Bab 17

1115 Words
Mentari pagi baru saja menyentuh aspal jalanan di depan butik “Les Jardins de Yara”, namun suasana di sana jauh dari kata tenang. Sejak pukul enam pagi, kerumunan pria dan wanita dengan kamera lensa panjang serta mikrofon telah memadati trotoar. Suara riuh rendah spekulasi mereka menembus celah pintu kaca yang tertutup rapat. Di dalam butik, Yara berdiri mematung di balik rak gaun sutra. Tangannya yang dingin memegang ponsel yang menampilkan tajuk berita utama di hampir seluruh portal berita daring. Sebuah foto besar menampilkan Steven yang sedang menggendong Lucas dengan tawa lebar, sementara Yara berdiri di sampingnya dengan tatapan lembut. “SKANDAL i***s: CEO STEVEN BATALKAN PERTUNANGAN DEMI KEPONAKAN DAN ANAK RAHASIANYA.” “Mama, kenapa orang-orang itu berteriak di depan?” suara kecil Lucas memecah keheningan. Dia kemudian menarik ujung blus Yara, dan matanya yang bulat tampak ketakutan melihat kilatan lampu kamera yang memantul di kaca butik seperti serangan petir. Yara segera berjongkok, mencoba menyembunyikan getar di wajahnya. Ia merangkul bahu mungil putranya. “Tidak apa-apa, sayang. Mereka hanya ingin tahu tentang baju-baju Mama. Lucas masuk ke ruang jahit ya? Di sana banyak mainan baru.” “Tapi mereka terlihat marah, Mama. Lihat, paman itu menunjuk-nunjuk ke arah kita!” Lucas menunjuk seorang pria yang menempelkan wajahnya ke kaca depan sambil terus memotret. Yara menarik napas tajam. Ia menggendong Lucas dan membawanya ke ruang belakang yang lebih kedap suara. “Dengar, Lucas. Apa pun yang terjadi, jangan keluar dari ruangan ini sampai Mama memanggilmu. Mengerti?” Lucas mengangguk ragu. “Apa Papa Steven akan datang?” Yara terdiam sejenak, tenggorokannya terasa tersumbat. “Steven sedang sibuk. Sekarang, masuklah.” Setelah memastikan Lucas aman, Yara kembali ke ruang depan. Ia melihat tumpukan koran fisik yang dilemparkan seseorang ke depan pintunya. Headline-nya sama kejamnya. Nadine tidak sedang menggertak; dia sedang melakukan pembunuhan karakter secara sistematis. Ponsel di atas meja kasir bergetar hebat. Nama 'Steven' berkedip. Yara menekan tombol terima dengan tangan gemetar. “Steven, kau lihat beritanya?” Yara langsung menyerang tanpa basa-basi. “Yara, tetaplah di dalam. Aku sedang mengirim tim keamanan ke sana. Jangan buka pintu untuk siapa pun!” ucap Steven dengan nada suaranya yang terdengar berat, di latar belakang terdengar keributan serupa. “Mereka mengepungku, Steven! Mereka menyebut ini i***s! Bagaimana kau akan menjelaskan bahwa kau adalah paman angkatku di depan publik yang sudah terlanjur jijik padaku dan juga padamu?” “Aku akan membereskannya, Yara. Aku bersumpah. Fokuslah pada Lucas. Jangan biarkan dia melihat TV atau internet.” “Sudah terlambat! Dia melihat mereka di depan pintu! Nadine benar-benar gila, Steven. Dia menghancurkan segalanya!” “Dengar padaku, Yara! Jangan menyerah sekarang. Aku akan sampai di sana dalam sepuluh menit—” PRANG! Suara kaca pecah yang memekakkan telinga memotong kalimat Steven. Yara terpekik dan menjatuhkan ponselnya. Sebuah batu sebesar kepalan tangan manusia baru saja menghantam kaca depan butik, menyisakan retakan besar yang menjalar seperti jaring laba-laba. “Keluar kau, w************n!” teriak seorang pria dari luar, suaranya menembus retakan kaca. “Berhenti bersembunyi di balik nama keluarga Leonard!” “Yara?! Yara, kau masih di sana?!” suara Steven terdengar lirih dari ponsel yang tergeletak di lantai. Yara tidak menjawab. Dia hanya menatap nanar ke arah retakan kaca itu. Harga dirinya, karier yang ia bangun dengan darah dan air mata selama enam tahun, kini hancur hanya dalam satu malam. Dia kemudian melangkah mundur dan mendekat ke arah telepon kabel di meja kasir, hendak menghubungi polisi. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, suara derit ban mobil yang mengerem mendadak membungkam kerumunan wartawan. Sebuah sedan hitam mewah dengan plat nomor yang sangat Yara kenal berhenti tepat di depan pintu butik, menghalangi pandangan para wartawan. Kerumunan itu terbelah. Para wartawan berebut posisi, mengira sang CEO akhirnya datang untuk menyelamatkan wanitanya. Pintu mobil pun terbuka. Sepasang sepatu kulit mengkilap menyentuh aspal. Yara menahan napas. Ia berharap itu Steven. Ia butuh Steven. Namun, saat sosok itu berdiri tegak, jantung Yara seolah berhenti berdetak. Bukan Steven yang keluar dengan wajah penuh perlindungan. Pria itu berdiri dengan setelan jas abu-abu kaku, wajahnya sedingin es, dan matanya memancarkan kebencian yang mendalam. Itu adalah James. Ayah kandungnya. James tidak langsung masuk. Ia berdiri di depan butik, menatap retakan kaca itu dengan hina, lalu menoleh ke arah para wartawan yang kini menodongkan mikrofon ke arahnya. “Tuan James! Apakah benar putri Anda menjalin hubungan terlarang dengan adik angkat Anda sendiri?” tanya seorang wartawan dengan agresif. James tidak menjawab. Dia hanya memberikan isyarat kepada pengawalnya untuk membuka jalan. Ia melangkah menuju pintu butik yang terkunci. Yara mendekat ke pintu dengan ragu, tangannya gemetar saat memutar kunci. Begitu pintu terbuka sedikit, James mendorongnya masuk dengan kasar dan langsung menutup pintu kembali, membiarkan para pengawalnya menjaga barikade di luar. “Papa ...,” bisik Yara, dan suaranya nyaris hilang. James tidak memeluknya. Dia justru melayangkan pandangan muak ke sekeliling butik yang indah itu. “Indah sekali tempat ini, Yara. Tempat yang sangat cocok untuk menyembunyikan noda paling kotor di keluarga kita.” “Ini tidak seperti yang mereka tulis, Pa. Steven dan aku—” “Cukup!” James menggebrak meja kasir, membuat Yara tersentak mundur. “Aku tidak datang untuk mendengar dongengmu. Aku datang untuk mengakhiri kegilaan ini sebelum kau menyeret namaku ke dalam liang lahat bersama reputasimu yang sampah itu.” “Apa maksud Papa?” ucap Yara dengan raut wajah lelahnya. James mengeluarkan sebuah dokumen dari balik jasnya dan melemparkannya ke d**a Yara. “Tanda tangani itu. Kau akan menyerahkan hak asuh Lucas kepadaku, dan kau akan pergi ke luar negeri sore ini juga. Tanpa Steven. Tanpa Lucas.” Yara menatap ayahnya dengan tidak percaya. “Papa ingin mengambil Lucas dariku? Setelah semua yang Papa lakukan?” “Aku tidak mengambilnya. Aku menyelamatkannya dari ibu yang memalukan sepertimu!” James mendekat hingga wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Yara. “Jika kau menolak, aku sendiri yang akan mengonfirmasi kepada media bahwa kau memang merayu Steven sejak kau masih remaja. Aku akan memastikan kau mendekam di penjara atas tuduhan pencemaran nama baik dan perbuatan asusila.” “Papa tega melakukan itu pada anak kandung Papa sendiri?” Yara terisak, air mata kemarahan mulai jatuh. “Anak kandung?” James tertawa hambar. “Sejak kau membiarkan anak yang lahir tanpa ayah itu kau lahirkan, kau sudah mati bagiku, Yara. Sekarang, tanda tangani, atau aku akan membiarkan massa di luar sana merobek pintu ini dan membawamu keluar secara paksa.” Di ruang belakang, suara tangis Lucas mulai pecah sembari memanggil-manggil ibunya. Yara berdiri di antara ancaman ayahnya di depan dan ketakutan putranya di belakang, sementara retakan di kaca butiknya perlahan-lahan mulai runtuh, persis seperti hidupnya. “Kau adalah ayah paling tega di dunia ini, Pa!” desis Yara dengan suara gemetarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD