Kantor Steven tampak sepi. Lampu gantung gantung di atas meja menyala redup, menyoroti wajah tegang pria itu yang tengah menatap layar laptop dengan mata tak berkedip. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, tapi tak ada tanda ia akan berhenti.
Folder demi folder ia buka. Arsip-arsip lama yang disimpan dalam server pribadi perusahaan. Satu file rekaman CCTV tertanggal enam tahun lalu menarik perhatiannya—malam pesta ulang tahun yang disebut-sebut Yara. Malam yang selama ini diliputi kabut.
Dengan napas tertahan, Steven memutar video itu.
Rekaman memperlihatkan aula utama pesta, riuh rendah oleh tawa dan musik. Semua terlihat biasa—hingga kamera menangkap sosok yang familiar. Yara. Ia datang seorang diri, mengenakan gaun biru muda, rambutnya terurai.
Steven menatap tajam layar saat Yara melangkah masuk, sedikit ragu. Gadis itu terlihat gugup, tetapi tetap tersenyum pada beberapa karyawan yang ia kenali.
Lalu, seseorang menyapanya—Ben, asisten pribadi Steven saat itu.
Ben menyodorkan minuman, dan mereka berbincang sebentar. Dari gesturnya, percakapan itu tampak ringan. Namun setelah itu, Yara beranjak pergi ke arah lorong VIP. Kamera berhenti mengikuti. Tidak ada kelanjutan. Tidak ada jejak Yara lagi setelah itu.
Steven mempercepat video. Ia berharap melihat Yara kembali dari lorong. Tapi tidak ada.
Jantungnya berdegup kencang. Pandangannya kembali ke adegan saat Ben bicara dengan Yara. Ada sesuatu dalam ekspresi Ben yang mencurigakan—entah tatapan matanya, atau cara ia menggenggam gelas di tangannya.
“Ben,” gumam Steven dingin.
Ia segera mengambil ponsel, mengetik cepat pesan. Datang ke kantor sekarang. Ini penting.
Tak sampai satu jam, Ben sudah berdiri di depan Steven—matanya mengantuk, wajah bingung.
“Ada apa, Tuan? Ini sudah tengah malam—”
“Duduk.” Suara Steven terdengar dingin tanpa kompromi.
Ben menurut, meski jelas terlihat gelisah.
Steven memutar layar laptop ke arahnya dan memutar ulang rekaman itu. Ia tidak berkata apa-apa—hanya menatap ekspresi Ben ketika melihat dirinya sendiri di video.
“Kau masih ingat malam ini?” tanya Steven pelan.
Ben menelan ludah. “Itu ... pesta perayaan ulang tahun Nyonya Lyra. Sudah lama sekali.”
“Yara datang malam itu. Sendirian. Lalu kau menyapanya. Setelah itu, dia menghilang. Tidak ada rekaman lagi tentangnya. Kau tahu ke mana dia pergi?”
Ben tampak berpikir, tapi Steven menangkap kegugupan yang sulit disembunyikan dari gerak tubuhnya. “Saya … saya tidak ingat jelas, Tuan.”
Steven berdiri dan tangannya mengepal di meja. “Jangan bohong padaku, Ben. Ini soal Yara. Ini soal sesuatu yang mungkin lebih dari sekadar masa lalu. Kau … menyentuhnya saat itu, huh?”
Ben tersentak, lalu menunduk. “Sa-saya tidak melakukan apa-apa padanya, Tuan. Saya bersumpah. Saya hanya menyapa dia. Kami bicara sebentar dan sebenarnya dia bilang dia mencari Anda.”
Steven menegang. “Mencariku?” tanyanya memastikan.
“Ya. Anda terus menghubunginya malam itu dan meminta Yara datang menemui Anda yang entah ada di mana saat itu. Saya lupa, tapi sepertinya Anda sedang berada di mini club saat itu.”
Steven mundur satu langkah, napasnya tercekat.
“Apa dia mabuk saat menemuiku?” tanyanya dengan pelan.
Ben mengangguk ragu. “Sepertinya dia memang sedikit tidak stabil. Tapi bukan mabuk berat. Hanya ... seperti linglung.”
Steven membekap wajahnya dengan satu tangan, hatinya bergemuruh. “Setelah menemuiku, ke mana dia pergi?”
Ben menghela napasnya dengan panjang. “Saya tidak tahu detailnya, Tuan. Tapi, sepertinya Anda tertidur di kamar hotel dan saya tidak tahu Yara ada di mana saat itu.”
Kenangan perlahan menembus kabut pikirannya. Malam itu dia memang pulang lebih cepat karena pusing dan muak dengan keramaian. Tapi ....
Steven menatap Ben, tubuhnya bergetar. “Kau yakin dia menghampiriku?”
Ben mengangguk. “Ya. Saya yakin. Dia yang bilang saat itu dan mengeluh karena Anda terus menghubunginya.”
Steven memutar tubuh dan berjalan menjauh beberapa langkah, lalu meninju dinding. Suara dentum menggema, membuat Ben terlonjak.
“Aku … menghubunginya dan aku tidak ingat apa-apa,” gumam Steven lebih pada dirinya sendiri.
Ben bangkit berdiri menatap atasannya itu. “Tuan ... saya benar-benar tidak menyentuh dia. Kalau saya tahu ini akan sebesar ini, saya ... saya pasti akan memastikan dia aman.”
Steven meliriknya. Mata penuh amarah yang tak tertuju langsung ke Ben, tapi pada dirinya sendiri. “Keluar.”
“Tuan—”
“Keluar, Ben. Sekarang.”
Ben segera pergi, membiarkan Steven sendiri dalam ruangan dingin dan sunyi.
Steven duduk kembali di kursi, tubuhnya terasa berat. Tangannya menyentuh pelipis, seolah berusaha menggali kembali memori yang tertutup rapat.
Yara datang malam itu. Menemuinya. Ia mabuk, rapuh, dan terluka. Dan dia... mungkin menyentuh gadis itu tanpa sadar.
Dan Lucas ....
Segalanya perlahan terangkai seperti potongan puzzle yang selama ini berserakan.
Steven menatap layar yang telah beku. Gambar Yara muda berhenti dalam jeda rekaman, bibirnya sedikit tersenyum saat berbicara dengan Ben.
Bibir itu, yang dia cium kembali beberapa malam yang lalu. Bibir yang menyimpan rahasia paling gelap dan paling menyakitkan dalam hidup mereka.
“Ya Tuhan,” bisiknya pelan.
**
Hujan turun rintik-rintik sore itu ketika Steven memasuki rumah sederhana di pinggir kota, tempat Yara tinggal bersama putranya.
Rasa gelisah terus menggerayangi pikirannya sejak kepulangannya dari kantor. Ada perasaan yang tidak bisa ia jelaskan—seperti ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Begitu membuka pintu, Steven melihat Yara tengah berdiri di dapur, membuka lemari es sambil menggenggam sekantong kecil kompres dingin.
Rambutnya yang panjang digelung sembarangan, dan wajahnya tampak cemas. Ia tidak menyadari kehadiran Steven hingga suara pintu tertutup membuatnya menoleh cepat.
“Yara?” panggil Steven.
Wanita itu menoleh kaget, lalu kembali menunduk, memperbaiki posisi kantong es di tangannya. “Kau sudah pulang,” sahutnya datar.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Steven sambil melangkah lebih dekat. “Untuk siapa itu?” Dia menunjuk kompres dingin di tangan Yara.
Yara menarik napas. “Lucas demam,” jawabnya singkat. “Mungkin kelelahan sepulang sekolah tadi.”
Tanpa pikir panjang Steven langsung berkata, “Biar aku bantu.” Ia mengikutinya menaiki tangga menuju kamar anak kecil itu. Di dalam kamar, Lucas sudah tertidur pulas, wajahnya merah dan napasnya berat. Yara meletakkan kompres di dahinya dengan lembut, lalu menoleh ke Steven.
“Obatnya ada di kamar. Lemari paling atas, laci bagian kanan. Tolong ambilkan, aku tidak bisa meninggalkannya terlalu lama,” ucap Yara.
Steven mengangguk lalu beranjak ke kamar Yara. Ruangan itu hangat dan sederhana, dengan aroma lavender yang lembut menggantung di udara.
Ia berjalan menuju lemari yang dimaksud, lalu menarik laci bagian kanan. Namun, saat tangannya meraba-raba mencari kotak obat, ia menyentuh sesuatu yang lain.
Tumpukan kertas tua.
Secarik map berwarna krem terselip di sana, sudah agak lusuh. Tanpa sadar, Steven menariknya keluar.
Di dalamnya, terselip beberapa lembar kertas: hasil USG, catatan kontrol kehamilan dari tujuh tahun lalu. Namanya: Yara Patricia Caroline. Namun, kolom "nama ayah" dibiarkan kosong. Tidak ada catatan siapa ayah dari janin dalam kandungan itu.
Steven menelan ludah. Jantungnya berdetak keras, tubuhnya membeku. Tangannya gemetar saat menyentuh salah satu lembaran hasil USG. Tanggalnya tepat sembilan bulan setelah pesta keluarga yang hingga kini menjadi misteri dalam hidupnya.
Suara langkah kaki mendekat. Yara masuk tanpa mengetuk, matanya langsung membulat melihat Steven yang tengah berdiri membatu dengan map di tangannya.
“Apa yang kau lakukan?” bentaknya.
Steven tersentak dan buru-buru menutup laci, menyembunyikan map itu. Namun, ia tahu sudah terlambat.
“Yara,” gumamnya. Suaranya serak, nyaris tidak terdengar. “Ini … ini maksudnya apa?” Matanya menatap dalam ke arah wanita itu.
“Letakkan itu,” kata Yara dingin, berusaha menahan getar di suaranya. “Itu bukan urusanmu.”
Steven melangkah mendekat. “Berarti benar,” katanya pelan namun menusuk. “Aku tahu dia anakku, kan?”
Wajah Yara mengeras. “Kau tidak punya hak bicara seperti itu!” serunya lalu menyambar map itu dari tangan Steven. “Kau tidak seharusnya menyentuh barang-barangku tanpa izin!”
“Tapi ini penting, Yara! Ini tentang anakku!” balas Steven, nada suaranya mulai meninggi.
“Bukan! Dia anakku! Aku yang mengandungnya, melahirkannya, membesarkannya sendirian tanpa bantuan siapa pun, termasuk kau!” Yara gemetar, suaranya pecah oleh emosi. “Kau tidak bisa datang seenaknya dan mengaku sebagai ayahnya hanya karena kau melihat selembar kertas!”
Steven menunduk, matanya berkilat. “Kau pikir aku bodoh? Lucas, dia menatapku dengan mata yang sama seperti yang kulihat setiap kali aku bercermin. Senyumannya, bahkan kebiasaannya memiringkan kepala saat bingung, semuanya dariku. Aku tahu, Yara. Aku tahu sejak lama. Tapi aku ingin mendengarnya darimu.”
Yara menahan napas. Ada jeda panjang sebelum ia akhirnya berbicara lagi. “Kau salah. Lucas bukan milikmu. Kau hanya berhalusinasi karena rasa bersalahmu atas apa yang terjadi enam tahun lalu.”
Steven menatapnya lekat-lekat. “Kalau kau yakin dia bukan anakku, kenapa begitu marah? Kenapa panik?”
“Karena kau melanggar privasiku!” teriak Yara kembali.
Keheningan menggantung di antara mereka. Ketegangan memenuhi udara. Kemudian, Steven mendekat, kali ini lebih tenang, namun tajam.
“Kalau begitu, kita tes DNA saja,” ucapnya dingin.
Yara memicingkan mata, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Steven. “Silakan. Lakukan sesukamu,” katanya dengan nada tegas. “Kalau itu bisa memuaskan egomu, ambil saja sampel darahnya. Tapi jangan pikir aku akan membiarkanmu mengacak-acak hidup kami lagi!”
“Kalau hasilnya menunjukkan bahwa dia anakku, aku akan menuntut hak asuh,” sahut Steven datar.
Yara tersenyum miring. Senyum yang tidak sampai ke matanya. “Kau bisa mencoba. Tapi Lucas sudah punya kehidupannya. Dan dia tidak butuh ayah yang hanya muncul saat sudah waktunya.”
Steven mundur selangkah. Dadanya sesak. Ia ingin berteriak, ingin memeluk Yara, ingin menebus semua luka. Tapi kenyataan lebih kejam dari harapannya.
“Aku tidak akan menyerah, Yara,” katanya pelan. “Aku akan cari kebenaran. Bukan untukku. Tapi untuk Lucas.”
Yara menatapnya dengan mata berapi-api. “Kebenaran? Kebenaran yang sebenarnya adalah kau terlalu percaya diri mengklaim dirimu sebagai ayah dari anakku!” Suaranya bergetar dan air mata mulai mengalir di pipinya.
Steven menggertakkan rahangnya. “Terserah apa yang kau ucapkan itu, Yara. Tapi, aku tidak akan menyerah,” ulangnya dengan nada tegas.
Yara menghela napas panjang lalu membuka pintu kamar dan menunjuk ke luar.
“Kau tidak bisa tinggal di sini lagi, Steven. Kemas barangmu dan pergilah. Jangan muncul lagi di hadapanku dan Lucas!”
Steven sedikit terkejut mendengarnya, luka dan marah berperang dalam dirinya. Tapi ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya melangkah keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan kepala penuh pertanyaan yang bersarang dalam benaknya.