Nayara Pingsan

1040 Words
Keesokan harinya. Nayara sudah berada di sekolahnya tanpa Ana yang biasa berada di sampingnya. Nayara tengah bersiap untuk mengikuti yang pelajaran olah raga yang akan di lakukan di luar kelas tepatnya di lapangan basket. Menunggu waktu pelajaran itu di mulai Nayara menyempatkan diri untuk membaca buku pelajaran yang akan diikut sertakan nanti ketika ujian tiba. Ana berjalan dari kejauhan menghampiri dirinya yang kemudian menepuk pundaknya. “Nay, kok malah baca sih? Kan bentar lagi pelajaran olah raga!” ujar Ana mengingatkan dengan napas yang sedikit ngos-ngosan. Nayara menutup bukunya kemudian menoleh ke arah Ana. “Ya gak papa kan sambil ngisi waktu,” jelas Nayara yang kembali melanjutkan membaca bukunya tersebut. Namun Ana tak pantang menyerah dia mengambil buku Nayara dengan paksa. “Kamu apaan sih!” kesal Nayara yang tak terima jika buku yang sedang dibacanya di rebut seenaknya oleh Ana. “Nayara! Denger! Kamu belum sarapan pagi ini karena sibuk belajar, apa susahnya sekarang kamu ngisi waktunya buat sarapan aja? Kan kita mau olah raga!” jelas Ana yang begitu perhatian pada sahabatnya, Nayara. Nayara menggelengkan kepalanya. “Aku gak laper! Lagian cuman olah raga biasa aja, udah biasa juga aku jarang sarapan bukan kali ini aja!” timpa Nayara yang sungguh bebal. Ana kesal dia menggulung telapak tangannya. “Udah sini!” rebut Nayara mengambil kembali bukunya dan meneruskan membaca bukunya. Apa daya akhirnya Ana pun hanya bisa menyerah dengan kerasnya kepala Nayara yang sedang ingin dan selalu belajar tanpa mengingat akan kondisi tubuhnya. Pelajaran pun dimulai. Seluruh siswa kelas tiga B berkumpul di lapangan untuk mengikuti pelajaran olah raga. Guru olah raga, Pak Radi memberi instruksi pada muridnya untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu dengan melakukan lari keliling lapangan sebanyak sepuluh putaran tanpa terkecuali. Ana sempat agak terkejut mengingat akan kondisi Nayara yang belum sarapan, namun apalah dayanya Nayara kali ini sedang bebal dia tak ingin diatur oleh siapapun. Ketika putaran keliling yang ketiga wajah Nayara tampak pucat dan terlihat keringat dingin. Ana yang melihat hal itu segera berlari menyusul Nayara yang masih saja memaksakan dirinya untuk terus berlari. “Nay, kamu kalau sakit udah istirahat aja dulu! Aku yang bilang sama Pak Radi!” ujar Ana yang mulai kawatir. Ana tahu bagaimana kondisi tubuh Nayara. Mereka bersahabat sudah sedari kecil. Walau pun tubuh Nayara lebih jangkung dari dirinya, akan tetapi masalah kondisi tubuh Nayara lebih mudah gontai. Apalagi jika tak sarapan. Nayara tak memggubrisnya. Dia hanya bisa memandang kesal pada Ariel yang sedang lari seperti murid lainnya. Ana pun segera berlari menyusul Ariel untuk meminta tolong agar menyuruh Nayara menghentikan larinya. Ariel mendelikkan matanya pada Ana. “Lihat Nayara! Dia jadi bebal banget karena lo!” geram Ana pada Ariel. “Apaan sih? Segala hal tentang dia lo nyalahin gua!” ujar Ariel yang tak tahu apa-apa. “Jelaslah nyalahin lo, semua yang Nayara lakuin itu semua atas keinginan lo! Keinginan lo untuk masuk ke sekolah yang lebih bagus dan Nayara juga ikutan usaha biar satu sekolah sama lo!” jelas Ana yang lagi-lagi menjelaskan akan sahabatnya yang begitu memuja Ariel si anak laki-laki idaman para wanita. “Suruh siapa dia ngikutin gua, otak udang mana bisa ngikutin gua!” ketus Ariel yang mempercepat larinya dan pergi lebih cepat sehingga meninggalkan Ana yang tercengang dengan kemarahannya. Dari arah belakang terdengar gemuruh. “Nayara pingsan!” Ana yang mendengar hal itu dengan segera balik badan untuk melihat kondisi lebih jelasnya Nayara. Dan benar saja Nayara sudah bergeletak di atas rerumputan lapangan. Ana mencoba menepuk-nepuk pipi Nayara namun tak berhasil. “Lo apaan sih dia pingsan mana bisa bangun kayak gitu?” kata Ariel yang sudah ada di sebelahnya. Seluruh murid mengerumuni Nayara. “Ahhh lo berisik amat, bantu gua na...” Tanpa harus mendengarkan Ana menyelesaikan kalimatnya, Ariel dengan segera menggendong Nayara untuk dia bawa ke ruang kesehatan sekolah. Hal tersebut membuat Ana agak terkejut. Pasalnya, Ariel sangat ketus dan dingin pada seluruh wanita. Dia terbilang termasuk laki-laki yang berhati dingin dan acuh. Namun kali ini pada Nayara dia begitu sigap. Dia menolong Nayara dengan segera. Apakah Ariel merasa bersalah? Atau memang dia kawatir? Pikiran hal itu membuat Ana berkecambuk. “Dia kenapa?” tanya Dokter Anita melihat Ariel begitu cemas dan berwajah panik membawa Nayara ke ruang kesehatannya. Ariel menyimpan Nayara di atas ranjang. “Dia tadi lagi lari keliling lapangan, tiba-tiba aja pingsan!” jelas Ariel yang begitu terburu-buru menjelaskannya. Napas Ariel menjadi tak karuan. “Ya udah kamu tenang yah! Sekarang tunggu aja di sana!” ujar Dokter Anita yang menyuruh Ariel untuk duduk kursi dekat pintu. Ariel pun mengikuti perintahnya. Dengan segera Dokter Anita langsung memeriksa Nayara. Setelah selesai memeriksa Nayara barulah tirai yang menghalangi ranjang Nayara dibukanya dan melihat Ariel begitu setia menunggu Nayara dengan raut muka yang masih mencemaskan Nayara. “Loh Riel? Kamu masih di sini?” tanyanya yang mengira jika Ariel sudah kembali karena tak dengar suara bisingnya. “Ah.. Gak bu! Gimana bu, Nayara sakit apa?” tanyanya yang segera berdiri ketika mengetahui Dokter Anita membuka tirai penghalang tersebut. Dokter Anita menoleh sebentar ke arah Nayara yang masih belum siuman. Kemudian dia berjalan dan duduk di sebelah Ariel yang berdiri. “Dia kelelahan, kayaknya gak makan beberapa hari ini. Mungkin karena stres mau ujian nasional! Kasihan dia! Coba kamu ingetin dia buat jangan sampe lagi ninggalin makannya! Apalagi sampe gak sarapan! Bahaya itu! Apalagi murid cewek kayak Nayara pasti banyak aktifitas di luar rumah!” tutur Dokter Anita yang membuat Ariel mengerti dengan mengangguk-anggukan kepalanya. Dokter Anita pun berdiri. “Ya sudah kamu temenin dia dulu! Saya mau buatin dia teh manis dulu!” ujarnya. “Oh bu biar saya aja!” kata Ariel yang berinisiatif untuk memberikan Nayara asupan pengisi tenaganya. Dokter Anita pun menganggukan kepalanya. Dia mempersilakan kemauan Ariel. Ariel pun segera bergegas dia berlari keluar ruangan. Dia langsung berlari ke arah kantin. “Bi saya pesen teh anget ya!” pinta Ariel di depan Bi Darmi penjaga kantin tersebut. “Loh buat siapa? Kamu gak belajar?”tanya Bi Darmi yang tak biasanya melihat seorang Ariel si anak rajin berada di kantin di jam pelajaran. “Buat temen saya dia tadi pingsan Bi!” jelas Ariel yang memilih beberapa roti dan dan juga mengambil beberapa kotak susu sesuai kesukaan Nayara. “Jadi semuanya berapa Bi? Sama ini?” tanya Ariel yang menyodorkan semua makanan yang sudah dia pilihkan untuk Nayara. “Wahhh banyak banget ini! Kamu perhatian banget sama temen kamu itu! Uang jajan kamu habis dong!” ucap Bi Darmi yang kagum pada kesetiaan kawan Ariel. Ariel hanya tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD