Bab 14

1792 Words
Hening menguasai kamar kecil itu, hanya diselingi oleh suara napas berat Lucas yang masih demam. Yara duduk di sisi ranjang, memeluk lututnya sendiri sambil menatap anak itu. Tangisnya nyaris tak bersuara, tapi pipinya basah oleh air mata yang terus mengalir. Dadanya sesak oleh rasa bersalah, ketakutan, dan luka lama yang kembali mencuat. “Apa yang harus aku lakukan,” bisiknya lirih, nyaris seperti doa yang patah di ujung lidah. “Steven, jangan lakukan ini, jangan rusak dunia kecil kami.” Lucas mengigau pelan, membuat Yara segera menghapus air matanya. Ia membelai rambut anak itu dan menciumnya. Tapi hatinya tetap tak tenang. Ia tahu Steven bukan pria yang akan mundur ketika sudah mencium kebenaran. Dan jika ia benar-benar melakukan tes DNA, apa yang akan tersisa untuknya dan Lucas? Keesokan paginya, mentari belum terlalu tinggi saat Nadine datang berkunjung, membawa sekotak mainan dan senyum hangat yang dibuat-buat. Ia mengenakan dress lembut berwarna biru muda, rambutnya dikuncir kuda, dan tutur katanya manis seperti biasa. “Lucas, Tante Nadine datang nih. Mau main puzzle bareng?” tanyanya lalu berjongkok di depan anak itu yang kini tampak jauh lebih segar. Lucas, seperti anak kecil pada umumnya, tidak mengenali kedalaman niat orang dewasa. Ia tersenyum lebar dan mengangguk, lalu duduk di karpet ruang tamu sambil mulai membongkar isi kotak bersama Nadine. Sementara Yara menyiapkan teh di dapur, Nadine dengan lihai memulai obrolan ringan. “Lucas, kau tinggal di rumah ini dengan siapa saja, hmm?” tanyanya dengan nada lembut. “Dengan Mama,” jawabnya sambil menyusun potongan gambar mobil. “Oh ya? Kalau Papa?” Lucas mengangkat kepala, tersenyum polos. “Papa Steven tidur di bawah, Mama di atas. Seperti yang Tante Nadine lihat saat menginap di sini.” Nadine nyaris tak berkedip. Dia menahan helaan napas, lalu mengeluarkan ponsel dari saku gaunnya, mencatat satu baris kalimat di aplikasi catatan. Senyumnya tidak pudar. “Papa Steven baik, ya?” Lucas mengangguk. “Iya. Dia suka bacain aku buku sebelum tidur.” Nadine kembali mencatat. Setelah itu, ia pamit dengan sopan dan berkata bahwa ia ingin mengundang Yara dan Lucas makan malam bersama keluarganya, juga bersama Steven. Yara menolak dengan tegas, tapi beberapa jam kemudian, panggilan video dari ayahnya, James, membungkam penolakan itu. “Yara,” kata James dengan suara beratnya yang khas. “Ini hanya makan malam keluarga. Jangan mempermalukan kami dengan bersikap dingin seperti itu.” “Pa, aku rasa—” “Tidak ada tapi-tapian. Hormati tuan rumah. Hormati Nadine yang sudah repot mengatur ini. Itu bagian dari sopan santun.” Yara menggigit bibir. Dadanya kembali sesak dan akhirnya dengan terpaksa menyetujui ajakan itu. Malam pun tiba. Meja makan besar telah ditata rapi. Lilin-lilin ramping menyala di tengah meja, menciptakan cahaya hangat yang kontras dengan udara dingin dalam ruangan. Nadine duduk di samping ibunya, mengenakan gaun merah anggun. Steven duduk di seberangnya, sedangkan Yara dan Lucas duduk bersebelahan, di ujung meja. Percakapan awal diisi dengan basa-basi biasa. Tawa kecil dan obrolan tentang cuaca serta bisnis. Tapi di tengah santapan utama, Nadine memutar arah pembicaraan. “Aku selalu kagum dengan perempuan yang kuat membesarkan anak sendirian,” katanya tenang sambil menyeruput wine. “Aku rasa itu pasti pengalaman yang sangat menguji.” Yara menoleh pelan dengan napas yang tertahan. “Ada banyak jenis laki-laki di dunia ini, bukan? Ada yang setia, ada juga yang pengecut,” lanjut Nadine sambil memandang langsung ke arah Yara. “Apalagi jika seorang laki-laki meninggalkan perempuan yang sedang hamil. Itu sangat menyedihkan.” Pisau garpu di tangan Yara berhenti bergerak. Steven menegakkan punggungnya, tapi tetap diam. “Lucas,” ucap Nadine dengan manis lalu menoleh pada anak itu, “kau tahu siapa ayah kandungmu?” James langsung tertawa kaku. “Ah, Nadine… jangan membawa-bawa anak kecil.” Namun Nadine tetap tersenyum dan meletakkan sesuatu di meja. Sebuah foto. Steven dan Yara di pesta ulang tahun Lyra tujuh tahun lalu. Keduanya tampak mabuk. Sangat dekat. Terlalu dekat untuk ukuran paman dan keponakan. “Menarik, ya?” ucap Nadine, kini nadanya lebih dingin. “Kalian tampak … intim sekali di sini. Kau bahkan bersandar di bahunya, Yara.” Yara menatap foto itu. Giginya menggertak dan tangannya mengepal. “Apa maksudmu membawa foto ini ke meja makan?” “Cuma ingin berbagi kenangan. Aku penggemar sejarah keluarga,” sahut Nadine manis. Makan malam berakhir dalam ketegangan yang membeku. Yara menggandeng Lucas dan langsung pergi begitu acara selesai, tak memberi ruang untuk percakapan lain. Beberapa saat kemudian, di halaman rumahnya, Steven menyusul Yara yang tengah membuka pintu. “Yara, tunggu,” katanya, memegang lengannya. “Aku tidak tahu Nadine akan—” Yara membalikkan badan dengan cepat dan menatapnya penuh amarah. “Apa ini semua permainanmu? Kau tidur di bawah rumahku, lalu berpura-pura peduli, sementara tunanganmu menyusun teka-teki yang dia dapat darimu?” “Bukan aku! Aku tidak pernah memberi tahu Nadine apa pun!” Yara mendorong d**a Steven. “Tapi kau tidak menyangkal apa pun di meja makan tadi! Kau hanya duduk membisu seperti pengecut! Apa itu yang kau mau? Menjadikanku wanita simpananmu? Yang kau sembunyikan dari dunia, sementara kau hidup bahagia bersama Nadine?” Steven menghela napas berat. “Kau tahu bukan itu maksudku…” “Lalu apa? Apa kau pikir aku bisa terus hidup dalam bayang-bayang? Jadi perempuan yang kau temui diam-diam, sementara Lucas hidup dalam kebohongan?” Suaranya meninggi dan nyaris pecah. “Aku akan bicara dengan Nadine agar—" “Dengan cara apa?” Yara memotong ucapan Steven. “Menyingkirkan Nadine? Membuat Lucas bingung siapa papanya? Atau menikahiku diam-diam lalu membiarkanku jadi noda dalam hidupmu?” Steven terdiam. Hatinya ingin menyangkal semua tuduhan itu, tapi lidahnya kelu. Yara menatapnya, luka dan kemarahan tergambar jelas di wajahnya. “Pergilah, Steven. Mulai malam ini, jangan tinggal di rumahku lagi. Sudah kuusir dua kali dan kau tetap bersikeras tinggal di rumahku!” ** Pagi itu, Yara membuka tirai kaca depan butiknya, “Les Jardins de Yara”. Cahaya matahari memantul pada deretan gaun sutra pastel yang tergantung rapi, sementara aroma kopi hitam dari mug di tangannya menambah semangatnya seusai malam penuh badai emosi. Ia baru saja menata maneken terakhir saat bel pintu berdenting lembut. Yara menoleh—dan jantungnya berdegup kencang. Nadine melangkah masuk dengan keanggunan dingin: gaun sheath berwarna krem, blazer senada, serta senyum tipis yang tidak mencapai mata. “Yara. Aku harap kau tidak sedang sibuk hari ini. Aku ingin berbicara empat mata denganmu.” Nadine menoleh ke satu-satunya pramuniaga yang sedang mengepel lantai. “Bisakah kami diberi privasi?” Pramuniaga itu memandang Yara sejenak. Mendapat anggukan singkat dari sang majikan, ia segera menyingkir ke gudang belakang. Ruang butik langsung terasa lebih lapang dan lebih berbahaya. Nadine berkeliling perlahan, ujung jemarinya menyusuri lipatan gaun di etalase seolah menilai kualitas kain. “Butik yang indah,” gumamnya ramah. “Aku selalu menghargai perempuan yang bisa membangun usahanya sendiri.” Ia berhenti di depan Yara dan mencondongkan tubuh sedikit. Senyum di bibirnya menipis, berganti kilatan licin di mata. “Terutama perempuan yang membangun segalanya di atas rahasia.” Yara menegakkan bahu. “Jika maksudmu datang untuk membeli gaun, silakan. Jika tidak, pintu ada di sana.” Yara menunjuk pintu masuk yang Nadine masuki itu dengan dagunya. “Aku tidak berencana berbelanja,” balas Nadine dengan suara serendah bisikan. “Aku datang untuk membicarakan Lucas dan Steven.” Kerongkongan Yara tercekat tapi dia tidak menunduk. “Lucas anakku. Dan topik itu bukan urusan siapa pun.” “Oh, tentu.” Nadine merapatkan jari-jarinya di depan d**a. “Tetapi, jika benar Steven adalah ayah kandungnya, kau sadar apa artinya bagi reputasimu? Bagi reputasiku? Bagi keluarga kita?” “Aku kira ini urusan keluarga kecilku, bukan keluargamu,” sela Yara. “Aku tidak berutang penjelasan kepada siapa pun, terutama kepadamu.” Senyum Nadine melebar, senyum yang mengerikan, seperti pecahan kaca yang berkilau di bawah lampu butik. “Yara, aku tidak takut kalah. Namun bila aku jatuh, aku akan menyeretmu bersamaku. “Sekali kabar ini menyebar, kau tahu apa yang akan digunjingkan media sosial? Wanita muda mengandung anak pamannya sendiri bahkan jika Steven ‘hanya’ adik angkat ibumu. Klien-kanvas-merek akan langsung memutus kontrak. Pelangganmu? Mereka akan beralih ke butik lain secepat mereka mengklik ‘unfollow’.” Yara merasakan darahnya berdesir, tapi ia mengatupkan rahang. “Ancaman yang impresif,” ujarnya tenang. “Sayang sekali, aku sudah kebal. Enam tahun lalu, aku mati-matian bertahan hidup sendirian, tanpa nama, tanpa dukungan. Kini, satu-satunya hal yang kupedulikan adalah Lucas. Silakan, jelaskan kepada dunia. “Aku justru ingin melihat bagaimana kau menjelaskan tunanganmu tidur dengan keponakannya lalu menutupinya bertahun-tahun. Menarik, bukan?” Rona merah tipis merayap di pipi Nadine. “Jangan merasa menang terlalu cepat,” bisiknya. Dia kemudian melangkah lebih dekat, menekan ruang pribadi Yara. “Aku dapat membuat semuanya tampak seperti kesalahanmu. Gadis muda yang mabuk, memikat pria polos yang baru putus, lalu menuduhnya—” Yara mendengus. “Pria polos? Nadine, kau dan Steven sama saja: selalu merasa berhak mencampuri hidup orang lain. Kau maju dengan data separuh, menyusun narasi sesuai maumu. Dan Steven… ia berpikir kebenaran akan menyembuhkan segalanya. Padahal, dia dan kau sama-sama sumber luka.” Mata Nadine sempit, suaranya turun separuh oktaf. “Kau meremehkanku, Yara. Kau pikir aku perempuan sosialita yang hanya pandai bersolek? Satu kata dariku, seluruh keanggunan butik ini—” ia mengibaskan tangan, menunjukkan interior boutique— “bisa runtuh.” “Kau boleh mencobanya,” jawab Yara datar. “Bisnisku lahir dari reputasiku sebagai desainer, bukan gosip keluarga. Dan jika memang Steven anak emas dunia korporat, dia akan terhuyung juga ketika publik sadar dia telah menghancurkan dua perempuan sekaligus.” Nadine terdiam sesaat, mengukur ketegaran lawannya. Lalu dia mencondongkan kepala, senyumnya mengilap bagai pisau. “Baik. Jika itu medan perang pilihanmu, mari kita lihat siapa yang tersisa berdiri.” “Dengan senang hati.” Keheningan menggantung di antara mereka, hening yang bergetar oleh ancaman tak terucap. Bel pintu kembali berdenting; pramuniaga masuk hendak mengembalikan rak gantungan. Nadine menoleh singkat, lalu mundur satu langkah, kembali memancarkan pesona sosialitanya. “Aku pamit,” katanya halus. “Oh, hampir lupa.” Ia mengeluarkan kartu nama metalik dari clutch-nya dan meletakkannya di meja kasir. “Untuk wartawan mode yang ingin mewawancara. Mereka suka cerita dramatis di balik gaun cantik.” Yara tidak menyentuh kartu itu. “Sampaikan salamku pada Steven. Katakan, aku menunggu kapan ia punya cukup keberanian menghadapi hidupnya sendiri.” Tatapan Nadine menajam, tapi ia menahan balasan. Dengan langkah ringan namun meninggalkan jejak dingin, dia keluar butik dan menutup pintu perlahan. Denting bel terakhir terdengar seperti gong penanda awal peperangan. Yara berdiri diam, napas teratur namun dadanya bergemuruh. Ia mengambil kartu nama, melemparkannya ke tong sampah tanpa menoleh. Kemudian ia memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa waspada. Ia tahu badai belum usai. Tapi kali ini, ia tidak akan bersembunyi. Jika Nadine menghunus pedang reputasi, Yara akan melawannya dengan kebenaran, apa pun konsekuensinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD