Bab 9

722 Words
Waktu sudah menunjuk angka tujuh malam. Mereka bertiga makan malam bersama di meja makan yang sunyi. Hanya denting garpu dan sendok yang sesekali terdengar ketika bersentuhan dengan piring porselen. Lampu gantung berwarna keemasan menggantung anggun di tengah ruangan, memantulkan bayangan halus ke wajah-wajah yang duduk di bawahnya. Aroma sup krim ayam hangat menyebar pelan, menyatu dengan atmosfer yang justru semakin menyesakkan d**a. Steven duduk di ujung meja, mengenakan kemeja abu-abu gelap yang menggantung rapi di tubuh tegapnya. Matanya tidak bergerak dari satu titik: Yara. Yara duduk tepat di seberang, sibuk menyendokkan makanan ke mulut kecil Lucas, bocah berusia enam tahun yang kini duduk manis di sampingnya. Setiap gerakan Yara begitu halus, cara dia meniup pelan sendokan makanan, cara dia tersenyum saat Lucas menggigitnya, hingga cara tangannya dengan lembut menyeka sisa saus di sudut bibir anak itu. Ada sesuatu yang menghentak d**a Steven saat melihat semua itu. Seolah ada gema yang tak kunjung berhenti di dalam benaknya. Ia meneguk anggur dalam gelasnya tanpa benar-benar merasakan rasanya. “Pelan-pelan makannya, Lucas,” ujar Yara lembut. Lucas mengangguk kecil. “Iya, Mama.” Suara itu terlalu manis dan terlalu familiar. Steven tak mampu mengalihkan pandangannya. Sekilas, ia merasa melihat pantulan dirinya sendiri dalam wajah anak itu—mata tajam, alis tebal, dan bentuk bibir yang terlalu mirip. “Lucas, kau suka supnya?” tanya Steven berusaha terdengar santai. Lucas mengangguk. “Enak, Om Steven. Rasanya seperti yang Mama masak dulu waktu kami masih di Paris.” Yara tersentak kecil. Sendok di tangannya berhenti di tengah jalan. Ia menarik napas cepat dan mencoba tersenyum, tetapi senyum itu tampak dipaksakan. “Lucas, ayo lanjut makan. Jangan banyak bicara, nanti kau tersedak.” Anak itu menurut, melanjutkan makannya tanpa tanya. Tapi Steven, dia menangkap kegugupan di wajah Yara, dan hatinya berdenyut aneh. Tatapan mereka bertemu secara tak sengaja, namun tak terhindarkan. Hening mendadak merayap masuk. Mata mereka bertaut. Terlalu lama. Terlalu dalam. Seolah waktu berhenti. Seolah masa lalu menyelinap keluar dari kotak yang sudah lama dikunci. Dalam tatapan itu, Steven menemukan luka yang belum sembuh, ketakutan yang belum pergi, dan cinta yang belum mati. Yara menunduk cepat. Punggung tangannya gemetar saat mengangkat gelas air putih di depannya. Ia tahu, tatapan itu bukan hanya rasa penasaran. Itu tatapan milik seorang pria yang mencium rahasia dan ingin membongkarnya. Tatapan yang dulu pernah membuatnya goyah, yang dulu membakar tubuhnya dalam satu malam penuh dosa dan kerinduan. “Maaf, aku harus ke kamar mandi sebentar,” ujar Yara dengan suara pelan. Ia bangkit dari kursi dan berjalan tergesa ke luar ruang makan. Lucas menatap kepergiannya dengan alis terangkat. “Kenapa Mama pergi, Om?” Steven menahan napas. Ia menatap bocah itu dengan hati yang bergemuruh. “Mungkin dia cuma butuh waktu sebentar.” Lucas kembali makan, tanpa sadar meninggalkan Steven dalam kekacauan batin yang tak tertahankan. Di dalam kamar mandi, Yara berdiri di wastafel menatap wajahnya sendiri di cermin kamar mandi. Dadanya naik turun cepat, matanya memerah, dan ujung bibirnya bergetar. "Apa yang kau lakukan, Yara?" bisiknya pada diri sendiri. "Kenapa kau biarkan dia menatapmu seperti itu lagi?" Ia mencipratkan air ke wajahnya, mencoba menenangkan diri. Namun air itu tidak mampu memadamkan nyala yang telah kembali menyala dalam hatinya. Nyala yang seharusnya sudah lama padam sejak ia meninggalkan kota ini sejak dia memutuskan untuk membesarkan Lucas sendiri dan menyimpan rahasia tentang siapa ayah dari anak itu. Dia lalu menutup matanya. Tatapan Steven tadi masih menghantui. Tatapan yang seakan menggugat: Apakah dia anakku? Sementara itu, Steven duduk kaku di kursinya. Gelas anggur di depannya belum disentuh kembali. Ia memandangi Lucas, memperhatikan cara bocah itu memegang sendok—cara ia mengerutkan alis saat kesulitan mengambil potongan kentang—semuanya seperti bayangannya sendiri di masa kecil. Keraguan yang selama ini mengganggunya semakin membesar. Dan malam ini, saat ia melihat sendiri bagaimana Yara memperlakukan Lucas, bagaimana Lucas begitu nyaman dan akrab dengannya, dia tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. “Apa kau tahu siapa ayahmu, Lucas?” tanyanya tanpa sadar. Lucas mengangkat kepala, matanya yang bulat berkedip bingung. “Mama bilang aku nggak perlu khawatir soal itu.” Steven tercekat. “Kenapa begitu?” tanyanya ingin tahu. Lucas mengangkat bahu kecilnya. “Karena Mama bilang kalau aku cuma perlu tahu kalau aku dicintai. Dan itu sudah cukup.” Hening lagi. Kali ini lebih menyakitkan. Jawaban polos itu seperti belati yang menembus langsung ke dalam hati Steven.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD