggu! Kakaknya Taeoh? "Jadi Taeoh bukan anakmu?" tanya Bomin. "Begitulah, dia kakak laki-laki Taeoh. Taeoh dititipkan padaku karena ia tak mau berpisah dengan Byunggyu. Dan dia juga memanggilku ayah karena dekat denganku." jawab Byungjin. Wajah Bomin berubah cerah. Jadi bukan anaknya? Jadi Byungjin seorang bujangan tulen? Bomin ingin berlari mengelilingi dunia saking senangnya. "Lalu Byunggyu?" "Tentu saja ia anakku." Jleb... Baru saja merasa senang, sudah jatuh lagi. Ternyata ... Byungjin benar-benar seorang orang tua tunggal. Oh, atau sebenarnya sudah punya istri? "Kau ingin masuk? Aku membuat pai apel." tawar Byungjin. Bomin menggeleng, "Tidak terima kasih, aku harus pergi. Sampai jumpa Byungjin-ssi." Gadis itu segera masuk ke apartemen Junho untuk menenangkan hati kacanya yang rapuh. Seperginya Bomin, Byungjin menutup pintu dan menghampiri anak dan keponakannya. Ia menghela nafas melihat Taeil dan Byunggyu mulai berdebat. Taeoh sendiri hanya memperhatikan mereka sambil memakan cemilannya. Byunggyu berkacak pinggang. Alisnya berkerut dengan bibir yang mengerucut. Terlihat sekali bahwa ia keberatan Taeil datang, "Kak Taeil, mengapa kau datang? Kau pasti ingin mengambil Taeoh, kan? Tak boleh! Awas saja kalau kau berani! Dia milikku!" "Dia adikku. Sejak kapan dia menjadi milikmu?" protes Taeil. "Hingga titik darah penghabisan, aku takkan membiarkanmu membawa Taeoh pergi selangkah pun dari sini." ucap Byunggyu memasang kuda-kudanya. Bersiap menyerang sepupunya itu. "Wuaaa, kalian membuatku seperti putri yang diperebutkan dalam dongeng." celoteh Taeoh polos. Taeil terkekeh geli melihat reaksi Byunggyu dan keimutan adiknya. Byunggyu sangat menyenangkan untuk diganggu. Reaksi Byunggyu selalu menarik untuk dilihat. Baiklah, mungkin ia akan berhenti sekarang. Lagipula ia suasana hatinya sedang sangat baik. Walaupun ini sebuah kebetulan, pria itu tak menyangka bahwa ia akan menemukan Bomin di sini. Ia akan memastikan bahwa gadis itu takkan bisa kabur lagi darinya. "Baiklah-baiklah. Aku mengaku. Sebenarnya aku ke sini bukan untuk itu." ucapnya. "Lalu? Untuk apa?" tanya Byunggyu lagi. Taeil beralih menatap Byungjin. "Paman, apa ayahku tidak memberitahumu?" tanya Taeil. "Soal apa?" tanya Byungjin "Tentang aku akan tinggal di sini untuk sementara." ucap Taeil lagi. "Apa? Tidak boleh!" Byunggyu memprotes. Tidak! Ia penguasa di apartemen ini. Tidak akan ia biarkan Taeil tinggal di sini dan merebut kekuasaannya! "Byunggyu-ya..." Byungjin mulai berbicara dengan nada yang ditekankan. Ciri khas kalau ayahnya tak menyukai apa yang ia lakukan. Byunggyu menunduk kesal. Oh, ini gawat. apartemennya akan dikuasai hamster psikopat berpipi gembul! Tamat sudah riwayatnya.... *** "Apa?! Maksudmu mantan pacarmu, Kim Taeil? Yang wajahnya imut-imut tapi kelakuannya amit-amit itu?" jerit Yookwon tak percaya. Bomin mengangguk lemas. Ia sedang butuh teman curhat sekarang. Tapi Junho dan Eunjin terlalu sibuk. Jadilah ia hanya bisa curhat pada Yookwon dan Hyungseob. "Bagaimana bisa ada kebetulan yang seperti ini. Kau seperti dikutuk saja." komentar Hyungseob Bomin menyenderkan kepalanya di meja. Kim Taeil adalah b******n yang merusak masa-masa SMAnya. #flashback... Bomin menatap wajah Taeil dengan ekspresi melongo. Gadis itu menunduk menatap tangan Taeil yang berada di dadanya. Ketika tersadar, Bomin segera menepis tangan Taeil lalu mundur beberapa langkah bersiap berlari. Dirinya tak menyangka akan dipanggil ke belakang sekolah untuk mengalami pelecehan seperti ini. Teman sekelasnya mengatakan ada pria yang menunggunya dan akan menyatakan cinta padanya di tempat ini. karena itu Bomin datang dengan kecepatan tinggi. "Apa yang kau lakukan, berengsek?!" bentak Bomin. Taeil hanya bersiul-siul riang dan tersenyum. Pria itu tak terlihat bersalah sama sekali. "Menandaimu. Mulai sekarang kau milikku." ucap Taeil. "Kau gila? Aku bahkan tak mengenalmu!" protes Bomin. "Ahh, jadi kau ingin mengenalku dulu. Perkenalkan, aku Kim Taeil. Kekasihmu." ucap Taeil sebelum berbalik dan melangkah pergi. Tunggu! Sepertinya ada yang salah dengan kata-kata Taeil tadi... "Sejak kapan kau jadi kekasihku?! Dasar pria gila!" jerit Bomin. Bomin mencari tahu mengenai Taeil dan saat mengetahui kalau pria itu adalah preman penguasa sekolah, ia hanya bisa diam. Dengan terpaksa menjadi kekasih pria itu. Lagipula ia tak bisa apa-apa. Kalau ia berani memutuskan Taeil, ia akan diganggu oleh teman-teman Taeil. Saat Bomin sudah tak tahan dengan sikap posesif dari pria itu. Ia melontarkan kata putus pada Taeil. Namun pria itu malah menyudutkannya ke tembok dan menatapnya murka. "Kau ingin putus? Kau mau mati? Kau tak boleh mengatakan kata itu dengan seenaknya. Aku yang punya kuasa di sini. Kau harus tetap di sisiku hingga aku bosan padamu dan membuangmu. Kau mengerti!" Bomin benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ia menulis sebuah surat untuk putus dengan Taeil. Lalu setelah meletakkan suratnya di loker pria itu, ia meminta surat pindah Ke ruang kepala sekolah. Yookwon pernah bilang bahwa Taeil mengamuk saat itu. Namun Bomin tak perduli. Yang terpenting kehidupannya kembali tenang tanpa pria seperti Taeil. #flashback off "Aku bahkan sampai pindah sekolah dulu Sekarang aku harus bagaimana? Pindah lagi? Selesai dari permasalahan Wooseok sekarang aku harus menghadapi Taeil." gerutu Bomin kesal. Hyungseob menepuk-nepuk punggung Bomin dengan lembut. "Mengapa orang yang menyukaimu tak normal semua." ucap Hyungseob iba. Bomin mengangguk setuju sambil memasang wajah sedih. "Cerialah! Kau harus menghadapinya. Kau menyukai Byungjin-ssi bukan? Berarti kau harus menahan rasa takutmu dan bergerak maju. Jangan sampai Taeil menyudutkanmu lagi! Bersemangatlah!" ucap Yookwon menyemangati Bomin. Bomin mengangguk. Yookwon benar. Ia tak boleh takut lagi. Ini semua demi perjuangannya untuk mendapatkan cinta Byungjin! Bomin mengepalkan tangannya dengan tekad yang membara. **** Makassar, 25 Februari 2016
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD