Satu bulan kemudian ….
Entah sudah berapa kali pagi ini ia berlari ke kamar mandi hanya untuk memuntahkan isi perutnya.
Tak ada makanan yang bertahan lama di lambungnya. Sesuatu terasa tidak beres. Kepalanya pening, tubuhnya gemetar.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Yara meraih alat tes kehamilan yang baru saja dibelinya secara diam-diam di apotek kecil dekat taman kota.
Ia mengurung diri di kamar mandi, menatap pantulan wajahnya di cermin yang terlihat jauh lebih tua dari usianya yang masih dua puluh tiga tahun.
Perlahan, ia menurunkan pandangan ke alat tes yang kini menunjukkan dua garis biru.
Sunyi. Hening. Dunia seolah berhenti berputar.
“Tidak mungkin,” gumamnya pelan. Ia menggeleng pelan, berusaha menyangkal kenyataan yang terpampang di hadapannya.
“Bagaimana mungkin aku bisa hamil? Aku baru satu kali melakukannya,” lirih Yara, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis yang mulai mendesak keluar dari sudut matanya.
Pikirannya kacau. Ia memeluk tubuhnya sendiri, duduk bersandar pada dinding kamar mandi yang dingin. Jantungnya berdegup cepat, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Beberapa menit kemudian, Yara akhirnya keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai. Di tangannya, ia masih menggenggam erat tespack tersebut, seolah berharap benda itu hanyalah mimpi buruk yang akan lenyap jika ia membuka mata lagi.
Langkahnya langsung terhenti di ambang pintu kamar saat melihat sosok sang mama, Lyra, berdiri kaku di depan tempat tidurnya. Wajah wanita paruh baya itu tegang, kedua tangannya terlipat di d**a, matanya tajam menatap putrinya.
“Apa itu, Yara?” tanya Lyra dengan nada curiga, pandangannya langsung tertuju pada benda kecil di tangan Yara.
Tertegun, Yara secara refleks menyembunyikan tespack itu di belakang tubuhnya. “Bu-bukan apa-apa, Ma,” jawabnya dengan suara gemetar, jelas sekali ia sedang menyembunyikan sesuatu.
Lyra menghela napas berat, lalu berjalan menghampiri Yara. “Jangan bohong, Yara. Aku bahkan mendengar kau muntah-muntah di kamar mandi sejak pagi.” Dalam satu gerakan cepat, ia merebut benda itu dari tangan anaknya dan menatap hasilnya.
Dua garis biru. Jelas. Tak terbantahkan.
Matanya membelalak, dadanya bergemuruh. “Siapa dia, Yara? Siapa ayah dari anak yang sedang kau kandung?”
Yara menelan ludahnya dengan susah payah. Tubuhnya melemas seketika, dan hatinya tercekat.
Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya—bahwa anak yang dikandungnya adalah hasil dari satu malam bersama Steven, adik angkat ibunya sendiri.
“Cepat katakan, Yara. Anak siapa yang kau kandung itu?!” bentak Lyra, emosinya meledak karena keheningan Yara terasa seperti pengkhianatan yang tak bisa dimaafkan.
“Aku… aku tidak ingat, Ma. Maafkan aku. Saat itu aku sedang mabuk,” ucapnya, berbohong demi melindungi rahasia besar itu.
“Apa?! Tidak ingat?” suara Lyra naik satu oktaf. Ia mengerutkan kening dalam-dalam. “Apa kau bodoh, Yara? Bagaimana mungkin kau tidak tahu siapa pria itu?” Tangan Lyra mengusap wajahnya sendiri, antara marah, kecewa, dan bingung.
Yara menunduk. “Ya. Aku benar-benar tidak tahu, Ma. Tapi… aku tidak bisa menggugurkan kandungan ini. Maaf, sudah membuat Mama kecewa.”
Untuk sesaat, ruangan itu hening. Hanya suara napas yang terdengar. Lyra menatap wajah anak perempuannya, mencoba membaca isi hati gadis itu.
“Mama akan mencarikan suami yang mau bertanggung jawab dan menerima anak yang sedang kau kandung, Yara.”
“Tidak, Ma!” Yara mendongak cepat, matanya melebar. “Aku ingin membesarkannya seorang diri. Jangan carikan ayah untuk bayi ini.”
“Kau pikir membesarkan seorang anak itu mudah, Yara? Jangan membantah! Kau harus menikah demi nama baik keluarga kita!” ucap Lyra dengan nada keras, menunjukkan ketegasannya sebagai seorang ibu dan seorang wanita yang sangat peduli akan reputasi.
“Aku tidak yakin ada yang mau menerimaku, Ma. Jadi… biarkan aku membesarkan anak ini. Aku akan pergi dari kota ini jika Mama tidak mau nama baik keluarga ini hancur karenaku.”
Pernyataan itu seperti petir di siang bolong. Lyra membeku. “Apa kau gila, huh?” ucapnya lirih. Ia tak habis pikir anaknya memilih pergi ketimbang menikah demi menyelamatkan muka keluarga.
“Maaf, Ma. Daripada aku harus menikah dengan pria yang tidak aku cintai, lebih baik aku pergi saja.”
“Lalu kau pikir kau akan bertemu dengan ayah dari anak yang kau kandung ini? Apa dia akan bertanggung jawab setelah tahu kau hamil?”
Yara terdiam. Ia tahu jawabannya. Tidak. Steven tidak akan pernah tahu… karena tidak boleh tahu.
“Aku tidak berharap akan bertemu dengannya. Mama jangan khawatir. Aku akan jaga diri di sana,” ucap Yara dengan mantap. Meski suaranya gemetar, sorot matanya menunjukkan tekad yang kuat.
Lyra menghela napas panjang. Ia tahu, sejak Yara memutuskan, tak ada yang bisa mengubah pikirannya.
“Kau benar-benar tidak tahu siapa orangnya, Yara?” tanya Lyra sekali lagi, kali ini suaranya melemah, seperti sisa dari amarah yang mulai mereda.
Yara menunduk. “Tidak tahu, Ma,” jawabnya singkat.
**
Beberapa hari kemudian
Steven berdiri di depan gerbang kampus Yara. Sudah dua puluh menit ia menunggu, namun sosok Yara belum juga terlihat.
“Kenapa belum keluar juga…” gumamnya sambil menekan nomor Yara di ponselnya. Namun hasilnya nihil. Nomor tidak aktif.
Steven mengernyit. Tidak biasanya Yara tidak mengaktifkan ponselnya.
Perasaan tak enak mulai menyelinap. Ia masuk kembali ke dalam mobil, mencoba menelepon Lyra.
“Yara tidak masuk kuliah? Kenapa tidak ada di kampus?” tanya Steven cepat.
Ada jeda sunyi di seberang. “Tidak perlu menjemputnya lagi, Steven. Yara sudah tidak kuliah di sana lagi.”
Rem mobil ditekan mendadak. Steven menghentikan laju kendaraannya dengan wajah tak percaya.
“Maksudmu? Kenapa Yara tidak kuliah di sini lagi? Satu tahun lagi dia akan wisuda, kan?”
“Ya, aku tahu. Tapi, hanya itu yang perlu kau tahu, Steven.”
Steven terdiam. Sorot matanya menyipit. “Lyra. Aku ingin tahu apa yang terjadi pada Yara. Ke mana dia?”
Lyra kembali terdiam. Dalam hatinya, ia ingin memberi tahu. Tapi janji adalah janji.
“Maaf. Hanya itu yang perlu kau tahu, Steven. Aku tidak bisa memberitahumu ke mana Yara pergi.”