Lampu gantung kristal di ruang tengah kediaman utama keluarga Leonard berpijar dingin, memantulkan bayangan kaku James yang berdiri di tengah ruangan.
Yara mendekap Lucas dengan erat, tubuhnya gemetar bukan karena suhu pendingin ruangan, melainkan karena atmosfer intimidasi yang memenuhi setiap sudut rumah masa kecilnya itu.
Para pengawal James berdiri tegap di depan pintu keluar, menutup segala akses pelarian.
Lucas, yang masih mengenakan seragam sekolah yang lusuh dan sedikit kotor akibat kerusuhan di butik, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ibunya.
Isak tangis kecilnya menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian yang mencekam.
“Duduk, Yara,” perintah James tanpa menoleh. Suaranya datar, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
Yara tetap berdiri, mempererat dekapannya pada Lucas. “Aku ingin pulang ke rumahku, Papa. Kau tidak bisa menahan kami di sini secara paksa.”
James berbalik dengan gerakan kilat. Matanya yang tajam menghujam Yara dengan sorot kebencian yang murni.
“Pulang? Ke tempat persembunyian yang disediakan oleh adik angkatku? Tempat di mana kau menjual harga dirimu setiap malam?”
“Jaga bicaramu di depan Lucas!” Yara membalas dengan suara tertahan, berusaha menjaga kewarasannya demi sang putra.
James mendengus sinis. Ia melangkah mendekat, mengabaikan ketakutan Lucas yang semakin mengeratkan pegangan pada baju Yara.
Dia menarik sebuah kursi kayu jati dan menghempaskannya di depan Yara dengan suara berdentum keras.
“Bawa anak itu ke kamar atas,” perintah James kepada kepala pengawal.
“Tidak! Jangan sentuh dia!” teriak Yara saat dua pria berseragam hitam melangkah maju.
“Hanya sebentar, Yara. Aku butuh jawaban jujur dari bibirmu yang penuh dusta itu,” James memberi isyarat mata. Para pengawal dengan paksa menarik Lucas dari pelukan Yara.
“Mama! Mama, tolong Lucas!” jerit anak kecil itu saat tubuhnya diangkat menjauh.
“Papa, jangan lakukan ini! Lucas!” Yara mencoba mengejar, namun James mencengkeram lengannya dengan tenaga yang luar biasa dan menghempaskannya hingga terduduk di kursi.
Setelah pintu lantai atas tertutup dan jeritan Lucas mulai memudar, James membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi tempat Yara duduk.
Dia kemudian menatap putrinya seolah Yara adalah aib paling memalukan yang pernah ada dalam silsilah keluarga Leonard.
“Sekarang, bicara,” desis James. “Apakah Lucas benar-benar darah daging Steven?” tanyanya dengan nada menekan.
Yara mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Dia menatap lurus ke mata ayahnya dengan sisa-sisa keberanian yang dia miliki. “Dia anakku. Itu saja yang perlu kau tahu.”
“Jangan mencoba bermain kata denganku!” James menghantamkan telapak tangannya ke meja di samping mereka.
“Publik sudah menuding kalian melakukan i***s! Saham keluargaku sedang terjun bebas karena ulahmu! Jika dia benar anak Steven, aku punya cara untuk memutarbalikkan keadaan ini.”
Yara tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh dengan kepahitan. “Memutarbalikkan keadaan? Maksudmu, kau akan menggunakan Lucas untuk memeras Steven? Kau ingin mengancamnya agar dia menyuntikkan dana ke perusahaanmu yang hampir bangkrut itu dengan imbalan pengakuan sebagai ayah?”
“Itu disebut strategi bisnis, Yara!” James berdiri tegak dan merapikan jasnya dengan tenang.
“Steven berutang banyak pada keluarga ini. Dia tumbuh besar dengan uangku. Jika dia menghamili putriku, maka dia harus membayar harganya.”
“Dia bukan barang dagangan, Pa. Lucas adalah manusia. Dan aku tidak akan membiarkanmu menjadikannya alat pemuas keserakahanmu!” pekik Yara dengan sekuat tenaganya.
James mendekat lagi dengan nada suara yang kini merendah, lebih berbahaya dari sebelumnya. “Tinggal jawab 'ya' atau 'tidak'. Apakah malam itu, tujuh tahun yang lalu, pria yang bersamamu adalah Steven?”
Yara tetap bungkam. Dia tahu persis watak ayahnya. Jika ia mengaku, James akan segera menyeret Steven ke dalam kontrak-kontrak gelap yang akan menghancurkan hidup Steven.
Namun jika ia mengelak, James tidak akan berhenti menyiksa mentalnya. Ia memilih keheningan sebagai benteng terakhir.
“Kau pikir diammu akan menyelamatkannya?” James menarik napas panjang, sembari mencoba mengendalikan amarahnya.
“Kau selalu menjadi anak yang egois. Kau lebih memilih melindungi kekasih gelapmu daripada menyelamatkan nama baik ayahmu sendiri.”
“Pernahkah kau berpikir untuk melindungiku, Papa?” Yara bertanya dengan suara bergetar.
“Saat wartawan mengepungku, saat Nadine menghinaku, kau justru datang untuk mengambil satu-satunya kebahagiaan yang kumiliki.”
“Kebahagiaan yang dibangun di atas aib bukanlah kebahagiaan,” James merogoh saku jasnya. “Berikan ponselmu.”
“Apa?”
“Ponselmu, Yara. Sekarang!” James merampas tas tangan Yara dengan kasar dan mengeluarkan ponsel dari dalamnya.
Dia kemudian menatap layar yang terkunci itu dengan jijik sebelum memasukkannya ke dalam sakunya sendiri.
“Kau tidak berhak melakukannya!” pekik Yara kembali.
“Di rumah ini, aku berhak atas segalanya,” James memberi isyarat kepada pengawal untuk menarik Yara berdiri.
“Bawa dia ke kamar sayap barat. Kunci dari luar. Pastikan tidak ada akses internet atau telepon kabel di sana.”
“Kau gila, Papa! Kau tidak bisa menyekap kami!” Yara memberontak saat para pengawal menyeretnya menuju tangga.
James berjalan di belakangnya dengan langkah yang mantap. “Kau akan tetap di sana bersama anakmu sampai besok pagi. Aku sudah memanggil dokter pribadi keluarga untuk datang pukul tujuh tepat.”
Langkah Yara terhenti di depan pintu kamar kayu besar yang gelap. Ia menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan horor. “Dokter? Untuk apa?”
James berhenti tepat di depan pintu, menatap putrinya dengan senyum dingin yang tidak mencapai matanya.
“Untuk mengambil sampel darah kalian berdua. Aku tidak butuh pengakuan darimu lagi, Yara. Sains akan memberiku jawaban yang kubutuhkan.”
“Kau tidak boleh menyentuh Lucas dengan jarum suntik itu!” Yara berteriak histeris, namun ia didorong masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, ia melihat Lucas yang meringkuk di sudut tempat tidur, menangis ketakutan.
Yara segera berlari dan memeluk putranya, mencoba memberikan kehangatan di tengah dinginnya ruangan itu.
“Kau tidak akan keluar dari kamar ini sampai tes DNA dilakukan besok pagi,” ucap James dari ambang pintu.
“Dan jika hasilnya membuktikan bahwa dia adalah anak Steven, bersiaplah. Kau akan dikirim ke luar negeri sore harinya, sementara Lucas akan tetap di sini di bawah pengawasanku sebagai aset paling berharga keluargaku.”
“Kau monster!” Yara menjerit tepat sebelum pintu jati itu ditutup dengan suara dentuman yang menggema.
KLIK.
Suara kunci yang diputar dari luar terdengar jelas. Yara mencoba menggedor pintu, namun tidak ada jawaban.
Dia merosot ke lantai dan mendekap Lucas yang gemetar hebat. Di balik jendela yang berjeruji besi, langit mulai menggelap, seolah mencerminkan masa depan yang kini terasa begitu kelam.
“Mama ... aku takut,” bisik Lucas lirih.
Yara mencium puncak kepala putranya dan air matanya jatuh membasahi seragam Lucas.
“Ssst ... Mama di sini, sayang. Mama tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Papa Steven akan datang ... dia pasti akan datang.”
Yara menatap pintu yang terkunci itu dengan tatapan kosong. ‘
Dia hanya memiliki waktu hingga besok pagi sebelum rahasia yang dia simpan dengan nyawanya itu dipaksa keluar oleh jarum suntik, dan dia hanya bisa berharap Steven mampu menemukannya sebelum fajar menyingsing.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu,” bisik Yara lirih.