Pagi itu, matahari nyaris tak menembus jendela rumah besar keluarga Gilbert. Kabut tipis menggantung di halaman belakang, menyisakan embun di dedaunan. Di dalam rumah, suasana terasa tegang, meski tak seorang pun menyatakannya secara gamblang.
Nadine duduk di ruang tamu, cangkir teh hangat di tangannya. Ia tidak sendirian. Di hadapannya, Lyra—ibu Yara duduk dengan raut wajah yang tampak mulai gelisah. Obrolan mereka awalnya ringan, penuh basa-basi, hingga perlahan Nadine mulai memutar arah percakapan.
“Yara tampak kuat, ya,” ujar Nadine lembut. “Membesarkan Lucas seorang diri. Hebat sekali dia.”
Lyra mengangguk pelan. “Yara selalu keras kepala, sejak dulu. Kalau sudah memutuskan sesuatu, tak ada yang bisa mengubahnya.”
“Tapi pasti sulit, kan? Menjadi ibu tunggal, tanpa tahu siapa ayah anak itu.”
Lyra tersedak kecil. Ia buru-buru menyesap teh untuk menutupi kegugupannya. “Ya, dia memang tidak pernah mau membicarakannya, bahkan padaku sebagai ibunya,” jawab Lyra hati-hati. “Tapi, semua orang punya masa lalu.”
Nadine mencondongkan tubuhnya sedikit. “Apakah ada sesuatu yang terjadi enam tahun lalu?” tanyanya ingin tahu lebih dalam lagi.
Sejenak, Lyra terdiam. Wajahnya menegang, matanya menghindari tatapan Nadine.
“Apa maksudmu?” tanyanya balik, terdengar gugup.
Nadine mengangkat bahu ringan. “Entahlah. Aku hanya merasa ada yang disembunyikan. Lucas terlalu mirip dengan seseorang di rumah ini.”
Lyra membuka mulutnya, hendak menjawab, tapi yang keluar hanya satu kalimat yang tak ia maksudkan: “Yara sudah cukup menderita karena kesalahan besar enam tahun lalu. Mungkin itu alasannya masih menutupi ini dari semua orang. Termasuk padaku.”
Seketika matanya membelalak. Ia menyadari ucapannya barusan. Nadine mengernyit, matanya mengunci milik Lyra. “Kesalahan besar?” tanyanya dengan memicingkan matanya.
“Maaf,” ujar Lyra cepat. “Itu ... itu hanya ungkapan. Aku tidak bermaksud apa-apa. Karena sampai saat ini pun aku belum tahu siapa ayah dari cucuku sendiri. Yara sangat tertutup soal ini, Nadine,” ucapnya lalu tersenyum tipis.
Tapi Nadine sudah menangkapnya. Ia tidak menekan lebih jauh saat itu. Namun pikirannya mulai bekerja.
Potongan-potongan peristiwa, kata-kata, dan sorot mata yang ia amati mulai merangkai kemungkinan: Lucas bukan anak sembarangan. Dan Yara... menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar.
**
Di lantai atas, suasana tak kalah rumit.
Yara membuka pintu kamar Lucas sambil membawa pakaian bersih. Langkahnya terhenti ketika melihat Steven duduk di tepi ranjang, memandangi sesuatu yang ada di tangan.
Gambar.
Kertas berwarna dengan coretan krayon: seorang pria berjas, seorang wanita dengan rambut panjang, dan seorang anak kecil yang berdiri di tengah-tengah mereka, tersenyum lebar. Di bagian atasnya tertulis dengan huruf besar-besar:
“PAPA, MAMA, AKU.”
Yara membeku.
Steven menoleh pelan lalu mengangkat gambar itu. “Dia menggambar ini pagi tadi?” tanyanya kemudian.
Yara memaksa senyum. “Ya... hanya imajinasinya saja,” ucapnya dengan pelan.
Steven menatap gambar itu lama. “Lucas menggambar diriku, Yara. Seolah aku ini … ayahnya.”
Yara tetap berdiri tegak tetapi napasnya mulai tak teratur. “Anak kecil menggambar sesuai apa yang mereka lihat sehari-hari. Kau sering bersamanya akhir-akhir ini. Dan Lucas belum mengerti apa-apa. Jadi, jangan terlalu mengaitkan hal-hal aneh itu.”
Steven berdiri dan menyodorkan gambar itu kepadanya. “Dan dia menyebutku ‘Papa’. Dua kali. Apa itu bisa disebut dengan ketidaksengajaan?” ucapnya dengan suara datarnya.
Yara menerima gambar itu dengan tangan gemetar. “Aku hanya tak ingin dia tumbuh tanpa sosok ayah. Jadi... mungkin dia mengisi kekosongan itu dengan kehadiranmu.”
Steven mengangguk pelan, tetapi sorot matanya berubah tajam. “Kalau begitu, izinkan aku membantumu mencari siapa ayah kandungnya.”
Yara mendongak. “Apa?”
Steven menatap lurus ke matanya. “Aku akan mulai dari pesta yang kau hadiri enam tahun lalu. Katamu, itu malam yang membuat semuanya berubah, bukan?”
Dada Yara seperti diremuk dari dalam. “Kau tak perlu repot-repot, Steven. Aku baik-baik saja.” Yara menggelengkan kepalanya menolak permintaan Steven tadi.
“Tapi Lucas berhak tahu siapa ayah kandungnya, Yara.” Steven berucap dengan tegas.
Yara menarik napas cepat dan menatapnya dengan tatapan lelahnya. “Steven, jangan. Ini urusanku, bukan urusanmu. Kalau kau merasa terganggu dengan sebutan Papa dari Lucas. Aku akan menegurnya pelan-pelan agar dia memanggilmu ‘Paman Steven’.”
Steven menyunggingkan senyum mendengarnya. “Aku tidak keberatan. Hanya ingin membantu Lucas—"
“Jangan buka masa lalu yang sudah kututup dengan susah payah. Jangan menggali luka yang bahkan aku sendiri belum sanggup hadapi, Steven!” potong Yara dengan tangan megepal erat.
Steven mendekat satu langkah mendekat Yara. “Apa karena aku yang harusnya menggali itu?” bisiknya tajam.
Yara menggeleng cepat. “Tidak. Bukan begitu.”
“Lalu kenapa kau takut aku mencari tahu?”
Yara menunduk. Ia memejamkan mata menyembunyikan air mata yang mulai tumpah. “Karena kau tak akan pernah bisa menemukan jawabannya, Steven. Tak akan pernah.”
“Berhenti membohongiku, Yara,” desis Steven dengan suara yang pelan namun tajam seperti belati yang menusuk di malam sunyi.
Matanya menatap lurus ke arah wanita di hadapannya, sorotnya penuh kekecewaan dan kemarahan yang nyaris meledak. “Kau tahu siapa ayah Lucas. Dan itu bukan pria acak di pesta. Kau tahu, Yara. Aku bisa melihatnya, di matamu, setiap kali aku menyebut nama anak itu.”
Yara terdiam sejenak, lalu menarik napas tajam. Ia mundur setengah langkah, punggungnya hampir menyentuh sisi meja dapur yang dingin. Jemarinya mengepal di sisi tubuhnya, bergetar.
“Berhenti, Steven. Aku ... aku sudah bilang padamu. Aku tidak tahu siapa ayahnya. Itu terjadi saat pesta enam tahun lalu. Aku mabuk dan lalu kabur. Sudah kubilang berkali-kali!”
Namun Steven tidak bergeming. Justru nada suaranya makin meninggi, amarahnya meledak dalam satu hentakan, “Omong kosong!” teriaknya.
Gaung suaranya menggema di dinding apartemen sempit yang tiba-tiba terasa pengap. Yara terlonjak, mundur selangkah, matanya melebar. Ia belum pernah melihat Steven seperti ini sebelumnya—marah, hancur, dan tidak bisa dikendalikan.
“Lucas memanggilku ‘Papa’,” lanjut Steven, nadanya sekarang serak dan getir. “Dia menggambar kita bertiga, aku, kau, dan dia di kertas sekolahnya! Dengan spidol warna merah dan kuning. Aku masih menyimpannya! Kau pikir aku terlalu bodoh untuk mengabaikan semuanya?”
Yara menahan napas. Bibir bawahnya bergetar saat ia mencoba menahan emosi. Ia menggigitnya dengan keras sembari berusaha tetap kuat meski perutnya terasa seperti diremas dari dalam.
“Itu ... itu hanya perasaan seorang anak kecil,” sahutnya akhirnya, dengan suara lirih dan nyaris tanpa tenaga. “Lucas ... Lucas terlalu banyak menonton kartun tentang keluarga utuh, mungkin itu pengaruhnya. Anak-anak seusianya sering berfantasi begitu.”
Steven melangkah maju. Sekarang hanya sejengkal jarak di antara mereka. Napas mereka beradu, panas dan berdebar.
Ia menunduk sedikit, menatapnya tepat di dalam mata. “Kalau benar itu cuma kartun,” katanya pelan, penuh tekanan, “kenapa dia punya mainan masa kecilku?”
Yara terdiam.
“Mainan itu ... robot kecil biru yang selalu kubawa ke mana pun saat kecil. Yang hanya ibuku tahu aku simpan di rumah tua kami. Dan sekarang, mainan itu ada di kamar Lucas! Di rak paling atas, berdampingan dengan boneka beruang dan pesawat-pesawatannya. Kau pikir itu kebetulan?”
Untuk sesaat, dunia terasa berhenti. Yara tersentak. Ia tidak tahu Steven sudah menyelidik sejauh itu. Jantungnya berdentam keras di dalam d**a, tangannya gemetar tanpa bisa dikendalikan.
“Steven, kau ... kau mulai gila,” bisiknya lebih kepada dirinya sendiri.
Steven tertawa, tapi itu bukan tawa bahagia. Itu tawa getir yang terdengar seperti teriakan orang yang patah hati.
“Aku tidak gila! Aku—” Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, kasar, seperti ingin menghapus semua kebingungan dan luka yang menumpuk. Napasnya berat, seperti habis berlari jauh, dan tubuhnya mulai sedikit bergetar.
“Tapi aku merasa seperti orang t***l selama ini. Aku mencoba menyingkirkan kemungkinan itu. Berusaha percaya padamu. Tapi setiap hari, aku melihat wajah Lucas dan aku melihat diriku di dalamnya.”
Yara menunduk. Ia tak sanggup lagi menatap mata pria itu. Air matanya mulai menggenang, tapi ia tetap menahannya. Ia tak boleh terlihat rapuh.
“Kau akan menikah,” katanya perlahan, suara lirihnya sarat dengan kepedihan yang tak bisa ia sembunyikan lagi. “Kau akan membangun hidup baru. Kenapa repot dengan sesuatu yang sudah lama berlalu?”
“Karena aku peduli padamu, Yara!” Steven nyaris berteriak lagi. Suaranya bergetar oleh amarah dan luka yang telah lama terkubur. “Kau keponakanku dan anak itu ... anak itu adalah anak dari keponakanku juga.”
Hening.
Yara mendongak. Kali ini, sorot matanya tidak lagi rapuh, tapi dingin, beku, tajam seperti es di musim dingin. “Terima kasih sudah peduli padaku,” ujarnya datar. “Tapi, aku tidak meminta itu. Jadi, jangan coba-coba menggangguku lagi dengan Lucas.”
Kata-kata itu seperti pukulan telak ke d**a Steven. Ia lantas tertawa getir mendengarnya. “Jangan ganggu? Selama ini aku telah mengganggumu, hm? Padahal aku hanya ingin tahu kebenarannya. Tapi, kau selalu menyangkalnya. Ada apa? Ada apa, Yara?” ucapnya dengan suara tegasnya.
“Steven, tolong,” suara Yara melemah, namun tangannya terangkat membendung kedekatan mereka.
Tapi Steven mengabaikannya. Tangannya menggenggam lembut lengan Yara dan untuk sesaat, dunia seakan membeku. Emosi di antara mereka meletup seperti badai.
“Kalau kau memang tidak tahu siapa ayah Lucas,” bisik Steven, “mengapa kau takut melihatku dalam dirinya?”
Yara menggigit bibirnya keras hingga hampir berdarah. Dan saat itu, seolah segala dinding pertahanan yang mereka bangun selama ini runtuh, Steven menunduk dan menangkap bibir Yara dalam ciuman yang penuh luka, penuh penyesalan, namun juga penuh kerinduan yang tak tertahankan.
Yara membeku. Tubuhnya terpaku di tempat, tapi dadanya meledak oleh semua emosi yang tertahan selama bertahun-tahun. Ciuman itu panas, dalam, menyakitkan, dan justru karena itu, terasa begitu nyata.
Namun beberapa detik kemudian, Yara mendorong Steven sekuat tenaga hingga pria itu tersentak mundur.
“Cukup!” serunya dengan napas memburu. Tangannya menyeka bibirnya sendiri seakan tengah menghapus jejak dosa. “Kau akan menikah! Jangan hancurkan pernikahanmu karena ulah gilamu ini!”