[HAGIA] . Seharusnya aku menaruh curiga sejak lama pada anak muda itu. Sejak dia mendekati Sophia, di pesta yang diadakan orang tuanya. Melihat keberadaanku, Zayn Ersoy beranjak dari kursinya, lalu berdiri dengan kedua tangan terentang, seakan menyambutku sebagai orang yang sudah lama ditunggu kehadirannya. "Wah, wah, Tuan Hagia Dewangga, selamat datang! Senang rasanya anda bisa bergabung dengan kami, siang ini." Dia melangkah mendekatiku, juga empat orang anak buahnya yang berada di dalam ruangan yang sama, mengiringinya dari belakang. Bisa kulihat, sepucuk pistol tersembunyi di balik jas mereka. Seperti keamanan gedung pada umumnya, sebelum masuk lobby tamu yang datang harus melewati metal detector, tapi ternyata gedung ini memberikan akses khusus untuk dilewati pengawal-pengawal be

