Bab 3

687 Words
Enam tahun kemudian …. Sudah enam tahun berlalu sejak terakhir kali ia melihat Yara. Enam tahun yang penuh tanya, ke mana perginya keponakannya itu. Enam tahun tanpa kabar. Keluarganya bungkam, termasuk sang kakak—Lyra—yang selalu menghindar jika ia bertanya tentang keberadaan Yara. Steven memendam segalanya, termasuk perasaannya. Tapi hari ini semua itu akan berakhir. Ia mengecek ponsel. Pesawat dari London telah mendarat sejak lima belas menit yang lalu. Matanya menyapu kerumunan orang-orang yang keluar satu per satu dari pintu kedatangan internasional. Degup jantungnya memburu. Jari-jarinya mengepal di saku coat. Wajahnya tegang, matanya tak berkedip. Hingga… “Ups! Maaf, Paman! Aku tidak sengaja.” Tiba-tiba seorang anak kecil menabraknya. Tangannya yang memegang cup kecil berisi camilan tumpah, mengotori celana Steven. Steven mundur selangkah dan melihat ke bawah. Cokelat cair menodai kain celananya. “Huh—” Steven mengerutkan kening. “Kau membuat celanaku kotor, anak kecil!” gerutunya sembari membersihkan celana hitam yang ia kenakan itu. Anak kecil itu tampak ketakutan. Usianya mungkin sekitar lima tahun. Wajahnya bulat, hidungnya mancung, dengan mata hitam yang menatap Steven dengan polos namun dalam—seolah memohon pengampunan dunia. Pipinya merah, dan rambut hitamnya sedikit ikal. “Maafkan aku, Paman. Aku tidak sengaja,” ujarnya lirih, menunduk. Steven menghela napas. Rasa jengkel yang sempat menggelegak di dadanya perlahan sirna melihat wajah polos itu. Ia mengibaskan sisa camilan dari celananya, lalu menggeleng sambil tersenyum kecil. “Hati-hati lain kali. Jangan lari di tempat ramai, oke?” Anak itu mengangguk cepat. “Baik, Paman. Sekali lagi aku minta maaf.” Lalu, dengan lincahnya, bocah itu berbalik dan berlari ke arah seorang wanita yang baru keluar dari pintu kedatangan. Ia memekik dengan girang: “Mamaaa!” Steven memutar tubuhnya, mengikuti arah lari bocah itu. Detik itu juga, dunia seolah membisu. Wanita itu …. Yara. Wanita dengan coat camel panjang, rambut bergelombang yang dibiarkan terurai, dan mata yang langsung membulat saat menyadari siapa pria yang berdiri hanya lima meter darinya. Mulutnya terbuka sedikit, lalu tertutup kembali. Senyumnya muncul canggung penuh keraguan. “Hai,” sapa Yara dengan suara pelan, seolah menyapa orang asing. “Senang bertemu kembali denganmu.” Steven berdiri terpaku. Ia tak bisa langsung merespons. Matanya berpindah dari wajah Yara ke bocah kecil yang kini memeluk kaki ibunya. “Dia anakmu?” Suara Steven berat dan dalam. Pandangannya menajam, namun bukan karena marah—karena keterkejutan yang sulit ia kendalikan. Yara menunduk, lalu mengangguk perlahan. “Ya, dia anakku.” Deg. Jantung Steven seperti berhenti berdetak. Matanya menatap anak itu sekali lagi, lalu kembali ke Yara. “Bagaimana bisa? Kau pergi begitu saja dan punya anak?” Suaranya bergetar. Rasa tak percaya tumbuh dalam hatinya ketika tahu bahwa anak dari kakak angkatnya telah memiliki seorang putra. Yara menatap Steven dengan tatapan sulit dijelaskan. “Aku tidak pernah berniat pergi tanpa kabar, Steven. Tapi waktu itu aku harus pergi. Aku tidak bisa tinggal di sini.” Steven mendekat dua langkah. Suaranya kini lebih pelan, seolah tak ingin bocah itu mendengar. “Kau tidak sendiri saat pergi ternyata kau sedang mengandung.” Yara menggigit bibir bawahnya. Tangannya secara refleks mengusap kepala anaknya. “Aku bingung waktu itu. Terlalu banyak yang harus kupikirkan.” “Mama. Aku tidak sengaja menumpahkan makanan pada paman itu. Tapi, aku sudah meminta maaf padanya,” ujar anak kecil tampan itu mengadu pada sang mama. “Sudah Mama bilang padamu, jangan berlarian.” Yara mengusap pucuk kepala anaknya dengan lembut. “Siapa namamu, anak kecil?” tanya Steven kemudian. Anak kecil itu menoleh menatap Steven. “Lucas.” Yara menatap Lucas dan Steven bergantian. Kemudian menatap anaknya dengan tatapan lembutnya. “Lucas, perkenalkan. Ini Paman Steven yang akan mengantar kita ke rumah,” ucap Yara dengan lembut. “Halo, Paman Steven. Nice to meet you.” Steven tersenyum canggung. Ia kemudian mengangguk dan menjulurkan tangannya pada Lucas. “Lalu, di mana ayahnya?” tanya Steven kembali menatap Yara. “Aku ingin kenalan dengan suami dari keponakanku ini.” Yara menggeleng cepat. “Aku tidak menikah, Steven. Aku single mom.” Steven membelalakkan matanya. Wajahnya berubah, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Apa maksudmu, Yara?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD