Bab 11

857 Words
Suara mesin mobil berhenti di halaman depan tepat ketika senja memudar dan lampu-lampu rumah menyala redup. Hujan telah reda, menyisakan udara dingin dan rerumputan yang masih basah. Dari jendela ruang tamu, Yara melihat Nadine turun dengan gaun wol krem bergoyang lembut mengikuti langkahnya, koper kecil berada di tangan. Senyum ramah terukir di wajah Nadine, tetapi sorot matanya menyimpan tanda tanya. Malam ini Nadine akan menginap di rumahnya dan Steven sudah memberitahunya. Steven sudah mencoba menolaknya, tapi Yara bilang tidak masalah. Toh, Nadine kan, calon istrinya Steven. Steven berjalan di belakang tunangannya dengan ekspresi kaku. Begitu memasuki rumah, ia menatap Yara sejenak, seolah ingin memastikan perempuan itu siap menghadapi malam ini. Yara menarik napas panjang, menegakkan bahu. “Aku sudah menyiapkan kamar untuk Nadine,” ujarnya berusaha terdengar tenang. “Kamar tamu dekat gudang belakang masih kosong.” Steven mengerutkan alis. “Tidak seharusnya dia tidur di sana. Ruangan itu lembap.” “Tapi kau berkata tidak nyaman berbagi kamar sebelum menikah,” sela Yara, mengingat percakapan singkat mereka tadi di teras. “Ini solusi terbaik karena kau sendiri yang tidak mau tidur sekamar dengannya.” Nadine tersenyum canggung. “Tidak apa-apa, Steven. Aku tidak keberatan. Selama ada tempat tidur bersih, aku baik‑baik saja.” Steven hendak membantah, namun kilatan tekad di mata Yara menahan kata-katanya. Ia hanya mengangguk pelan. “Baiklah, aku bantu membawakan kopermu.” Mereka bertiga melintasi koridor. Setiap langkah terasa seperti dentang jam di aula kosong dan menciptakan ketegangan yang tak kunjung luruh. Di depan pintu kamar yang ditunjuk Yara, bau kayu tua dan sedikit aroma lembap tercium samar, namun sprei bersih dan lampu meja baru sudah menanti. “Terima kasih, Yara,” kata Nadine lalu mengusap lengan wanita itu sekilas. “Kau sungguh perhatian.” “Senang bisa membantu,” jawab Yara singkat. Senyumnya berusaha ramah, meski hatinya berdetak tak beraturan. Beberapa saat kemudian, ruang makan kembali menjadi panggung keheningan. Lilin aromaterapi di tengah meja memancarkan cahaya temaram, menyoroti tiga sosok yang duduk dengan pikiran masing‑masing. Yara menata sup krim labu di mangkuk Lucas, berusaha memusatkan perhatian pada putranya. Lucas terlihat riang, sesekali menepuk‑nepuk sendok ke meja. Nadine berbicara ringan tentang kesibukan mempersiapkan pernikahan, tetapi tidak sekali pun Steven menanggapi antusias. Ia lebih sering melirik Lucas, bocah itu mengingatkannya pada teka‑teki yang belum terjawab. Lucas selesai menyeruput supnya, lalu menoleh kepada Steven. Mata bulatnya berbinar. “Papa, boleh tambah?” Seketika garpu Yara jatuh, berdenting menimbulkan gema singkat. Nadine menoleh dengan mata melebar. Steven menegang di tempatnya. Luka yang hampir sembuh kembali terbuka. Nadine berdeham. “Lucas … kau memanggil Steven ‘Papa’?” tanyanya dengan raut wajah yang tidak bisa disembunyikan keterkejutannya. Lucas menyeringai polos. “Iya, Bibi Nadine. Papa baik sekali karena selalu membacakan cerita sebelum tidur.” Yara buru‑buru menyeka sudut mulut putranya dengan serbet. “Lucas hanya merindukan sosok ayah, Nadine. Kebetulan Steven sering menemaninya, jadi—” Nadine mengangkat alis. “Memangnya ayah kandungnya ke mana? Kau bilang belum pernah bertemu?” potongnya kemudian. Yara menahan napas. “Aku… memilih tidak mencari tahu. Cukup bagiku membesarkan Lucas dengan cinta.” Terdengar tawa kecil Lucas, tak sadar percakapan dewasa di sekitarnya. Yara mengelus rambutnya. Namun tatapan Nadine berpindah ke Steven, tajam dan menyelidik. “Steven, kau tahu sesuatu soal ini?” Steven membuka mulut, tapi tak sepatah kata pun keluar. Ia merasa seperti tercekik oleh pertanyaan yang mestinya mudah dijawab bila ia punya kepastian. Ia menatap Yara, mata wanita itu memohon agar ia diam. Dan ia patuh. “Aku hanya berusaha menjadi figur dewasa yang baik,” ujarnya akhirnya, terlalu lirih untuk memuaskan rasa ingin tahu Nadine. Nadine meneguk air, lalu menaruh gelasnya perlahan. “Aku mengerti. Tapi jujur saja, aku merasa sedikit tersisih dalam dinamika ini. Mungkin butuh waktu, ya?” “Tentu,” jawab Yara dengan cepat. “Terima kasih atas pengertianmu.” Seusai makan malam, Lucas sudah tertidur di kamarnya. Hujan tipis kembali turun, menabuh atap dengan ritme lembut. Di lorong depan kamar Nadine, Steven berdiri ragu. Pintu terbuka, Nadine sedang meletakkan baju tidur di atas kursi. “Nadine,” panggil Steven pelan. Nadine menoleh. “Ada apa?” Steven menatap jari‑jarinya sendiri, seperti mencari jawaban di telapak tangan. “Aku minta maaf. Malam ini sudah membuatmu sedikit … canggung.” “Aku paham,” jawab Nadine sambil tersenyum kaku. “Cuma… tolong jujur kalau memang ada sesuatu dengan Yara. Aku bisa menangani kebenaran, Steven. Yang sulit adalah keraguan.” Steven menghela napas berat. “Tidak ada apa‑apa yang perlu kau khawatirkan,” katanya, walau hatinya menolak kalimat itu. “Biarkan waktu yang menjelaskan. Karena aku pun tidak tahu apa-apa soal kehamilan Yara.” Nadine menelan ludah lalu mengangguk pelan. “Baiklah kalau begitu. Semoga saja Yara mau berterus terang suatu saat nanti.” “Jangan dipikirkan. Sebaiknya tidurlah.” Nadine mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya. Ketika pintu tertutup, Steven bersandar di dinding, hatinya mendadak sesak setiap kali membahas tentang siapa ayah dari anak keponakannya itu. Sudah dia cari tahu ke mana-mana pun tidak dia temukan kebenarannya. "Sampai kapan kau akan menyembunyikan semua ini dariku, Yara?" gumamnya kemudian memejamkan matanya perlahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD