Bab 16

1081 Words
“Kau pikir kau siapa, Steven?” suara Tuan Leonard rendah namun mengancam. “Kau datang ke rumahku, menghina putriku di depan kerabatku, lalu berpikir bisa melenggang pergi begitu saja?” Steven membalas tatapan itu tanpa keraguan. “Aku tidak bermaksud menghina, Tuan Leonard. Aku hanya mengakhiri sebuah kebohongan. Aku tidak bisa menikahi wanita yang menggunakan ancaman untuk menghancurkan keluarga kecilku.” “Keluarga?” Tuan Leonard tertawa sinis sambil menunjuk ke arah pintu. “Wanita simpanan dan anak haram itu kau sebut keluarga? Kau hanyalah adik angkat yang beruntung, Steven! Tanpa investasiku, perusahaanmu hanya seonggok sampah di bursa saham!” “Papa, cukup!” Nadine menjerit dan air mata mengalir deras merusak riasannya yang sempurna. Dia lalu jatuh terduduk di lantai sembari meremas gaun mahalnya dengan tangan gemetar. “Steven, kau tidak bisa melakukan ini padaku! Aku mencintaimu!” Steven menatap Nadine dengan tatapan yang dingin. “Cinta tidak menghancurkan, Nadine. Kau datang ke butik Yara dengan ancaman. Kau menyasar Lucas. Itu adalah batas terakhirku.” “Keluar dari sini!” Tuan Leonard menggebrak meja hingga gelas kristal terguling. “Mulai detik ini, seluruh investasi Leonard Group ditarik dari perusahaanmu. Aku akan memastikan tidak ada satu bank pun di kota ini yang mau memberimu pinjaman. Kau akan merangkak kembali memohon padaku, Steven!” Steven hanya mengangguk tipis, memberikan penghormatan terakhir yang kaku. “Lakukan apa yang menurut Anda benar, Tuan. Aku permisi.” Saat Steven melangkah keluar menuju mobilnya, Nadine masih meraung histeris di lantai, mengundang tatapan iba sekaligus sinis dari para tamu yang berbisik-bisik. Namun, begitu pintu utama tertutup dan ia merasa tidak ada lagi mata tamu yang melihat, Nadine perlahan berhenti menangis. Ia menyeka air matanya dengan kasar, matanya yang sembab kini berkilat dengan kebencian yang murni. Ia merogoh ponsel dari balik gaunnya, jemarinya bergerak cepat menekan sebuah nomor. “Halo? Redaksi Mode & Skandal?” suara Nadine kini datar dan dingin, sama sekali tidak menunjukkan jejak breakdown yang baru saja dia tunjukkan. “Aku punya rekaman eksklusif. Desainer Yara Patricia Caroline bukan hanya merebut tunangan orang, tapi dia juga menyembunyikan skandal i***s dengan paman angkatnya sendiri. Kirim fotografer ke apartemen Steven sekarang. Aku ingin berita ini menjadi tajuk utama dalam satu jam.” Di dalam mobil yang melaju kencang, ponsel Steven terus bergetar tanpa henti. Nama 'Lyra' berkedip di layar. Steven menghela napas panjang sebelum menekan tombol terima. “Steven. Apa yang terjadi? Apa benar, kau membatalkan pertunanganmu dengan Nadine?” tanya Lyra di seberang sana dengan suara datar dan sedikit cemas. “Aku punya alasan yang kuat,” jawab Steven tenang sambil memutar kemudi dengan satu tangan. “Alasan apa?” tanyanya ingin tahu. Steven menghela napas kasar. “Lyra, Nadine mengancam Yara. Dia mengincar Lucas. Apakah kau ingin aku menikahi wanita yang berniat mencelakai cucumu sendiri?” tanya Steven akhirnya. Lyra terdiam sejenak mendengar ucapan Steven barusan. “Lalu, apa rencanamu sekarang? Kau tahu kan, publik pasti akan mencecarmu apalagi jika mereka tahu kau membatalkan pertunangan itu demi melindungi anak dari keponakanmu.” “Aku tidak peduli pada publik, Lyra. Aku peduli pada kebenaran. Aku akan mengurus James. Sekarang, tolong tutup teleponnya, aku harus ke kantor.” “Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan menghubunyi Yara untuk memastikan dia baik-baik saja.” Steven kemudian mematikan sambungan telepon. Ia memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Belum sempat dia meletakkan ponselnya, sebuah pesan singkat masuk dari Roy, asisten pribadinya. [Pesan dari Roy]: ‘Tuan, kondisi darurat. Leonard Group baru saja merilis pernyataan penarikan modal secara publik. Saham perusahaan turun 5% dalam satu jam terakhir.’ ‘Media sudah mencium aroma pembatalan pertunangan. Wartawan sudah mengepung lobi kantor. Jangan masuk lewat pintu depan.’ Steven mengeratkan cengkeramannya pada kemudi. Dia lalu menginjak pedal gas lebih dalam, membuat mesin mobil sportnya menderu membelah jalanan kota yang mulai gelap. Sesampainya di gedung perusahaan, Steven memilih akses lift rahasia dari lantai parkir bawah tanah. Begitu pintu lift terbuka di lantai eksekutif, Roy sudah berdiri di sana dengan wajah sepucat kertas, memegang tablet yang menampilkan grafik saham merah yang menukik tajam. “Laporan singkatnya, Roy,” perintah Steven sambil berjalan cepat menuju ruang kerjanya. “Investasi Leonard menyumbang tiga puluh persen dari likuiditas kita untuk proyek dermaga baru, Tuan,” ujar Roy terengah-engah mengikuti langkah lebar bosnya. “Tuan Leonard benar-benar menarik semuanya sekaligus. Bursa bereaksi negatif. Mereka mengira ada masalah internal yang sangat serius.” Steven duduk di kursi kebesarannya, menatap dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota. Di bawah sana, dia bisa melihat kerumunan wartawan dengan lampu kilat yang tak henti-hentinya menyambar seperti badai petir. “Kumpulkan tim legal dan humas. Kita lakukan konferensi pers besok pagi,” ucap Steven dingin. “Tapi Tuan, apa yang akan kita katakan? Jika kita menyerang Nadine, Tuan Leonard akan semakin menggila,” Roy tampak ragu. Steven menyandarkan punggungnya, matanya menatap tajam ke arah Roy. “Kita tidak akan menyerang. Kita akan mengumumkan kebenaran. “Siapkan data pengalihan dana pribadi milikku untuk menutup lubang investasi Leonard. Aku akan menggunakan aset pribadiku sendiri untuk menstabilkan perusahaan.” “Aset pribadi? Tapi itu jumlah yang sangat besar, Tuan. Anda bisa kehilangan segalanya jika proyek dermaga ini gagal.” “Aku sudah kehilangan waktu tujuh tahun karena ketakutan, Roy. Aku tidak akan kehilangan Yara dan Lucas lagi hanya karena uang.” Ponsel Steven bergetar lagi. Kali ini sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Begitu dibuka, isinya adalah foto Yara yang sedang menggendong Lucas di depan apartemen, diambil dari jarak jauh dengan lensa tele. [Pesan Anonim]: Pemandangan yang manis untuk sebuah skandal besok pagi. Nikmatilah sisa malammu, Steven. Karirmu berakhir saat matahari terbit. Steven melempar ponselnya ke atas meja hingga berdentang keras. Ia tahu ini adalah awal dari peperangan yang sesungguhnya. Nadine tidak akan berhenti, James tidak akan diam, dan dunia akan menghakiminya. Namun, bayangan wajah Yara yang tenang dan tawa polos Lucas saat makan es krim tadi siang menjadi jangkar yang menahan akal sehatnya. “Roy,” panggil Steven tanpa mengalihkan pandangan dari jendela. “Ya, Tuan?” “Perketat penjagaan di kediaman Yara. Pastikan tidak ada satu pun serangga yang bisa masuk tanpa ijin dariku. “Dan satu lagi, hubungi pengacara pribadi keluarga. Aku ingin mengubah daftar ahli waris seluruh aset pribadiku malam ini juga.” Roy tertegun. “Atas nama siapa, Tuan?” “Lucas Charlo,” jawab Steven mantap. “Anakku.” Konflik telah dimulai, dan Steven baru saja membakar jembatan di belakangnya. Dia tahu, mulai besok, dia tidak lagi memiliki jalan untuk mundur. “A-anak Tuan?” Roy masih menganggap jika Steven baru saja salah ucap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD