Bab 4

777 Words
Yara menghela napas panjang, seakan ingin mengeluarkan semua beban yang tertahan di dadanya sejak kembali ke tanah kelahirannya. Tatapannya jatuh ke wajah Steven yang kini berdiri dengan ekspresi serius—mata itu menyimpan segudang pertanyaan, terutama tentang enam tahun kepergiannya yang penuh misteri. "Bukan urusanmu," jawab Yara singkat. Suaranya datar, namun terdengar jelas nada bergetar di sana. Steven mengangkat alis. Sorot matanya mengeras, nadanya meninggi sedikit. "Jelas ini urusanku, Yara. Aku ini pamanmu, dan baru sekarang aku tahu bahwa kau hamil, lalu punya anak. Kau pergi karena menyembunyikan kehamilan ini dari kami... atau hanya aku saja yang tidak kau beri tahu?" Tenggorokan Yara tercekat. Ia memalingkan wajah, menatap ke jendela bandara yang mulai dibasahi embun. Matanya berkaca, namun ia berusaha tetap tenang. Steven mendekat, tak ingin percakapan itu menggantung. Dengan pelan namun tegas, ia meraih dagu Yara, memaksanya untuk menatap langsung ke matanya. "Jelaskan, apa maksudmu tadi, Yara," desis Steven, nadanya seperti cambuk bagi hati yang terluka. Yara menahan napas, lalu menariknya dalam-dalam. "Aku tidak tahu siapa ayah dari anakku, Steven. Saat itu... aku sedang mabuk. Dia juga begitu. Kami sama-sama kehilangan kendali. Itu sebabnya aku pergi—untuk menyembunyikan kehamilanku ini," ujarnya dengan suara bergetar, berdusta dengan penuh beban yang menyesakkan d**a. Steven terdiam. Tangannya perlahan turun dari wajah keponakannya. Di balik sikapnya yang tegas, hatinya tergores. Ia merasa ada sesuatu yang tidak dikatakan Yara, tapi tak ingin memaksanya lebih jauh. "Sama sekali tidak tahu? Saat kau bangun, dia sudah tidak ada?" tanyanya lirih, mencoba mencari celah dalam cerita Yara. Yara mengangguk dengan cepat. "Ya... dia pergi begitu saja setelah... setelah kami tidur bersama." Tak ada yang berkata untuk beberapa detik. Diam yang mencekam seolah melingkupi keduanya. Kemudian Yara bergerak lebih dulu, melangkah meninggalkan terminal kedatangan, berjalan cepat menuju mobil yang sudah menunggu. Ia ingin segera pulang. Ingin cepat sampai ke tempat yang dijanjikan sebagai 'rumah' setelah bertahun-tahun tinggal di negeri asing. Steven menyusul di belakang. Dalam diam, ia membawa koper besar milik Yara dan menggendong Lucas yang tertidur di kursi penumpang belakang. Anak itu tak terbangun sepanjang perjalanan—tubuh mungilnya hangat dan tenang dalam pelukan Steven, membuat hatinya sesekali mencelos tanpa alasan yang jelas. Setibanya di rumah, Yara langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Steven menurunkan koper, lalu duduk di sofa ruang tamu sambil menatap punggung Yara yang sibuk membuka tas Lucas. "Lalu, apa saja yang kau lakukan selama di sana?" tanyanya akhirnya, memecah keheningan. Yara menoleh, suaranya datar, tanpa emosi. "Hamil. Melahirkan. Membesarkan Lucas." Steven menyipitkan mata. "Hanya itu?" Yara mengangguk sambil menggendong Lucas yang masih tertidur, lalu membawanya ke kamar yang telah disiapkan. Steven hanya menatap punggung itu, yang entah mengapa terasa asing meski dulu pernah begitu akrab dengannya. "Bagaimana dengan orang tuamu? Mereka tahu bahwa kau sudah punya anak?" "Tentu." Jawaban itu singkat dan dingin. Steven menghela napas pelan. Ia merasa seperti orang asing dalam cerita hidup keponakannya sendiri. "Rupanya hanya aku yang tidak tahu soal ini. Bahkan kau hilang kontak begitu saja, seolah aku ini tidak penting bagimu." Yara terdiam sejenak, lalu berjalan ke arah pintu. "Maaf, Steven. Lebih baik kau pulang saja. Terima kasih sudah mengantar kami ke rumah." Nada bicaranya tegas. Bukan karena benci—tapi karena takut. Takut jika ia terlalu lama bersama Steven, kebohongan yang ia bangun selama enam tahun ini akan runtuh dalam sekejap. Karena sesungguhnya, Lucas... adalah darah daging Steven sendiri. Steven menatapnya dengan dahi berkerut. "Apa Lyra tidak memberitahumu sesuatu?" Yara menoleh setengah. "Apa?" "Dia memintaku tinggal di rumah ini sampai kau punya suami. Awalnya aku tak tahu maksudnya. Tapi sekarang aku tahu... rupanya tujuannya agar kau tidak kebablasan lagi." Yara menegang. "Apa?" ucapnya dengan suara setengah berbisik, matanya membesar karena kaget. Steven mengangkat kedua tangan seolah menenangkan. "Hanya sementara, Yara. Ayahmu—James—katanya akan menjodohkanmu dengan anak dari kliennya. Aku disuruh tinggal di sini beberapa bulan saja sampai kau resmi menikah." Yara tercengang. Perjodohan? Ia menggenggam ponselnya, buru-buru mencari kontak sang papa. "Papa, apa benar yang dikatakan oleh Paman Steven bahwa kau akan menjodohkanku?" Dari seberang, terdengar suara berat James yang langsung mengiyakan. "Ya. Karena kau sudah tiba di sini, jadi kita percepat saja perjodohan itu." "Tidak! Tidak, Pa. Aku tidak mau dijodohkan dengan siapa pun! Biarkan aku sendiri yang mencari jodohku, Papa!" suara Yara nyaring penuh dengan penolakan. James terdengar menghela napas. "Apa lagi yang kau tunggu, Yara? Anakmu sudah besar. Bahkan pamanmu sendiri akan segera menikah. Kau pikir kami bisa diam melihatmu begini terus?" Yara terdiam seketika. Pamanmu akan segera menikah. Kata-kata itu menggaung di telinganya. Perlahan, ia menoleh ke arah Steven. "Apa benar itu, Steven?" gumamnya lirih, seolah tak percaya. Steven mengerutkan alis, sedikit bingung. "Apa?" Yara menatapnya, matanya memerah. "Kau ... kau akan segera menikah?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD