Risa berdiri di satu pintu salah satu kamar yang ada di rumah itu. Terlihat ragu-ragu mengangkat tangannya bermaksud untuk mengetuk pintu di depannya itu. Iya, itu pintu kamar Farrel, yang sebelumnya bisa dikatakan masih dapat dihitung dengan jari berapa kali Risa mengetuknya sejak menginjakkan kaki di rumah itu. Kepalan tangan Risa terbuka dan menutup beberapa kali, sebelum akhirnya wanita itu menarik napasnya dan memantapkan diri untuk benar-benar mengetuknya. “Farrel... ini Bunda.” Tanpa menyebutkannya pun, sebenarnya Farrel pasti tahu yang memanggilnya itu Risa. Yah, katakan saja Risa berjaga-jaga, siapa tahu Farrel akan mempertanyakannya sebelum membuka pintu kamarnya itu. “Masuk, Bun. Nggak dikunci.” Sahut penghuni kamar itu tak lama. Risa mengangguk kecil begitu mendapatkan izi

