Bab 15

931 Words
Baru saja pintu butik tertutup setelah kepergian Nadine, suara bel kembali berdenting. Yara, yang belum sempat menarik napas lega, menoleh dengan cepat. Di ambang pintu, berdiri Steven dengan kemeja tergulung setengah lengan dan tangan menggandeng Lucas, yang masih mengenakan seragam sekolah dan tersenyum lebar. “Hai, Mama!” sapa Lucas sambil melepaskan tangan Steven dan berlari ke arah Yara. Yara membungkuk dan memeluk anak itu sekilas, tetapi matanya tertuju pada Steven yang kini melangkah masuk dengan santai. Lelaki itu terlihat percaya diri, seolah tidak ada yang salah dengan kehadirannya di tempat itu. “Aku menjemput Lucas dari sekolah. Dia tadi bilang ingin melihat butikmu,” ujar Steven ringan, seakan tindakan itu tidak menyalahi batas apa pun. Yara berdiri. Sorot matanya dingin. “Aku tidak menyuruhmu menjemputnya.” Steven mengernyit. “Aku hanya—” “Kau tidak seharusnya melakukan itu, Steven. Kau membuatnya bingung. Kau memperkeruh keadaan,” sela Yara cepat, nada suaranya jelas-jelas menahan amarah. Lucas memandangi kedua orang dewasa itu dengan bingung. “Mama… Papa Steven baik, kok. Dia ngajak aku beli es krim—” “Lucas, sayang, main dulu di belakang, ya?” Yara memotong dengan suara lembut. Lucas menurut dan langsung berlari kecil ke ruang belakang. Begitu anak itu menghilang dari pandangan, Yara menatap Steven tajam. “Kau tidak bisa seenaknya menyeret-nyeret Lucas dalam hubungan ini. Dia masih anak-anak.” Steven mendengus tidak percaya. “Hubungan ini? Yara, kau bahkan tidak mengakuiku sebagai ayahnya, lalu menyalahkanku karena ingin dekat dengannya?” ucapnya dengan suara datarnya. “Karena kau memang bukan ayahnya, Steven. Kenapa kau selalu berpikir bahwa Lucas adalah anakmu? Jangan sok tahu!” ucap Yara dengan tegas. Steven menatap datar wajah Yara yang masih terus bersikeras bahwa Lucas bukan anaknya. “Kau pikir kau akan terus bisa menyembunyikan kebenaran ini?” Suara Steven meninggi. “Tidak akan bisa, Yara.” Yara mengatupkan rahang menatap wajah Steven. “Terserah apa katamu. Yang jelas, aku tidak mau kau ikut campur urusanku dan juga Lucas lagi. Biarkan kami bahagia dengan cara kami sendiri.” Steven berjalan mendekat ke arah Yara yang berdiri tak jauh darinya. “Aku tidak akan terus-menerus tunduk pada kemauanmu, Yara. Lucas berhak tahu siapa ayahnya.” “Dan siapa yang akan mengatakannya padanya? Kau? Pria yang bahkan belum selesai dengan tunangannya sendiri?” Yara menyembur tanpa bisa menahan diri. Steven terdiam. Yara menyadari ucapannya telah tergelincir. Tapi amarahnya sudah meluap. “Ya. Tunanganmu. Nadine—perempuan yang datang ke sini pagi ini dan mengancam akan menghancurkan hidupku. Dia bilang, jika kau benar ayah dari Lucas, maka aku dan anakku akan dibuang dari kehidupan kalian seolah kami penyakit menular.” Wajah Steven mengeras. “Apa yang kau katakan tadi?” ucapnya dengan suara dinginnya. Yara menelan ludahnya. “Nadine datang. Sendiri. Dengan senyum palsunya. Dia tahu. Atau setidaknya, menduga. Dan sekarang dia mengancam akan menyeretku kalau dia harus jatuh.” Steven mundur satu langkah, wajahnya berubah muram. “Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal?” “Karena aku tidak percaya siapa pun saat ini,” desis Yara. “Bahkan padamu.” Tanpa sepatah kata lagi, Steven berbalik dan berjalan keluar dengan langkah besar. Pintu kaca berderak saat ia menutupnya. Yara berdiri membeku, hatinya berdebar tak karuan. Rumah keluarga Leonard dipenuhi dengan wewangian mawar segar dan denting gelas-gelas kristal—tanda persiapan pesta makan malam formal. Namun semuanya runtuh seketika ketika Steven menyerbu masuk ke ruang utama, menemukan Nadine sedang berbicara dengan orang tuanya. “Nadine,” panggil Steven dengan suara dingin. Perempuan itu menoleh, kaget oleh ekspresi Steven yang begitu tegas. “Aku ingin bicara. Sekarang.” Di hadapan orang tua Nadine dan beberapa kerabat yang sedang berkumpul, Nadine berdiri dengan anggun. “Ada apa, Steven? Sepertinya kau ingin bicara serius denganku.” Steven menatapnya dalam-dalam. “Ya. Pertunangan ini … aku memutuskan untuk membatalkannya.” Seisi ruangan hening seketika. Ibu Nadine, Nyonya Miranda sontak menjatuhkan sendok saji ke piringnya. Nadine membeku selama dua detik sebelum akhirnya tertawa pendek. “Jangan bercanda di depan semua orang seperti ini, Steven.” “Aku tidak bercanda,” ulang Steven tegas. “Aku tidak bisa bersama perempuan yang mengancam keponakanku tanpa tahu apa-apa. Yang memanggil seorang anak kecil sebagai aib. Yang datang ke butik seorang wanita hanya untuk menyebar ancaman.” Nadine meradang. “Apa kau memilih perempuan itu? Yang menyembunyikan anak haram selama bertahun-tahun dan sekarang—” “Diam, Nadine!” Steven memukul meja dengan telapak tangannya, membuat beberapa tamu tersentak. “Jangan sebut anak itu seperti itu! Dia tidak bersalah!” Suara-suara pelan mulai berbisik di sekeliling ruangan. Wajah Nadine memerah, bukan karena malu, tapi karena marah. “Jadi benar?” desisnya. “Lucas adalah anakmu?” Steven terdiam. Ayah Nadine, Tuan Leonard, berdiri dari kursinya, wajahnya gelap. “Steven. Kami pantas tahu. Apa benar anak itu, anak kandungmu?” Sekali lagi, Steven tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata sesaat dan menghela napas panjang. Sebab dia pun masih belum tahu tentang kebenaran itu. Nadine menunjuk wajahnya. “Kau bahkan tidak bisa menyangkalnya. Luar biasa.” Nadine tertawa campah melihat raut wajah Steven yang tampak tidak bisa menjawab pertanyaan dari ayah Nadine tadi. “Cukup,” ucap Steven akhirnya. “Intinya, pertunangan ini selesai. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk tunanganku sendiri, menghina anak dari keponakanku sendiri!” “Dia bukan keponakanmu! Kau hanya diasuh oleh Bibi Lyra lalu menghancurkan anaknya sendiri!” teriak Nadine dengan lantang. “Jaga mulutmu, Nadine!” desis Steven semakin murka. “Apa?” Nadine menatap nyalang wajah Steven. “Aku yakin, kau akan dibuang oleh keluarga Yara setelah tahu bahwa kau telah merusak masa depan anak semata wayangnya!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD