6. Hanya Sebuah Alasan

1266 Words
Pria itu memutar kembali tubuhnya untuk menghadap Laras, kali ini secepat kilat dengan mata yang membesar menatap sekertarisnya itu. “Iya. Menurut sepengetahuan saya, kalau seseorang merasakan perasaan seperti itu artinya orang itu jatuh cinta. Ah, setidaknya tertarik dengan orang yang terus dipikirkan atau ingin ditemui itu, kalau memang kata “jatuh cinta” terlalu ekstrim digunakan.” Mendengar penjelasan sekertarisnya itu membawa kaki Divan melangkah ke arah Laras lagi, dengan langkah lebar dan tegasnya. “Nah yang jadi pertanyaan sekarang. Siapa? Siapa perempuan itu? Siapa yang sudah membuat Pak Divan bisa merasakan perasaan tertarik lagi pada lawan je—mph! Pmah Dwifan!” “Kamu ini benar-benar, Laras! Kita ada di lorong kantor, dan siapa saja bisa mendengar suara kamu kalau kamu bicara sekeras itu!” Gerutu Divan, membekap mulut sekertarisnya sambil mengomel. Dahi Laras dibuat berkerut, sorot mata memelas meminta bekapan di mulutnya agar Divan lepas, dan ya, Divan jelas tidak akan setega itu membiarkan Laras kesulitan bernapas maupun bicara terlalu lama. “Jaga ucapan kamu jangan seperti itu lagi kalau di tempat umum.” Entah bagaimana ancaman itu malah memancing senyum lain di bibir Laras meski sebelumnya gadis itu cemberut setelah bekapannya dilepas Divan. “Itu artinya kalau di ruangan Bapak nggak masalah kalau saya tanya-tanya, kan?” Mata Divan menyipit, menyorot tajam ke arah sekertarisnya itu. “Nggak boleh!” Seru Divan tegas, kemudian berbalik dan meninggalkan Laras dengan pergi lebih dulu. Bibir Laras kembali ditekuk, tapi tentu tidak mengurungkan kegigihan gadis satu itu meski sudah mendapat larangan dari atasannya. Laras mengejar langkah Divan dan berjalan di sampingnya. “Siapa? Siapa, Pak? Ayo beritahu saya. Hm?” Hah... Entahlah, Divan tidak tahu harus bagaimana menghadapi sekertarisnya itu. Ingin Divan pecat tapi pekerjaan Lara situ baik sekali, perempuan berusia 24 tahun itu cekatan dan benar-benar tanggap dalam menjalani semua tugasnya, pokoknya baik sebagai pekerja. Buruknya, tidak—buruk agaknya terlalu kejam, jeleknya saja. Jeleknya, Laras kadang terlalu ingin tahu dan mencampuri urusan Divan meski tidak pada hal-hal yang serius atau krusial. *** Tidak seperti biasanya hari itu Divan pulang lebih awal. Tidak menunggu dirinya lelah atau mengantuk lagi seperti biasa, tidak juga menunggu pesan dari anak-anaknya yang menanyakan kapan Divan ada di rumah. Tidak. Hari itu Divan tidak memutuskan pulang lebih awal karena semua itu. Langit memang sudah terlanjur gelap, tapi Divan tidak sampai membuat jalanan di luar sepi. Divan melajukan mobilnya ketika kemacetan masih mengurai, bersama pengendara lain berbagi jalanan untuk menuju tempat tujuan masing-masing. Dan di sana-lah Divan kembali berakhir. Di universitas tempat gadis yang mengisi pikirannya hampir seharian ini. Iya, gadis yang dibicarakan Divan pada Laras secara anonim tadi. “Divan... Ada apa denganmu? Kenapa kamu sampai seperti ini hanya karena gadis itu sih? Dan apa? Apa yang sebenarnya yang kamu harapkan?” Gumam Divan, lagi, menggertu pada dirinya sendiri. Sungguh. Divan tidak pernah seperti ini sebelumnya, dan tidak tahu kenapa pula jadi seperti ini. Divan... entahlah, pria itu tidak bisa menjelaskan kenapa dan apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Jatuh cinta? Seperti apa yang tadi dijelaskan Laras? Yang benar saja! Pada gadis yang hampir seusia dengan anak sulungnya? Bagaimana bisa? Jangan bercanda! “Hahhh...” Helaan napas itu keluar dari mulut Divan setelah berbagai pikiran mampir di kepalanya. Apa yang dikatakan Laras memang sedikit-banyak memengaruhi pikirannya, tapi tentu saja dengan berbagai pertentangan, hhm... dan juga sangkalan tentu saja. Tapi tanpa benar-benar sadar, nalurinya justru sudah membawa tubuhnya berada di tempat itu saja. Sekali lagi Divan menarik dan menghembuskan napasnya pelan, memandangi ukiran nama universitas tempat gadis yang membuatnya kepikiran itu menimba ilmu. Pria itu menyerah, bahkan meski sudah dua kali berada di sana Divan tetap tidak tahu apa yang dia inginkan dan harus dirinya lakukan untuk bertemu dengan gadis itu lagi. Tepat ketika Divan sudah menarik persneling untuk mengeluarkan mobil dan melajukannya pergi dari tempat itu, Divan harus mengurungkan niatannya. Mata pria itu sudah mengarah ke depan, ke jalanan seharusnya, namun teralihkan karena sesosok gadis berdiri tepat di depan mobilnya dengan menebarkan seulas senyum yang membuat dadanya sesak dan berdegup kencang di saat bersamaan. Mata Divan mengamati setiap gerak yang dilakukan gadis itu, melangkah mengelilingi separuh bagian depan mobil hingga berhenti di sisi pintu mobil bagian kemudi di mana Divan saat ini duduk. Gadis itu mengetuk kaca mobil, masih dengan senyum lembut dan ramah yang sama. “Bapak.” Seru suara itu yang entah bagaimana caranya bisa mengakhiri kegersangan di hati Divan yang sudah berlangsung seharian ini. “Saya pikir saya salah lihat, ternyata memang benar ini mobil Bapak. Sedang apa di sini?” Dari cara memanggil dan menyebutnya saja, seharusnya Divan sudah sadar bahwa perbedaan usia mereka jelas pasti lebih jauh, kan? Sedikit risih dengan panggilan atau sebutan itu sebenarnya, tapi ya apa boleh buat, meminta gadis ini untuk memanggilnya dengan cara berbeda juga rasanya tidak tepat jika ini masih pertemuan kedua mereka—ah, ketiga kalau dari sisi Divan, karena siang tadi tetap harus di hitung, bukan? Meski masih di hari yang sama. “A-ah, ya. Hai, kamu...” Nah loh, Divan jadi salah tingkah dan tidak tahu harus mengatakan apa, kan? Karena dirinya datang juga memang tanpa persiapan atau perhitungan apa-apa. Pria itu benar-benar hanya mengikuti nalurinya saja. Sebelah alis gadis itu naik, menunggu kalimat apa yang akan Divan katakan sebenarnya. “A-eum... itu, sebenarnya saya datang hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja setelah pulang larut kemarin, kan? Dan ya, sedikit khawatir kalau kamu mungkin akan pulang larut lagi seperti kemarin. Jadi...” “Saya? Bapak mengkhawatirkan saya?” Tanya gadis itu, mengarahkan satu tangannya ke dirinya sendiri yang seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “Tapi... bagaimana bisa? Maksud saya, memangnya saya mengatakan pada Bapak kalau saya kuliah di sini? Dan bagaimana kalau Bapak datang tapi tidak bertemu dengan saya? Karena bagaimanapun kampus ini luas sekali dan mahasiswanya jelas—” “Saya tahu. Ya, tentu saja saya tahu.” Sambar Divan cepat, mengangguk setuju namun dengan tambahan di kepalanya yang sayangnya Divan pikir tidak mungkin Divan ungkapkan. “Sayangnya otak, hati dan tubuh saya tidak mengerti, hingga bagaimana ceritanya sudah berakhir di tempat ini. Bahkan kedua kalinya di hari ini.” “Saya menemukan kertas ini di mobil ngomong-ngomong.” Divan meraih selembar kertas yang di taruhnya di dashboard mobil, memperlihatkannya ke hadapan gadis itu sambil menambahkan. “Dan setelah mengamatinya dengan baik, di sana ada logo universitas ini, jadi...” Kedua bahu Divan terangkat naik, tanpa perlu menyelesaikan kalimatnya Divan rasa gadis itu sudah bisa memahami dengan baik kali ini. “Tapi tetap saja, untuk datang ke sini hanya karena mengkhawatrirkan saya itu rasanya...” Ya tentu, itu aneh dan benar-benar tidak biasa, kan? Tahu, Divan tentu tahu maksud dan kemana arahnya. “Benar, saya minta maaf. Itu pasti membuat kamu nggak nyaman, kan? Well, yang penting saya udah lihat kamu baik-baik saja. Dan karena ini belum terlalu malam saya rasa kamu juga bisa pulang lebih aman. Eh, tapi kamu memang berencana pulang sekarang, kan?” “Tidak! Ah, maksud saya iya. Iya saya memang mau pulang sekarang. Tapi maksud saya Bapak tidak membuat saya merasa tidak nyaman sama sekali. Bukan ke arah sana, saya cuma nggak enak karena Bapak sampai memikirkan dan mengkhawatirkan saya seperti ini, padahal...” “Itu karena saya punya anak yang kurang-lebih seusia kamu. Ya meski saya tidak punya anak perempuan, tapi tetap saja, mengakhawatirkan seorang anak tidak harus melihat apa jenis kelaminnya, kan?” Hm, kali ini Divan terdengar lebih meyakinkan, meski dirinya sendiri tidak tahu dari mana alasan itu tiba-tiba datang dan keluar dari mulutnya. Padahal sebelum ini, alasan macam itu sama sekali tidak terpikirkan oleh Divan, sama sekali tidak melintas di kepalanya sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD