Hujan turun pelan malam itu, membasahi jendela kamar seperti irama pilu yang menggema dari dalam hati Yara. Kamar yang ditempatinya di rumah lama itu masih seperti dulu, penuh kenangan yang ia simpan rapi dalam laci, dinding, dan napas.
Ia duduk bersila di atas ranjang, di hadapannya sebuah kotak kayu kecil yang berdebu. Kotak itu telah lama tersembunyi di balik tumpukan buku tua di lemari sudut kamar.
Jantungnya berdegup tak menentu ketika membuka tutupnya, dan menemukan sepucuk surat yang terlipat rapi—tertulis di bagian depannya: Untuk Steven, jika aku berani mengirimkannya.
Yara menggigit bibir. Surat itu, dia menulisnya tujuh tahun yang lalu. Malam sebelum ia memutuskan pergi diam-diam dari kota ini. Malam ketika perasaannya pada Steven meledak dalam sunyi, tak punya tempat untuk tertuang kecuali dalam tulisan.
Dengan tangan gemetar, ia membuka lipatannya. Huruf-huruf tangan yang kini sedikit pudar seakan berbicara kembali dari masa lalu.
Steven ....
Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku merasa dunia ini terlalu sempit untuk menampung perasaanku padamu. Terlalu keliru, terlalu menyakitkan, tapi juga terlalu dalam untuk aku abaikan.
Malam itu ... malam ketika kau memelukku dan memanggil namaku dengan suara serak—aku tahu, aku tidak akan pernah bisa melupakanmu.
Aku mencintaimu, Steven.
Bukan sebagai keponakanmu. Bukan sebagai anak dari kakak angkatmu. Tapi sebagai perempuan yang utuh... yang mencintai seorang pria dengan segala luka dan kesalahannya.
Aku takut. Aku takut perasaan ini akan menghancurkan kita. Tapi lebih dari itu, aku takut kehilanganmu... tanpa pernah kau tahu betapa berharganya kau bagiku.
Jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah tak ada di sana lagi. Dan mungkin, itu yang terbaik...
Kalimat terakhir tertinggal tak selesai. Tinta seperti memburam karena air mata yang menetes di atas kertas. Dan malam ini, air mata itu kembali jatuh.
Yara menunduk, menggenggam surat itu di dadanya, tubuhnya mulai terisak perlahan.
“Aku bodoh,” bisiknya. “Kenapa aku tak pernah punya keberanian untuk jujur?”
Tangisnya pecah, tertahan namun mengiris. Bahunya terguncang, suara isak itu melayang pelan melewati celah pintu yang tidak tertutup rapat.
Steven berdiri di luar kamar. Sudah lima menit ia berdiri di sana, awalnya hanya ingin mengetuk dan mengucapkan selamat malam. Namun suara lirih dari dalam kamar menghentikannya.
Ia mendengar tangis itu—pelan, tercekik, namun memilukan. Bukan tangis anak kecil. Bukan tangis fisik semata. Tapi tangis luka batin yang sudah lama mengendap dan akhirnya tumpah ruah.
“Yara ...?” panggilnya pelan dari balik pintu, namun tak ada jawaban.
Ia menempelkan telapak tangannya ke permukaan kayu. Ada rasa sakit aneh yang menggerogoti dadanya. Entah karena mendengar tangis itu atau karena dia tidak tahu harus berbuat apa.
Tangannya hampir mengetuk, tetapi ia urungkan.
Di dalam kamar, Yara memeluk surat itu erat-erat. Ia tidak tahu bahwa Steven sedang mendengarnya. Yang ia tahu hanya satu: malam ini ia tak bisa lagi menyimpan semuanya sendiri. Luka itu terlalu penuh.
Ia memutar tubuhnya, memandang jendela yang diselimuti embun dan cahaya temaram dari lampu taman. “Steven ...,” bisiknya lirih, “...andai saja kau tahu semua ini lebih awal, andai saja aku tidak pengecut.”
Perasaannya seperti perang, antara rasa cinta yang belum mati dan rasa bersalah yang menggerogoti.
Lalu suara itu terdengar, samar, namun jelas.
“Yara?”
Yara tersentak. Ia cepat menyeka air matanya, menyembunyikan surat itu di bawah bantal. Ia berdiri tergesa, membuka pintu, dan menemukan Steven di sana.
Mereka saling menatap. “Maaf,” kata Steven pelan. “Aku tidak sengaja mendengar. Kau ... menangis?”
Yara menggeleng, meskipun wajahnya masih sembab. “Tidak, aku hanya lelah. Aku tidak apa-apa.”
Steven memandangi matanya. “Jangan bohong. Aku tahu wajahmu saat sedang menyembunyikan sesuatu.”
Yara memalingkan wajah. “Aku tidak mau membahasnya, Steven. Aku hanya lelah dan—"
“Tapi aku ingin tahu, apa yang membuatmu menangis sampai seperti itu?” Steven memotong ucapan Yara dan bersikeras ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keponakannya itu.
“Kau … sebenarnya tahu ayah Lucas?” tanyanya dengan nada hati-hati.
Namun, pertanyaan itu langsung membuat Yara mendongak dan menatap datar wajah Steven. “Tidak semuanya harus kau tahu, kan?” balas Yara cepat mendorong Steven agar keluar dari sana.
“Dan satu hal lagi.” Yara menatap Steven lagi. “Jangan pernah membahas tentang ayah Lucas. Kau tak punya hak untuk tahu itu!”
Tak lama kemudian, petir menyambar langit malam, memekakkan telinga hanya beberapa detik sebelum semuanya tenggelam dalam kegelapan total.
Rumah besar itu mendadak senyap. Lampu gantung di lorong padam, suara tetesan air hujan mulai terdengar dari setiap sisi jendela.
Klik.
Suara korek api dinyalakan. Yara berdiri di ambang pintu kamarnya, mengenakan gaun tidur tipis berwarna krem, rambutnya tergerai, sebagian jatuh menutupi wajah.
Ia menyalakan lilin kecil di tangannya, cahaya oranye keemasan memantul di kulitnya, menciptakan siluet lembut namun menggoda.
Ia melangkah keluar pelan-pelan. Kaki telanjangnya menyentuh lantai marmer yang dingin.
Langkahnya menyusuri lorong yang hanya diterangi oleh cahaya lilin yang bergoyang halus mengikuti geraknya.
"Lucas," gumamnya lirih dan berniat memeriksa anaknya.
Namun langkahnya terhenti ketika dari arah berlawanan, muncul bayangan tinggi dan kokoh. Seorang pria juga membawa lilin.
Steven.
Ia mengenakan kaus hitam tipis dan celana santai. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya teduh namun jelas menyimpan kegelisahan.
Cahaya dari lilin di tangannya membuat garis rahangnya terlihat lebih tegas, lebih tajam, lebih mematikan bagi hati Yara.
Mereka bertemu di tengah lorong.
Hujan di luar turun semakin deras. Suaranya seperti denting piano patah yang mengisi keheningan antara mereka.
"Padam total rupanya," ucap Steven pelan nyaris tak terdengar karena suara hujan.
Yara hanya mengangguk kecil, tidak berani menatap langsung ke matanya. "Aku ... aku mau periksa Lucas. Dia pasti takut."
Steven mengangguk juga. "Aku baru saja memastikan semua jendela tertutup. Anginnya cukup kencang.”
Cahaya lilin di tangan mereka menari-nari, menyatukan bayangan mereka di dinding. Napas mereka terlihat dalam keheningan. Jarak mereka terlalu dekat untuk bisa mengabaikan getaran di d**a.
Yara hendak melangkah melewatinya, namun saat itu, tangan Steven, entah karena refleks, entah karena dorongan bawah sadar terulur dan menggenggam jemari Yara yang dingin.
Yara terhenti. Cahaya lilin di antara mereka bergetar.
“Steven,” bisiknya pelan, sangat pelan. Tapi suaranya jelas menyimpan kegelisahan yang dalam.
Ia menoleh ke arahnya, dan mata mereka bertemu. Mata Yara memantulkan ketakutan yang disamarkan, sementara mata Steven seperti lautan luas yang penuh pertanyaan dan gejolak.
Ia belum sempat mengambil satu langkah penuh ketika petir menyambar keras, menggelegar tepat di atas rumah. Gema kilat itu seperti membelah langit dan menghantam bumi.
BRAAAK!!!
Yara terpekik kecil. Tubuhnya langsung gemetar. Lilin di tangannya nyaris jatuh dari genggaman, nyalanya padam oleh tiupan angin dari sela-sela jendela.
“Yara!” seru Steven cepat.
Dalam sepersekian detik, ia sudah menarik tubuh Yara ke dalam pelukannya, melindunginya seperti refleks yang muncul dari naluri paling dalam.
Pelukan itu kencang. Lengan Steven melingkar di punggung Yara, menekannya ke dadanya yang hangat. Satu tangannya mengusap lembut rambut wanita itu, sementara dagunya menunduk, menyentuh ubun-ubunnya dengan lembut.
“Aku di sini…” bisik Steven, suaranya rendah dan tenang, bertentangan dengan derasnya hujan dan gelegar petir di luar sana. “Kau aman, Yara. Tenang saja…”
Yara mengatupkan bibirnya kuat-kuat, tapi tubuhnya masih gemetar. Sejak kecil, ia memang takut petir. Takut suara keras yang terasa seperti retakan langit. Dan Steven... hanya Steven yang tahu itu, yang selalu tahu, yang selalu menjadi pelindungnya—dulu, dan sekarang.
“Aku benci suara itu…” lirihnya nyaris seperti anak kecil yang mengadu.
“Aku tahu,” jawab Steven lembut lalu membelai tengkuknya. “Sudah kubilang, aku di sini. Aku tidak akan biarkan apa pun menyakitimu.”
Mereka berdiri di lorong itu. Tanpa cahaya. Tanpa jarak.
Hanya tubuh mereka yang saling bersentuhan. Hanya napas mereka yang terdengar. Dan jantung mereka yang kini berdetak dengan kecepatan yang sama—panik, namun penuh gairah yang tak bisa lagi dibendung.
Yara tak bergerak dalam pelukan itu. Ia hanya menutup mata, membiarkan sensasi hangat di dadanya tumbuh menjadi gemuruh lain yang tak ada hubungannya dengan petir.
Dan Steven... perlahan wajahnya turun, mendekat ke wajah Yara yang masih menunduk dalam dekapan. Aroma sabun lembut dan kulit Yara menusuk hidungnya, membangkitkan memori yang telah lama ia pendam dan pikir sudah mati.
Mata mereka bertemu lagi. Sangat dekat. Nafas mereka menyatu dalam udara yang tipis. Yara tak sempat berkata apa-apa. Saat bibir Steven menyentuh bibirnya dengan lembut, nyaris seperti bisikan, ia hanya bisa membeku.
Sentuhan itu hangat. Manis. Terlalu cepat berubah menjadi dalam.
Steven menciumnya—di lorong gelap itu, di antara gemuruh langit dan derasnya hujan. Ia menciumnya seolah ingin mengambil kembali waktu yang hilang. Dengan rindu. Dengan luka. Dengan cinta yang belum selesai.
Dan Yara, untuk sesaat, membiarkan dirinya tenggelam. Tubuhnya bersandar ke dinding, sementara tangan Steven kini menempel di sisi wajahnya, menahan, menuntun. Bibir mereka saling menekan, lidah mereka bertemu, dan napas mereka mulai tidak teratur.
Yara mencengkeram kaus Steven di dadanya, setengah ingin mendorong, setengah ingin menarik lebih dalam. Namun pada titik tertentu, akalnya tersadar. Ia tersentak.
Matanya membelalak, dan tubuhnya mendadak menegang. Tidak! Ini salah! Ini gila!
Dengan sisa tenaga, ia mendorong Steven menjauh. Steven terhuyung satu langkah, napasnya masih berat, matanya terbakar oleh apa yang baru saja terjadi.
“Yara…” bisiknya nyaris tanpa suara.
Namun Yara tidak menoleh lagi. Ia berbalik, dengan air mata yang mulai mengalir di wajahnya, dan berlari menyusuri lorong. Gaun tidurnya mengepak ringan, bayangannya lenyap di balik sudut gelap rumah.
Tangannya gemetar saat ia membuka pintu kamar Lucas. Anaknya masih terlelap, meringkuk di bawah selimut, tak terpengaruh oleh petir atau drama yang baru saja pecah.
Yara menutup pintu pelan di belakangnya, bersandar pada dinding, dan menutup mulutnya rapat-rapat agar isaknya tak membangunkan sang anak.
Tubuhnya gemetar, bukan lagi karena petir, tapi karena ciuman itu. Karena rasa yang telah ia redam selama tujuh tahun dan kini pecah hanya dalam hitungan detik.
“Ya Tuhan,” bisiknya lirih. “Apa yang baru saja kulakukan?"