TANGGUNG JAWAB DAN KESUNYIAN
Bau keringat ketakutan, darah, dan aspal basah memenuhi ruang hampa yang tercipta di sekitar mereka. Brigadir Ario Pratama berdiri tegak, napasnya sedikit tersengal, tapi tangannya masih kokoh mencengkeram lengan sang bandar narkoba, Ferdy, yang kini terduduk lesu di tanah dengan tangan terborgol. Jeritan sirene mobil patroli yang baru saja tiba menyayat malam, memantulkan cahaya biru-merah di wajah-wajah penuh keputusasaan para pengedar itu.
“Sudah cukup, Ferdy,” suara Ario rendah tapi memotong, seperti pedang yang ditusukkan tepat sasaran. “Drama mu sudah selesai.”
Operasi penyergapan yang berlangsung tiga bulan ini akhirnya berakhir di sebuah gudang tua di kawasan industri. Bukan dengan tembak-menembak spektakuler, tapi dengan kepungan taktis dan kecerdikan membaca pola. Ario, dengan naluri anjing pelacaknya, telah memprediksi setiap langkah pelarian mereka. Ia adalah otak di balik strategi ini, dan hasilnya terbukti di depan mata.
“Kau pikir kau pahlawan, Pratama?” desis Ferdy, matanya penuh kebencian. “Kau cuma anjing penurut yang dikasih seragam.”
Ario tidak bereaksi. Ia sudah terlalu sering mendengar hinaan seperti itu. Ia membantu Ferdy berdiri dengan kasar tapi profesional, lalu menyerahkannya pada rekan-rekannya yang akan memborgol yang lain. Di matanya, ini bukan tentang jadi pahlawan. Ini tentang membersihkan sampah dari jalanan, satu per satu.
***
Beberapa jam kemudian, kesunyian di dalam mobil dinasnya terasa kontras dengan keriuhan sebelumnya. Ario duduk di balik kemudi, masih mengenakan rompi anti peluru yang terasa berat di pundaknya. Ia baru saja mengantar tumpukan “sampah” itu ke tahanan. Kota malam terlihat damai melalui kaca depan, lampu-lampu jalan berbaris seperti kunang-kunang yang tertib.
Dia menyalakan mesin, tapi belum juga mengemudi. Tangannya yang tadi begitu mantap memegang senjata dan memborgol, kini terlihat lemas menggenggam setir. Keheningan mobil itu seperti amplifier bagi segala suara di kepalanya. Suara hinaan Ferdy bergema, tapi kemudian tertutup oleh suara lain—suara yang selalu menjadi obat dan luka baginya.
“Papa pulang jam berapa?”
Suara Kirana, ringan seperti lonceng, mengusir semua bayangan penjahat di pikirannya.
Dia menghela napas panjang, kepalanya bersandar ke sandaran jok. Di kaca spion, tergantung gantungan kunci kecil berbentuk kelinci—hadiah dari Kirana ulang tahunnya yang ke-6. Senyum tipis akhirnya menghiasi bibirnya yang lelah.
Hidupku, pikirnya, adalah peralihan abadi antara dua dunia yang bertolak belakang.
Dunia pertama adalah dunia yang baru saja dia tinggalkan: dunia yang keras, penuh tipu muslihat, amoral, dan penuh kekerasan. Dunia di mana ia harus menjadi batu, keras dan tak tergoyahkan. Dunia di mana nama “Brigadir Ario Pratama” cukup untuk membuat lutut para penjahat gemetar.
Dan dunia kedua… dunia yang sedang menunggunya di sebuah apartemen kecil yang hangat. Dunia yang diisi dengan tawa cempreng, cerita dongeng sebelum tidur, aroma mie telor buatannya, dan jalinan rambut yang selalu acak-acakan. Dunia di mana dia bukan “Brigadir”, tapi hanya “Papa”.
Terkadang, garis pemisah kedua dunia itu begitu tipis dan mulai kabur. Bau keringat ketakutan dari seorang penjahat bisa tiba-tiba mengingatkannya pada bau sampah yang harus dia tangani seorang diri setelah Alika pergi. Sensasi detak jantung yang kencang saat mengejar penjahat, mirip dengan detak jantungnya yang berdebar kencang dan penuh ketakutan di ruang bersalin delapan tahun yang lalu.
Dia memandangi bayangannya sendiri di kaca depan. Wajah yang sama yang tadi menatap tajam para penjahat, kini terlihat rapuh dan penuh bekas luka yang tak terlihat. Bagaimana mungkin satu jiwa bisa menampung dua kepribadian yang begitu berbeda? Bagaimana mungkin tangan yang hari ini bisa begitu kasar, besok pagi harus dengan lembut menjalin rambut putrinya?
Dia menarik napas dalam-dalam, memutuskan untuk mengusir semua renungan itu. Dia memasukkan mobilnya ke gigi, dan mulai melaju. Tujuannya jelas: pulang. Menuju cahaya dalam hidupnya. Menuju satu-satunya alasan dia masih bisa berdiri tegak setelah badai kehidupan menerpanya. Perjalanan pulang ini, seperti selalu, adalah jembatan penyembuhan baginya. Sebuah transisi dari Sang Naga kembali menjadi Sang Matahari.
Tapi di balik semua itu, di sudut paling gelap hatinya, sebuah pertanyaan selalu mengintai: Apakah Kirana suatu hari nanti akan takut padaku, jika dia tahu apa yang harus ayahnya lakukan di dunia yang lain itu? Apakah dia akan mengerti, bahwa semua ini kulakukan untuk menjaganya?
Pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Dan untuk malam ini, seperti malam-malam lainnya, dia akan menguburnya dalam-dalam, bersiap untuk menyambut putrinya dengan senyum terbaiknya.