Luna masih berbaring sambil menonton televisi. Ia merasakan pegal disekujur tubuhnya. Matanya tertuju pada layar televisi, tapi pikirannya masih terbayang-bayang Rakha. Sesekali ia melihat handphone-nya, berharap Rakha menghubunginya. Luna mengingat apa yang terjadi sore tadi. Saat Rakha memberi semangat padanya dan menonton pertandingan bersama. Luna tak bisa melupakan tatapan mata dan senyuman Rakha yang terasa menghangatkan hatinya. Rakha memang bukan tipe pria idaman Luna, tetapi justru Luna menyukainya bukan karena penampilan fisik semata. Luna merasa Rakha adalah sosok laki-laki yang sholeh, smart, dan sporty. Tapi Luna hanya memendam rasa itu dalam hati saja. Ia tak ingin Rakha mengetahuinya, karena Luna takut sikap Rakha akan berubah kalau tahu Luna menyukainya. Lamunannya mengantarkan Luna sampai tertidur di ruang keluarga. Mama yang melihat Luna tertidur di sana, sengaja tidak membangunkannya, karena Mama tahu kalau Luna sedang capek. Ketika Luna terbangun dari tidurnya, saat itu televisi masih dibiarkan menyala, lalu Luna merasa kebingungan, sampai akhirnya ia menyadari telah tertidur di ruang keluarga. Setelah Luna mematikan televisi, ia membuka pesan di handphone-nya sambil berjalan menuju kamarnya.
Pesan dalam Handphone Luna berasal dari ketua kelas Luna, ia memberitahukan bahwa besok Luna diminta untuk ikut berpartisipasi dalam acara Live musik pada puncak acara dies natalis sekolah sebagai perwakilan dari kelas 2 IPA 1. Luna memang sudah biasa mengisi acara pensi di sekolahnya, sehingga ia menyanggupi untuk ikut memeriahkan HUT sekolah. Waktu semakin larut malam, sebelum Luna melanjutkan tidurnya, ia melaksanakan ibadah sholat isya.
Pagi ini udara terasa sejuk, Luna telah terbangun dari tidurnya. Ia membuka jendela kamarnya dan menghirup segarnya udara pagi ini.
“Hmmm... Sejuk sekali, segarnya udara pagi ini.”
Luna tersenyum ceria. Terlihat embun pagi membasahi rerumputan. Burung yang berkicau menambah ke asrian suasana Purwokerto.
Luna sarapan bersama kedua orangtuanya. Ia meminta izin untuk perkemahan yang dilaksanakan di sekolah nanti malam.
“Ma, Pa, Luna mau minta izin buat ikut perkemahan nanti malam.”
“Berangkat jam berapa, Nak?” Papa Luna menanggapi permintaan Luna.
“Berangkat setelah ashar, sekitar jam 4 sore. Boleh kan? Ini suratnya, kalau boleh, Papa tanda tangan disini.”
“Boleh dong, yang penting kegiatannya positif.”
“Terima kasih, Pa,Ma.” Luna tersenyum ke arah orangtuanya.
Setelah mendapatkan tanda tangan Papanya, Luna langsung berpamitan ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Vina sudah menunggunya di halaman sekolah.
“Luna...gimana persiapan pentasnya?” Vina bertanya pada Luna, karena Luna mewakili kelasnya untuk berpartisipasi dalam HUT sekolah.
“Lho kok tahu, Vin?”
“Kan tadi aku ketemu ketua kelas kita.”
“Oh gitu, hehe... Iya sudah siap.” Luna yang sedang ngobrol dengan Vina sambil melihat sekelilingnya, terutama area parkir sekolah.
“Hei... Nyariin siapa hayooo? Ehem...” lagi-lagi Vina meledek Luna.
“Hah? Enggak kok, hahaha, yuk kita cari tempat duduk di sana.” Mereka mencari tempat duduk yang kosong di bawah tenda, karena acara syukuran akan segera dimulai.
Acara syukuran dan pengajian berjalan dengan hikmat. Doa-doa yang dipanjatkan bertujuan untuk kebaikan dan kemajuan sekolah. Setelah acara inti selesai, tiba lah pada acara pentas seni dan Live musik. Perwakilan dari kelas 3 IPA dan IPS sudah sudah menampilkan penampilan yang keren. Sekarang tiba giliran penampilan perwakilan dari masing-masing kelas 2.
Luna masih mencari keberadaan Rakha. Karena Luna ingin Rakha melihat penampilannya. Lagu yang akan Luna tampilkan menggambarkan perasaannya ketika teringat Rakha waktu pertamakali Rakha mengantarkannya pulang seusai hujan. Luna berjalan menuju panggung, sambil sesekali menoleh ke belakang untuk mencari keberadaam Rakha.
“Rakha mana sih?” Luna berbicara dalam hati dan merasa kurang bersemangat.
Tak lama setelah Luna naik ke atas panggung, ia melihat Rakha dan Juna yang duduk di bawah pohon dekat dengan perpustakaan yang tak jauh dari panggung. Luna yang melihat Rakha langsung termotivasi untuk menampilkan yang terbaik.
“Assalammu'alaikum, terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan pada saya untuk mewakili penampilan kelas 2 IPA 1. Selamat hari jadi sekolah kita, semoga makin jaya dan menghasilkan lulusan yang terbaik setiap tahunnya. Saya persembahkan lagu ini untuk semua teman-teman yang pernah merasakan hal seperti yang tergambar pada lagu ini, judulnya hujan dari eutopia, semoga teman-teman bisa terhibur.”
Luna bernyanyi sambil bermain gitar, ia terlihat seperti idola. Suaranya bagus dan penampilannya sangat menghibur. Teman-temannya juga ikut bersorak bernyanyi bersama. Dari panggung terlihat Vina menghampiri Juna dan Rakha.
“Kok Luna nyanyi lagu hujan dari eutopia ya?” Vina berkomentar dan bertanya pada Rakha dan Juna.
“Kenapa coba?” Juna bertanya balik pada Vina.
“Mana aku tahu lah, yang penting bagus lah penampilannya.” Vina menjawab pertanyaan Juna, kemudian Juna dan Vina melirik ke arah Rakha.
“Kenapa kalian melirik ke arah ku?” Wajah Rakha terlihat gugup.
“Enggak apa-apa kok, cuma kepo aja, hehe...” Vina tersenyum ke arah Rakha dan Rakha hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Mereka kembali menikmati lagu yang dibawakan Luna. Rakha merasa kalau lagu ini adalah tentang dia dan hujan. Karena pertama kali Rakha mengantar Luna di sore itu adalah seusai hujan, seperti lagu yang Luna nyanyikan. Tapi Rakha tidak mau terlalu percaya diri untuk menebak kebenarannya, jadi dia menikmati saja lagu yang dibawakan Luna.
Setelah Luna selesai perform, ia turun dari panggung dan berjalan menuju Vina. Namun Rakha dan Juna sudah tidak bersama Vina.
“Ciyeeee...hujan hujanan nih?” ledek Vina pad Luna.
“Hahaha... Lagunya kamu sama Juna tuh.” Luna berbalik meledek sambil berbisik pada Vina.
“Please... Bukan Juna juga kali.” Vina selalu sewot kakau di ledek tentang Juna.
Acara syukuran dies natalis sekolah sudah selesai tepat sebelum adzan dzuhur. Luna mengajak Vina untuk mampir ke sekretariat redaksi, karena Luna ingin memeriksa materi peliputan acara dies natalis sekolah yang sudah mulai diketik. Setelah selesai memeriksa materi peliputan, Luna dan Vina keluar dari ruang sekretariat redaksi, mereka berjalan menuju halte sekolah. Tiba-tiba Rakha dan Juna memanggil mereka karena telah menunggu lumayan lama di tempat parkir sekolah.
“Lunaaa... Vinaaaa...” Sapa Juna sambil melambaikan tangan pada mereka.
“Hai...” Sapa Luna dan Vina sambil berjalan menuju mereka.
“Wah... Selamat ya perform-nya bagus, top lah.” Juna memberi selamat pada Luna.
“Rakha kok diam bae?”
( Rakha kok diam saja?) , Vina menanyakan mengapa Rakha dari tadi hanya terdiam.
“Oh... Enggak apa-apa, cuma lagi berpikir warung bakso yang enak dimana, soalnya kan ada yang mau mentraktir aku, hehehe...” Rakha melirik pada Luna.
“Bakso pekih atau bakso samiasih saja gimana?” Luna memberikan pilihan pada Rakha.
“Boleh, nanti aku jemput kamu jam berapa Luna?”
“Jam 4 sore, ya!”
“Hmmm...traktitan enggak bagi-bagi.” Raut muka Juna sedikit sewot dan melirik Luna.
“Iya ih bagi-bagi lah.” Vina pun tak mau kalah minta traktiran pada Luna.
“Sudah kita bareng saja, tapi bayar sendiri-sendiri yaaa...hahaha...” Luna meledek teman-temannya.
Siang semakin terik, obrolan mereka harus bersambung karena waktu sudah sangat siang. Mereka berpamitan pulang. Rasa bahagia tengah menyelimuti hati Luna, karena nanti sore ia akan bertemu Rakha dan mentraktirnya.
Pukul 15.50 WIB.
“Mama, Papa, Luna pamit dulu ya, mau berangkat kemah di sekolah, tapi sebelum ke sekolah Luna mampir makan bakso dulu sama teman-teman.”
“Iya Nak, bekal camilan kamu dan lotion anti nyamuknya jangan Lupa dibawa!” Mama mengingatkan Luna.
“Sudah beres, Ma.” Luna tersenyum pada Mama dan Papanya sambil mengajungkan jempol tangan.
“Hati-hati, Nak! Jangan Lupa sholat 5 waktu!”
“Iya, Ma, Pa, Luna Pamit dulu, Assalammu'alaikum.” Luna berpamitan sembari tersenyum.
Dengan penuh semangat Luna menunggu Rakha di depan gerbang rumahnya. Luna belum menyadari perasaannya kepada Rakha, yang ia rasakan saat itu hanya bahagia karena akan bertemu Rakha. Tak lama kemudian Rakha sampai di depan rumah Luna.
“Maaf , kamu menunggu lama y?” Rakha menanyakan pada Luna.
“Enggak kok, aku juga baru saja nunggu di sini.” Luna tersenyum pada Rakha.
“Oke, kita langsung saja ke warung baksonya!” Rakha mengajak Luna untuk langsung ke sana.
“Oke, berarti Juna dan Vina langsung aku kabari saja ya, biar langsung ke sana.”
“Sip.”
Sesampainya di warung bakso, Luna dan Rakha terlihat sedikit canggung. Karena hal ini pertama kali untuk mereka. Luna terlihat mencari tempat duduk yang dirasa nyaman untuk menikmati semangkok bakso. Mereka duduk berhadapan, tidak ada pembicaraan selama menunggu makanan diantar pelayan. Luna merasa sangat gugup berada begitu dekat dengan Rakha. Jantungnya berdebar dan hanya sesekali menatap Rakha. Tak berbeda jauh dengan Luna, ternyata Rakha merasakan hal yang sama. Jantung Rakha berdebar kencang melihat Luna memandangnya untuk beberapa saat.
“Hei...Luna kok diam saja?” Rakha memulai pembicaraan dengan Luna.
“Eh...Iya Rakha, hehe...” Luna hanya tersenyum dan sedikit salah tingkah.
“Kenapa?” Raut wajah Rakha penuh tanda tanya sembari tertawa kecil melihat tingkah Luna.
“Rakha... Jangan melihat aku seperti itu.” Luna merasa deg-degan ketika Rakha menatapnya.
“Loh... Memangnya ada yang salah denganku?” Rakha bingung dengan maksud Luna.
“Oh...itu..eng..enggak sih, ah sudah lupakan saja, mari kita makan bakso.” Luna mengalihkan pembicaraan.
Semangkok bakso telah habis, namun Juna dan Vina tidak menampakkan batang hidungnya. Ternyata mereka sengaja memberi waktu berdua kepada Rakha dan Luna.
Sore hari yang cerah, membuat suasana makin ceria, hari ini mereka akan bekemah di sekolah. Acara pembukaan perkemahan akan dimulai pukul 17.00 WIB.
Acara di sekolah malam ini, akan jadi malam panjang buat Luna. Karena akan banyak acara dan hal yang akan dibahas bersama guru pembina seluruh ekstrakurikuler. Upacara pembukaan telah selesai, dan pembina upacara memutuskan agar seluruh siswa bermalam di dalam kelas, untuk siswi perempuan di kelas IPA dan siswa laki-laki di kelas IPS, kemudian tempat pelaksanaan acara ramah tamah dan pembahasan bakti sosial akan di adakan di lapangan basket sekolah, sedangkan acara api unggun dan hiburan akan di adakan di lapangan sepak bola.
Selepas sholat isya, Seluruh peserta sudah berkumpul di lapangan basket, acara syukuran dan ramah tamah sudah dimulai. Doa bersama tak lupa mereka panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa. Kata-kata sambutan pun sudah diucapkan. Pembahasan acara bakti sosial sekolah sudah diputuskan akan dilaksanakan minggu depan. Kini tiba saatnya acara api unggun dan hiburan yang dilaksanakan oleh panitia Osis dan peserta. Acara pertama dalam api unggun adalah sharing tentang kegiatan yang ada di sekolah. Usulan kegiatan baru dan lain sebagainya. Acara kedua adalah hiburan yang di isi oleh perwakilan panitia beserta perwakilan peserta. Jalannya acara sangat meriah dan menarik.
Luna yang duduk bersebelahan dengan Rakha pun tak lepas dari obrolan menarik dengan Rakha.
“Ternyata acara dies natalis sangat seru, ya.” Rakha menyampaikan komentarnya pada Luna.
“Iya Rakha, kalau kata kakak kelas kita, setiap tahunnya memang dibuat acara yang benar-benar seru.” Luna menjawab pertanyaan Rakha.
“Iya aku senang sekolah disini, baru pindah sekolah tapi sudah melewati pengalaman yang tak terlupakan.” Rakha tersenyum pada Luna.
“Iya, semangat! Tapi tampaknya aku punya saingan berat nih dalam mempertahankan prestasi.” Luna mulai menyindir Rakha.
“Oh ya? Siapa?” Rakha bingung dengan pernyataan Luna.
“Ya, kamu Rakha, hehehe... Tahu apa enggak? Luna itu takut sekali kalau menemukan saingan dalam prestasi, bisa-bisa dia enggak bisa tidur memikirkannya,hahaha...” tiba-tiba Vina ikut berkomentar dalam obrolan mereka.
“Yah, ikut nyambung aja kayak ada kabelnya, hahaha...” Luna membalas komentar Vina.
Malam mulai terasa dingin, langit terlihat sangat luas dan bintang-bintang di angkasa seolah menemani rembulan yang munncul malam itu. Sinarnya sangat mendamaikan hati bagi yang melihatnya. Luna dan teman-temannya masih duduk di tepi lapangan sembari mendengarkan sebuah lagu yang dibawakan salah satu peserta. Permainan akustik diantara api unggun menambah indah suasana malam itu. Luna terlihat sesekali mencuri pandangan untuk melihat Rakha. Begitupun Rakha menyadari bahwa Luna mencuri pandang terhadapnya.
Jauh di lubuk hati Luna telah tertulis nama Rakha. Tanpa ia sadari sesungguhnya hampir disetiap waktunya ia selalu memikirkan Rakha.
“Andai saja suatu hari nanti akan ada seseorang yang menjadi bintang hatiku, yang selalu menyinari malam-malam ku, aduuuhhh Luna, mikir apa sih kamu.” Luna berbicara dalam hatinya sambil melihat bintang di angkasa.
Tiba-tiba Rakha menepuk pundaknya.
“Hei... Luna jangan melamun!”
“Eh ... Rakha bikin kaget aja!” Luna yang sedang memikirkan Rakha langsung ambyar karena Rakha mengetahui bahwa Luna melamun.
“Kamu ngantuk? Atau melamun? Hehe...” Rakha penasaran apa yang ada dalam lamunan Luna.
“Oh aku ngantuk aja sih, hehe...” Luna mencoba menutupi perasaannya.
“Jangan melamun loh, soalnya ini di sekolah.” Rakha mencoba menakut-nakuti Luna.
“Ih... Rakha kamu mau menakuti aku ya? Hmmm... Enggak mempan, hahaha...”
Acara api unggun telah selesai, semua peserta memasuki kelas untuk beristirahat. Saat Luna dan Vina menata meja dan kursi untuk beristirahat, mereka mendengar beberapa siswi lain yang sedang menceritakan Rakha. Ternyata ada banyak siswi yang menyukai Rakha, namun Rakha selalu menghindar jika ada siswi yang mendekatinya. Sampai ada beberapa siswi yang memberi perhatian-perhatian kepada Rakha namun ia tidak menanggapinya. Hal itu membuat Luna penasaran dan merasa minder. Baru kali ini Luna merasa minder, karena dia terkenal sebagai gadis yang selalu percaya diri.
“Luna, kok kamu diam saja? Sudah ngantuk?” Vina bertanya pada Luna.
“Belum sih Vin, tapi kamu dengar apa tidak? Mereka baru saja ngomongin Rakha.” Luna memberi tahu Vina tentang apa yang ia dengar.
“Ngomongin apa?” Vina penasaran dan mengajak Luna duduk di pojok kelas untuk membahasnya.
“Katanya banyak siswi yang suka sama Rakha.”
“Kan dari awal sudah aku bilang, kalau Rakha itu smart, baik, sopan, dan ganteng. Ya iyalah enggak heran kalau dia banyak fans nya.” Vina memberitahukan Luna tentang yang ia tahu.
“Iya sih benar.” Raut wajah Luna terlihat galau.
“Eh, kamu mengakui kalau Rakha ganteng?” Vina kaget karena baru kali ini ada seseorang yang dianggap ganteng oleh Luna selain artis drama korea dan boyband k-pop.
“Hah? Lah apa sih Vin, wis lah turu bae lah.”
(“Hah? Apa sih Vin? Sudahlah tidur saja.”) , Luna menghindar ketika disinggung masalah perasaannya.
“Ciyeee...ciyeeee... Cerita donk Luna, ihiiiyyyy...” Vina mulai meledek Luna.
“Bobo Vin, sudah ngantuk nih.”
“Besok curhat ya, please!” Vina penasaran dengan perasaan Luna pada Rakha.
“Emoh.”
(“Enggak.”)
“Huuuu... Wis lah bubu bae.”
(“Huuu... Ya sudah lah tidur saja.”)
Malam minggu ini adalah malam terindah untuk Luna, karena ia melihat indahnya bintang bersama Rakha di tengah acara api unggun. Luna berniat menceritakan apa yang ia rasakan kepada Vina.
“Sebaiknya aku curhat saja ke Vina, biar enggak galau dengan perasaanku.”