Hari semakin petang, Juna segera mengantar Luna pulang seusai mereka mengantar Rakha. Di sepanjang jalan, pikiran Luna tak terlepas dari bayang-bayang Rakha. Kekhawatiran tengah dirasa oleh Luna.
“Boss...diam saja?” Juna membuka perbincangan dengan Luna.
“Eh...Iya Juna, bagaimana?” Luna seperti terkejut mendengar Juna bertanya padanya.
“Dari spion terlihat, raut wajah mu sangat murung, seperti memikirkan sesuatu?”
“Iya Juna, aku hanya memikirkan keadaan Rakha.”
“Oh, kamu tenang saja, dia kan laki-laki, aku yakin inshaAllah dia akan baik-baik saja.
“Amiiin, iyaaa benar, aku harus memberikan semangat, walau kelas kalian yang menang, hehe...”
“Nah begitu dong, boss ceria lagi.”
“Baiklah.”
Obrolan mereka terhenti karena Luna sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Juna pun langsung berpamitan pulang karena adzan maghrib sudah berkumandang. Luna langsung membuka gerbang rumah dan masuk kerumah.
“Assalammu'alaikum...Mama, Luna pulang.”
“Wa'alaikumsalam, sudah sampai Nak? Kok tumben pulangnya sampai maghrib?”
“Iya Ma, tadi teman Luna ada yang cedera, jadi tadi kita mengantar ke rumahnya dulu.” Luna berusaha menjelaskan pada Mamanya, dan terlihat raut wajahnya sedikit lesu.
“Teman satu kelas?”
“Bukan Ma, tapi teman satu tim redaksi Luna.”
“Maksudnya bagaimana ,Nak?” Mama sedikit bingung dengan maksud Luna.
“Tadi kelas Luna pertandingan semi final futsal putra melawan kelasnya Juna, nah teman satu tim redaksi Luna itu sekelas dengan Juna.”
“Oh jadi kalian mengantar dia dulu ya?”
“Iya Ma.” Luna menjawab pertanyaan Mama sambil tersenyum dan duduk di kursi untuk meminum segelas air.
“Namanya siapa?”
“Teman Luna yang cedera?”
“Iya.”
“Rakha, Hehe...” Luna menjawab pertanyaan Mama sambil tersenyum malu.
“Oh, Rakha.” Nada bicara Mama penuh tanda tanya sambil melirik dan tersenyum ke arah Luna.
Luna yang merasa malu dan takut diledek oleh Mamanya, langsung masuk ke kamar mandi. Setelah Luna membersihkan badannya, ia melaksanakan ibadah sholat Maghrib. Setelah itu Luna membaca Al-Qur'an seperti hari-hari biasanya. Semenjak dini, Luna sudah diajarkan membaca Al-Qur'an setiap hari, karena walau dari keluarga militer, keluarga Luna dikenal sebagai keluarga yang agamis.
Luna berbaring diatas tempat tidurnya, matanya selalu melihat handphone. Luna galau memikirkan keadaan Rakha, ia berniat untuk meneleponnya, namun ia malu kalau ia harus menghubungi Rakha terlebih dahulu. Lusa adalah hari pertandingan final. Luna berharap Rakha sudah bisa mengikuti pertandingan agar mereka bisa saling support.
Malam itu, Luna berjalan menuju kursi di depan meja belajarnya. Pandangannya tertuju pada sebuah buku. Ia ambil buku itu, buku berwarna pink muda yang bercorak bunga. Ia mulai membuka buku itu. Buku diary Luna, ia selalu menulis tentang perasaannya. Kali ini ia akan menuliskan isi hatinya yang ia rasakan semenjak Rakha hadir dalam kehidupannya. Sambil mengingat semua tentang Rakha, Luna mulai menggoreskan pena di atas kertas kosong dalam diary-nya.
Dear diary
Malam ini aku galau
Kemarin pun aku galau
Semenjak Rakha hadir dalam kehidupanku
Aku merasa galau
Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba ia hadir dalam sepiku
Saat bertemu dengannya aku merasa gugup
Jika tidak melihatnya aku merasa rindu
Ada kalanya aku ingin menghindar dan membuang jauh perasaan itu
Namun sulit bagiku melupakan bayang-bayangnya
Aku takut atas perasaan ini
Aku sering salah tingkah ketika Rakha di dekatku
Aku selalu gagal fokus ketika ia menatapku
Aku takut berpengaruh pada prestasiku
Aku takut hanya aku saja yang merasakan hal ini
Dan tidak dengan Rakha
Namun yang pasti aku menyimpan sejuta rindu untuknya
Apakah Rakha bintang hatiku?
Aku tak mau berharap banyak
Biar aku pendam saja rasa rinduku
Untuk Rakha
Luna merasa lega karena menulis apa yang ia rasakan malam ini. Luna berharap ia bisa menjaga perasaan itu, karena ia belum tahu tentang yang ia rasakan dalam hatinya, yang ia tahu hanya merasa rindu.
Malam itu setelah isya, Ibu Rakha memanggil tukang pijat, karena Rakha merasa sakit pegal-pegal sekujur tubuhnya. Selesai dipijat Rakha langsung beristirahat.
“Bagaimana keadaan mu?” Ibu menengok Rakha di kamar, setelah tukang pijat berpamitan pulang.
“Ya masih pegal, tapi sudah mendingan.”
“Kalau kata orang dahulu itu yang namanya njarem.”
“Nah itu, Bu.” Rakha membenarkan maksud Ibunya
“Njarem itu istilah pegal-pegal efek dari pijatan tadi, tapi besok juga sudah nyaman.
“Iya, Bu, semoga besok Rakha sudah bisa mengendarai motor ya, Bu.”
“Amiiin, terus yang tadi bawa motor mu siapa?”
“Oh itu teman Rakha, namanya Luna.”
“Lho perempuan?” Ibu merasa heran dan penasaran.
“Hehehe... Iya, Bu, perempuan tomboy tapi pintar.”
“Terus?” Ibu melirik Rakha sambil tersenyum penuh tanya.
“Hehe...Manis.” Rakha sempat malu mengakui tetapi karena ia merasa sangat dekat dengan Ibunya, akhirnya ia mengakui bahwa Luna adalah gadis manis.
“Ehem... Bawa main kesini, biar kenal sama Ibu!”
“Iya Bu.”
“Ya sudah dilanjutkan istirahatnya!” Ibu menyuruh Rakha istirahat dan keluar dari kamar Rakha.
Suara kokok Ayam membangunkan Rakha dari tidurnya. Rakha selalu bangun pagi sebelum adzan subuh. Ia mandi dan bersiap untuk pergi ke masjid. Menerobos temaram subuh yang dingin dan berkabut, Rakha berusaha menjadi anak yang baik dan sholeh karena sangat menyayangi keluarganya. Sepulang sholat subuh, ia membantu pekerjaan Ibunya, kemudian bersiap untuk sarapan dan berangkat ke sekolah. Terkadang ia mengantar adiknya ke sekolah, tetapi terkadang Sheina ingin berangkat bersama temannya. Pagi itu Rakha mencoba berangkat sekolah dengan motornya, namun ia merasa belum benar-benar nyaman dengan keadaan lengannya. Ia memutuskan berangkat menggunakan kendaraan Umum.
Ketika Rakha sampai di depan sekolah, ia melihat Luna turun dari angkutan umum. Sehingga Rakha memanggilnya. Mereka bertemu dan berjalan memasuki gerbang sekolah.
“Rakha bagaimana keadaan mu?”
“Sudah mendingan, walau belum begitu nyaman mengendarai motor.”
“Yang penting pulih dulu, berarti besok kamu belum bisa bertanding?” Luna berharap Rakha ikut pertandingan, karena ia pun mengikuti pertandingam final futsal putri. Luna takut kalau Rakha tidak bisa hadir di sana.
“InshaAllah aku ikut pertandingan, kalau belum bisa ikut, ya aku jadi suporter saja.”
“Semangat Rakha, aku masuk kelas duluan ya.”
“Sip.” Sambil mengangkat jempol ke arah Luna.
Luna menyadari sesuatu setelah ia memasuki kelasnya. Saat ia berjalan bersama Rakha, ia sudah merasa nyaman dan tidak merasa gugup lagi. Ia mencoba mengartikan perasaannya.
“Aku sudah enggak gugup lagi ada di dekat Rakha, ahaaayyy.”
Luna berkata dalam hati dan raut wajahnya terlihat berbinar. Sambil senyum sendiri dan terlihat kocak. Tiba-tiba Vina melihat Luna yang terlihat lucu.
“Waduh, si Luna kenapa ini?” Vina berbicara dalam hatinya, kemudian ia mendekat ke arah Luna.
“Hei... Senyam-senyum sendiri, ciyeeee... Ingat Rakha ya?” Wajah Vina benar-benar meledek Luna, saat itu Luna benar-benar kesal dibuatnya.
“Vinaaaaa... Awas ya, aku balas nanti meledek kamu sama Juna, hahahah.”
“Lhaaa... Bisa-bisanya sama Juna? Hahaha... Prima aja lah.” Vina memang sangat ngefans Prima sejak kelas satu SMA.
“Emoh, meledeknya sama Juna saja, hahaha...”
( Emoh itu bahasa Jawa yang berarti tidak mau).
Akhirnya mereka tertawa bersama.
Hari itu kelas 2 IPA 1 sedang berlangsung ulangan harian Biologi. Saat mengerjakan soal, tiba-tiba Luna merasa tidak seperti biasanya, ia merasa kurang fokus. Namun ia berusaha mengingat semua yang telah ia pelajari sebelumnya.
“Aduh, kenapa aku lupa, gagal fokus.” Luna mulai memejamkan mata sambil mengingat semua materi yang ia pelajari. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya agar ia lebih berkonsentrasi. Setelah ulangan selesai, Luna merasa kurang puas dengan jawabannya. Tapi ia telah berusaha, ia pun berdoa agar mendapat hasil maksimal.
Siang berganti malam, berhias bintang bertaburan di angkasa. Rakha sedang melakukan stretching agar lengannya yang cedera bisa segera pulih, karena Rakha ingin sekali mengikuti pertandingan babak final yang akan berlangsung besok sore. Ia merasa masih sedikit pegal, namun tampaknya sudah mulai nyaman untuk berlari.
Berbeda dengan Luna, ia merasa ada yang salah dengan dirinya. Karena ulangan pagi tadi benar-benar gagal fokus. Ia berusaha belajar lebih giat lagi. Namun Luna juga memikirkan hari esok. Besok adalah pertandingan final dies natalis sekolah. Ia berharap Rakha hadir dan mengikuti pertandingan final futsal. Luna berdoa dalam hatinya agar Rakha segera pulih.
Perasaan yang ada diantara mereka hanya mereka yang tahu bagaimana rasanya. Rindu yang mereka rasakan harus di pendam dalam hati saja, karena hal itu tak mungkin diungkapkan secara terang-terangan. Jika perasaan itu adalah cinta, hal itu dirasa menakutkan karena bisa jadi bertepuk sebelah tangan. Sebaliknya hal itu akan indah jika bisa menghargai dan jujur pada hatimu.
Waktu begitu cepat berlalu, secercah sinar mentari pagi terasa menghangatkan bumi. Kabut pagi perlahan menghilang. Kegiatan hari ini membuat Luna sangat lelah. Dari sejak pagi selain mengikuti pelajaran seperti biasanya, ia juga mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi pertandingan final futsal putri. Selain itu Luna juga mempersiapkan berita yang sudah diliput bersama tim redaksi lainnya. Dan puncak peliputan pertandingan akan dilaksanakan sore ini.
Pertandingan final sudah di depan mata. Sore hari ini cuaca sangat cerah, secerah hati Luna yang dengan semangat mengikuti pertandingan futsal putri. Luna tengah bersiap untuk mengikuti pertandingan final sore ini, namun sejak tadi Luna belum melihat Rakha. Sebentar lagi pertandingan akan dimulai namun Rakha belum juga muncul. Hati Luna merasa sepi, ia terlihat selalu menundukkan kepala. Sesekali ia berdiri dan melihat sekelilingnya, sepertinya ia mencari seseorang yang menjadi penyemangatnya. Sebab ia berharap Rakha datang untuk memberi dukungan, walau mungkin Rakha juga belum bisa mengikuti pertandingan final futsal putra.
Babak pertama terlewati namun belum ada gol yang tercetak. Ketika Luna istirahat untuk meminum air mineral, dari kejauhan terlihat Rakha berjalan bersama Juna. Hati Luna sangat bahagia, saking bahagianya ia pun salah tingkah.
“Yes..yes...yes, Rakha akhirnya datang juga.” Luna bergumam dalam hatinya, dan merasa sangat gembira tapi ia menutupi semua itu. Perasaan berkecamuk dalam hatinya, ia merasa ingin jingkrak-jingkrak kegirangan.
Babak kedua dimulai, Rakha dan Juna memberikan support pada Luna. Pertandingan berlangsung seimbang, hingga menit-menit terakhir akhirnya Luna mencetak gol pertamanya dalam pertandingan hari ini. Gol itu menjadi kemenangan untuk futsal putri.
“Lunaaaa...” Vina sangat gembira, ia pun memeluk Luna dan mereka lompat-lompat karena Sangat senang.
Ketika teman sekelas Luna beraorak sorai, tiba-tiba Rakha mendekati Luna.
“Selamat ya, pokoknya Luna keren.”
“Terima kasih Rakha.” Luna merasa sangat tersanjung, rasanya seperti terbang karena Rakha selalu memberikan semangat.
Sekarang giliran kelas 2 IPA 3 yang bertanding futsal di babak final. Tapi babak pertama Rakha tidak mengikuti pertandingan, ia masuk di babak kedua. Saat pertandingan babak pertama berlangsung, Rakha ldan Luna duduk bersebelahan. Saat itu Rakha merasa sangat bersemangat dan beberapakali terlihat ngobrol dengan Luna. Ternyata Juna dan Vina mengamati kedekatan mereka berdua.
“Vin, aku rasa mereka sebentar lagi bakal jadian.”
“Kalau menurut aku selama masih SMA mereka bakal TTM.”
“Apa tuh TTM?” Juna menoleh pada Vina dengan raut wajah kebingungan.
“Teman tapi mesra.”
“Oh...kita lihat saja bagaimana kelanjutannya, tapi kalau Luna sama Rakha kamu setuju, Vin?”
“Setuju banget, soalnya mereka sama-sama baru mengenal cinta, hihihi.”
Vina dan Juna membicarakan mereka sambil tertawa cekikikan.
Babak kedua sudah dimulai, Luna sangat antusias menyemangati Rakha. Membuat Prima merasa curiga, bahwa Luna menyimpan perhatian lebih terhadap Rakha. Waktu terus berjalan, skor kemenangan masih untuk kelas 2 IPA 3, namun Rakha belum mencetak gol. Pertandingan berlangsung sangat seru. Akhirnya dimenangkan oleh kelas 2 IPA 3 dan semua gol dicetak oleh Prima sang kapten seoak bola. Sorak sorai sore itu sangat meriah.
“Luna, aku enggak mencetak gol.” Rakha curhat pada Luna.
“Yang penting kalian kompak dan jadi juara, semangat dong Rakha.”
Mendengar komentar Luna, Rakha langsung semangat. Sebenarnya Rakha takut kalau Luna menyukai Prima. Karena pertandingan sore itu, Rakha merasa belum memberikan performa terbaiknya.
“Oh iya, Luna berarti kamu jadi mentraktir aku makan bakso?” Rakha masih mengingat perjanjian itu.
“Hehe... Iya ,aku hampir Lupa, hmmm...besok sepulang acara syukuran sekolah ya.”
“Atau sore sebelum berangkat kemah di sekolah?”
“Oke, kamu yang milih tempatnya saja, bakso yang enak.”
“Beres, hmmm...besok sore aku jemput kamu ya.”
“Baiklah, sampai jumpa lagi.”
Saat Rakha dan Luna mengobrol sambil berjalan menuju gerbang sekolah, ternyata Juna dan Vina membuntutinya dari belakang.
“Ciyeeeeeee...janjian makan bakso.”
“Ih...Juna ember banget mulutnya, ssstttt...” aluna sewot karena Juna meledeknya.
Sore semakin petang, Luna sudah sampai dirumah. Ia melakukan rutinitasnya seperti biasa. Setelah itu Luna berjalan menuju ruang televisi. Ia berbaring di atas karpet sambil nonton TV.
“Bagaimana? Menang atau kalah?”
Papa Luna menanyakan kemenangan pertandingan futsal.
“Alhamdulillah menang, Pa.”
“Sip deh anak Papa.”
“Papa, tumben jam segini di rumah?”
“Nanti selepas isya Papa mau ada urusan.”
“Hati-hati ya Pa!”
“Iya, ayo kita makam dulu.” Papa mengajak Luna untuk makan malam.
“Nanti saja Pa, Luna masih berasa capek.”
“Ya sudah jangan lupa makan, Ya.”
“Siap, Pa.”
Luna masih memikirkan Rakha. Luna bertanya-tanya tentang arti perasaannya. Perasaan kepada Rakha, yang terkadang membuatnya gugup, terkadang rindu, terkadang juga menguras emosi. Ketika ada Rakha, terkadag Luna ingin menghindar, namun ketika Rakha muncul sikapnya sering salah tingkah. Rakha sering memberikan perhatian pada Luna, walau hanya perhatian kecil tapi bagi Luna itu sangat bermakna.