Kita Bersaing Dulu

2387 Words
Sore ini adalah hari pertandingan pertama kelas 2 IPA 1. Sore yang cerah dengan langit biru yang sangat indah akan mengawal jalannya pertandingan. Luna yang tengah bersiap untuk mengikuti pertandingan futsal putri merasa optimis akan memberikan yang terbaik untuk kelasnya. “Gimana, persiapan kamu?” Mama bertanya pada Luna, karena dari tadi Luna sangat sibuk menyiapkan segala perlengkapannya. “Alhamdulillah Ma, sudah beres tinggal nunggu adzan ashar, aku sholat terus berangkat.” “Hati-hati ya, tetap fokus.” “ Iyaaa, Mamaku sayang.” Sambil memeluk Mama, karena Luna sangat menyayangi keluarganya. “Oh iya Mama ingat sesuatu.” “Apa Ma?” “Tadi pagi kamu berangkat sekolah sama siapa?” Mama tersenyum sambil melirik Luna. “Oh...ii...itu teman Luna, Ma.” “Siapa namanya?” Mama penasaran dengan teman Luna, karena baru kali ini Mama bertanya pada Luna, tetapi Luna menjawabnya dengan terbata-bata. “Rakha.” Saat Luna menjawab pertanyaan Mama, sesungguhnya jantung Luna berdebar kencang, hatinya galau antara jujur atau tidak, dan Luna berpura-pura tidak ada yang spesial dengan Rakha. “Ehem...” Rupanya Mama meledek Luna sambil tersenyum. “Mamaaa... Meledek Luna?” Luna sangat malu namun ia tak bisa berbohong di depan Mamanya. “Ya sudah sana kamu siap-siap, Mama hanya bercanda biar kamu tidak tegang menghadapi pertandingan.” “Baiklah Mama, Luna mau siap-siap dahulu.” Adzan ashar sudah berkumandang, Luna dengan segera menunaikan ibadah sholat Ashar dan langsung berangkat menuju sekolah. Setibanya di sekolah, Rakha sudah menunggunya di halaman sekolah. Luna yang berjalan mengenakan pakaian olah raga dan menguncir rambutnya, terlihat sangat sporty. Rakha melihat Luna berjalan memasuki gerbang sekolah. Pancaran mentari sore itu membuat suasana menjadi penuh semangat, seperti perasaan Luna sore itu. Dari kejauhan Rakha mencuri pandang pada Luna. Entah mengapa tiba-tiba Rakha gugup melihat Luna yang tersenyum padanya. Deg!!! Jantung Rakha berdegup sangat cepat. “Aduh...kenapa aku jadi salah tingkah di depan Luna?” Rakha berbicara dalam hatinya. Saking nervous nya sehingga Rakha memutuskan untuk pergi ke lapangan pertandingan lebih dahulu. Rakha kemudian berjalan menuju lapangan pertandingan dan tidak menunggu Luna. Luna melihat Rakha berjalan dengan cepat, dan Luna pun merasakan hal yang sama saat itu. Sore itu perasaan Luna sangat galau, antara semangat dan gugup. Semangat untuk mengikuti pertandingan dan gugup karena Rakha akan menonton jalannya pertandingan. Luna sengaja memperlambat jalannya sambil mencoba bersikap biasa dan menenangkan hatinya, karena Luna takut jika berjalan beriringan dengan Rakha. Ia takut salah tingkah lagi di depan Rakha. Dari kejauhan terlihat kondisi lapangan sudah ramai. Ketika Luna sampai di sana, ia melihat Rakha dan dua orang tim redaksi lainnya telah bersiap menonton pertandingan di seberang sana. Kemudian Luna bersiap untuk stratching. Luna melambaikan tangan sambil tersenyum kepada teman-teman satu tim redaksi. Seolah Luna meminta dukungan mereka. Tak lama setelah itu Rakha berjalan ke arah Luna. Namun Luna bersikap seolah tak melihat Rakha yang berjalan ke arahnya. “Hai...Luna.” Rakha menyempatkan untuk menyapa Luna sebelum pertandingan dimulai. “Hai...Rakha.” Luna tersenyum pada Rakha, walau perasaannya campur aduk. “Semangat Luna, semoga menang ya, kami mendukung kamu.” Rakha memberi dukungan pada Luna sambil tersenyum dan menepuk pundaknya. “Baiklah...kawan.” Luna merasa hatinya meleleh saat melihat tatapan mata Rakha dan motivasi dari Rakha. Setelah Rakha menghampiri Luna, ia kembali duduk bersama teman-temannya. Kemudian Vina memantau dari kejauhan dan selalu berkomunikasi dengan Juna, tentang informasi terbaru antara Rakha dan Luna. Mereka berdua memang sedang menyelidiki perasaan Luna dan Rakha. Babak pertama futsal sudah dimulai, baru saja menit-menit awal, ternyata Luna sudah mencetak gol. “gooool...” Suara penonton bersorak karena Luna mencetak gol. Luna yang senang sambil berlari mengekspresikan dirinya setelah mencetak gol. “Yaaah Luna, baru juga mulai, sudah gola saja.” Lawan tanding tim Luna menggerutu karena baru awal menit-menit pertama sudah dibobol lawan. Semua pertandingan yang berlangsung di sekolah sangat seru. Sore yang sejuk dengan semburat jingga di ufuk barat menjadi saksi kemenangan kelas Luna di babak penyisihan futsal. Rakha semakin kagum pada Luna, menurut Rakha, Luna adalah gadis yang unik. Teman yang baik, smart, tomboy tapi manis. Rakha yang sedang memikirkan luna tiba-tiba tersenyum sendiri sambil duduk di tepi lapangan. “Hoi... Ya ampun, ini bocah senyum-senyum sendiri.” Juna yang sudah selesai meliput pertandingan Voli, tiba-tiba mengagetkan Rakha yang sedang melamun dengan menepuk pundaknya. “Bro... Mengagetkan saja, hampir saja copot Jantungku.” Rakha yang merasa kaget menggerutu pada Juna sambil meliriknya. “Jantung kamu mau copot atau ayamnya keluar kandang?” “Hah? Ayam apa Bro?” Rakha kebingungan dengan ucapan Juna. “Itu loh...kalau orang yang kaget dan latah, kata-kata yang keluar, begini... Eeehhh...Ayam...Ayam...Ayam.” Juna mempraktekkan ekspresi orang latah sambil mengangkat tangannya. “Hahahahahaaaa...” Juna dan Rakha tertawa bersama. “Juna ternyata bisa melawak juga, hahahaha....” Rakha masih belum bisa berhenti tertawa karena lawakan Juna. “Hei...sssttttt...sudah jangan ketawa terus.” Juna mencoba membuat Rakha berhenti menertawakannya. “Oke.” Rakha menahan tawa di depan Juna. “Pertandingan sudah selesai, kamu enggak pulang?” Juna bertanya pada Rakha yang masih duduk di tepi lapangan futsal. “Aku sedang menunggu...” Rakha bingung antara ingin cerita atau tidak kepada Juna. Raut wajahnya memperlihatkan kebingungan dan berusaha menutupinya. “Tuh kan, mulai menutupi sesuatu, rahasia, katanya brother, ah enggak asik nih Rakha.” Juna merasa sebal dengan Rakha yang terlihat merahasiakan sesuatu. “Ya sudah nanti malam, aku main ke rumah mu, sekalian kita mengerjakan PR, asik kan?” Rakha berniat menceritakan pada Juna. “Siap bro, nanti aku sediakan makanan, hahaha.” “Nah, begitu dong. Sekarang aku mau antar Luna, dan jangan berkomentar ya!” Rakha memberi tahu Juna bahwa ia akan mengantar pulang Luna. Juna hanya tersenyum menahan tawa melihat tingkah Rakha. Saat itu Luna sedang duduk beristirhat sambil meminum air mineral. Semilir angin yang berhembus menambah kesejukan hatinya. Ia telah memberikan performa yang terbaik untuk kemenangan kelasnya. Ia pun bisa mendamaikan perasaannya yang seringkali merasa galau tentang Rakha. Tampak dari kejauhan langkah Rakha menuju padanya. Luna yang tengah berdiam diri mulai beranjak dari duduknya. Ia bingung, ada perasaan ingin menghindar tetapi juga ada perasaan ingin bertemu Rakha. Saat kaki Luna mulai melangkah, Rakha langsung memanggilnya. “Luna.” Luna pun berhenti untuk melangkah dan menoleh ke arah Rakha. “Hai... Ada apa Rakha?” “Aku boleh antar kamu pulang?” “Oh... Iya boleh, tapi apa tidak merepotkan?” “Enggak, yuk jalan.” Luna pun berjalan beriringan dengan Rakha, saat itu tangan Luna mulai dingin, perasaan gugup mulai muncul, tapi Luna tetap tenang, ia berusaha menutupi perasaan itu. Sebenarnya mereka merasakan hal yang sama, dan saling menutupi. Saat mereka tiba di depan gerbang rumah Luna, hari semakin petang. Rakha langsung berpamitan pada Luna. Rasa bahagia di rasakan mereka. Terutama Luna, ia pun sangat semangat menjalani hari-harinya semenjak Rakha hadir dalam kehidupannya. Senja telah berganti petang, seperti janji Rakha yang akan bertamu ke rumah Juna malam ini. Seusai sholat isya, Rakha bergegas kerumah Juna ditemani motor kesayangannya. Saat melewati rumah Luna, Rakha menoleh ke arah gerbang rumah Luna. Karena gerbang rumah Luna lumayan tinggi dan tertutup, sehingga Rakha tidak bisa melihat aktifitas di sana. Jarak rumah Juna tidak terlalu jauh dari rumah Luna, dan Ayah Juna adalah teman satu kantor Papa Luna. Setelah sampai di depan rumah Juna, Rakha mengetuk pintu. Tak lama kemudian Ibunya Juna membukakan pintu dan menyuruh Rakha duduk di ruang tamu sambil menunggu Juna. “Hai...Bro.” Juna menemui Rakha di ruang tamu dan menyapanya. “PR nya sudah dikerjakan belum Jun?” “Ya lumayan lah, gimana Rakha? Apa mau langsung saja mengerjakan PR dulu?” “Boleh.” Mereka mengerjakan PR sambil duduk di teras rumah Juna. Kemudian Ibunya Juna mengantarkan minum dan beberapa camilan untuk di santap. “Ini nak minuman dan camilannya, dimakan ya!” “Oh iya Bu, terimakasih.” Rakha merasa betah main di rumah Juna. Setelah selesai mengerjakan PR, mereka berdua menyantap jamuan yang telah disediakan oleh Ibunya Juna. “Bro, aku minum dulu yah teh manisnya.” Rakha meminta izin pada Juna untuk menyantap jamuan yang telah di hidangkan. “Oh iya Bro, kalau kurang bilang saja!” “Siap.” Setelah Rakha menyantap camilan dan meminum teh manis, kini giliran Juna menanyakan kepada Rakha tentang Luna. “Bro, gimana si Luna?” “Ini rahasia antara dua sahabat ya!” Rakha tak ingin apa yang ia rasakanenjadi konsumsi publik. “Janji.” Juna menyanggupinya. “Intinya aku kagum terhadap Luna, berawal saat hari pertama sekolah, aku lihat di tersenyum, tapi entah apa yang aku rasakan, benar-benar sulit dimengerti.” Raut wajah Rakha sangat serius. “Nah itu namanya cinta monyet. Sesuatu yang biasa tetapi entah mengapa hasilnya terasa jadi luar biasa.” Juna mengumpamakan sesuatu. “Hah? Maksudnya seperti apa Jun?” Rakha bingung dengan penjelasan Juna. “Maksudnya begini, Luna tersenyum kan sesuatu hal yang lumrah dan biasa, tapi kamu lihat dia tersenyum entah mengapa sesuatu yang biasa itu jadi luar biasa.” “Nah itu yang aku rasakan, bro. Ingin sekali berteman dekat, tapi entahlah, aku jalani saja,hahaha.” Rakha tertawa dalam galau, sambil memakan camilan. “Tapi Bro, Luna itu memang dikenal sangat tertutup kalau masalah beginian. Karena prinsipnya ia ingin fokus belajar, hahaha...jadi kalau mau berteman dekat, mending sahabatan saja. Itu saran saya.” Obrolan Juna dan Rakha malam itu membuat Rakha sedikit lega. Karena apa yg selama ini ia rasakan dan ia pendam, sudah di ceritakan pada Juna. Mereka melanjutkan obrolan sampai jam 10 malam. Kemudian Rakha pulang dan berpamitan pada orang tua Juna. Hari demi hari telah terlewati, terik dan hujan pun ikut mewarnai suasana hari. Tiba lah babak semi final futsal putra antara kelas 2 IPA 1 dengan kelas 2 IPA 3. Hari itu Luna berangkat sangat pagi, karena ia menyiapkan beberapa materi hasil peliputan dies natalis yang sudah mulai ia ketik dan disimpan dalam flashdisknya. Ia akan memindahkan file ke komputer di sekretariat redaksi. Setelah itu ia berjalan menuju kelasnya. Saat Luna berjalan, seperti biasa Rakha dan Juna selalu muncul tiba-tiba di belakang Luna. “Hai...Luna.” Rakha dan Juna tiba-tiba menepuk pundak Luna. “Eh...kebiasaan mengagetkan orang.” Luna tampak kaget dan sedikit kesal, karena lagi-lagi mereka berdua sering mengagetkan Luna. “Ehem...Ehem.” Juna memberi kode sambil meledek Rakha dan Luna. “Batuk, Jun?” Luna bertanya pada Juna dengan ekspresi yang datar sambil terus berjalan dan tidak menoleh ke arah Juna. Karena Luna menyadari bahwa Juna hanya meledeknya saja. “Enggak sih, cuma keselek saja, hihihihi...” Juna menanggapi pertanyaan Luna sambil menahan tawa cekikikan. “Oh iya jangan harap nanti sore kalian dapat dukungan dari aku, pokoknya khusus nanti sore kita bersaing dulu.” Luna melirik ke arah Rakha dan Juna sambil tersenyum sinis, karena nanti sore adalah pertandingan semi final futsal pitra antara kelas 2 IPA 1 dengan kelas 2 IPA 3. “Yang benar? Luna enggak mau dukung aku?” Rakha menanggapi pernyataan Luna, sambil melirik ke arah Luna dengan tatapan penuh harapan. “Iya benar, hahaha...” Luna berlalu begitu saja sambil tertawa. “Ada yang sedih rupanya, hahaha.” Juna menyindir Rakha. “Oke, Luna kita bersaing dulu, tapi kalau tim futsal aku yang menang, kamu harus traktir aku makan bakso.” Rakha mengejar Luna dan menanggapi perkataannya. “Hahaha...oke, siapa takut, tapi kalau tim aku yang menang, kamu traktir aku makan ramen, sampai jumpa nanti sore, bye.” Luna berniat meledek Rakha, sambil berjalan dan melambaikan tangan. “Yah itu sih kalah atau menang sama-sama senang, hahahaha...” Juna nyeletuk spontan sembari menertawai sikap Luna dan Rakha. Penentuan pemenang pertandingan dibabak semi final akan berlangsung sore ini. Semua suporter dan tim futsal putra masing-masing kelas telah berkumpul dan bersiap memulai pertandingan. Rakha yang selalu menatap Luna diseberang sana, berharap memenangkan pertandingan ini, agar ia ditraktir oleh Luna. Begitupun sebaliknya, Luna merasa siapapun yang memenangkan pertandingan, akhirnya mereka akan jalan bareng juga. “Hayooo... Luna, dukung yang mana ni?” Vina meledek Luna dengam pertanyaan yang membingungkan. “Jelaa kelas kita lah, Vin.” Luna menjawab pertanyaan Vina sambil melirik dan sedikit tersenyum dengan senyuman yang penuh tanda tanya. “Hahahaha... Sudah lah Luna cerita saja sama aku!” “Hah? Cerita apa Vina?” Luna mulai berpikir bahwa Vina telah menyadari sikap Luna yang berbeda ketika di depan Rakha. “Ah ... Sudahlah pertandingan sudah dimulai tu.” Pertandingan sore itu sangat seru, babak pertama skor 2-1, sementara dimenangkan oleh kelas 2 IPA 3. Rakha dan teman satu kelasnya sangat bersemangat dan percaya diri akan memenangkan pertandingan dan masuk final. Luna dan kawan-kawan satu kelasnya juga saling menyemangati tim futsal putra. Hari semakin sore, pertandingan berlangsung sengit di babak kedua. Rakha dan Prima terlihat sangat kompak, bagaikan jawara futsal. Tetapi disaat Rakha berhadapan dengan salah satu punggawa futsal di kelas Luna, mereka sempat bertabrakan. Akhirnya Rakha terjatuh dan terlihat kesakitan. Seluruh penonton berteriak histeris, termasuk Luna yang terlihat sangat panik. “Astaghfirullah...Rakha.” Luna segera lari bersama Vina untuk melihat keadaan Rakha. “Vina, cepetan bantuin Rakha!” Luna terlihat panik dan bingung harus bagaimana, melihat Rakha masih berbaring di lapangan futsal. Setelah lima menit berlalu, terlihat Rakha sudah mulai membaik, ternyata saat bertabrakan dan terjatuh, sikut Rakha menahan badannya, sehingga cedera ringan dan memar. Kemudian Rakha beristirahat di tepi lapangan. Karena Rakha masih cedera maka ia tidak bisa melanjutkan mengikuti pertandingan yang hanya tinggal beberapa menit. “Rakha, kamu baik-baik saja?” Luna menanyakan keadaan Rakha dengan raut wajah yang masih pucat. “Iya, aku baik-baik saja, hanya sedikit pegal saja lenganku.” Rakha menjawab pertanyaan Luna sambil tersenyum untuk menutupi rasa sakitnya. “Iya, kamu kurang hati-hati Rakha.” Juna mengingatkan Rakha. “Makasih gaes, kalian teman terbaik aku.” Waktu semakin petang, Akhirnya pertandingan semi final dimenangkan oleh kelas 2 IPA 3. Sorak sorai suporter mewarnai senja itu. Rakha yang masih merasa sakit pada sikutnya terlihatbkesulitan membawa motor. Akhirnya Rakha diantar oleh Juna, dan motor Rakha di bawa Luna yang membonceng Vina. Kemudian mereka mengantar Vina terlebih dahulu sebelum mengantarkan motor kerumah Rakha. Setelah Vina diantar mereka bergegas ke rumah Rakha. Setibanya di rumah Rakha, ia menawarkan kepada Juna dan Luna untuk mampir tapi karena waktu sudah hampir maghrib maka mereka berpamitan pulang. “Luna, aku enggak menyangka kamu bisa pakai motor koplingan, hehe...” Rakha mulai meledek Luna walau lengannya masih sakit. “Ah.. Dia kan tomboy.” Juna pun ikut meledeknya. “Tapi tetap manis kan? Hahaha...” Luna malah menambah ceria suasana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD