Bab 19

1102 Words
Gedung pusat korporasi Steven bergetar oleh ketegangan yang nyaris meledak. Di dalam ruang rapat utama, enam orang anggota dewan komisaris duduk dengan wajah kaku, menatap Steven yang berdiri di ujung meja dengan nafas yang memburu. “Anda tidak bisa pergi begitu saja, Steven! Saham kita merosot tajam dan Anda lebih memilih mengurusi masalah domestik?” hardik Tuan Wijaya, sang komisaris utama, sambil menggebrak tumpukan laporan keuangan. Steven mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. “Yara dan Lucas disekap oleh James! Persetan dengan harga saham jika nyawa mereka terancam!” “Jika Anda melangkah keluar dari pintu ini tanpa memberikan solusi konkret bagi para pemegang saham, kami akan melakukan mosi tidak percaya!” ancam komisaris lainnya. Steven menatap mereka satu per satu dengan kilatan mata yang berbahaya. “Lakukan sesuka kalian. Aku akan membeli kembali seluruh saham itu dengan aset pribadiku setelah aku memastikan mereka aman. Rapat ini selesai!” Tanpa menunggu balasan, Steven menyambar jasnya dan berlari menuju lift, mengabaikan teriakan para petinggi perusahaan yang masih menuntut penjelasan. ** Sementara itu, di kediaman besar keluarga Leonard, suasana sunyi mencekam. James duduk di sofa ruang tamu dengan wajah lelah, jemarinya terus memijat kening yang berdenyut hebat. Ketukan lembut di pintu depan membuyarkan lamunannya. Nadine melangkah masuk dengan gaun sutra berwarna pastel, membawa keranjang buah dan senyum yang tampak sangat tulus. “Paman James, aku datang untuk melihat keadaan,” ucap Nadine lembut. Dia kemudian menoleh ke arah Lyra yang berdiri kaku di dekat tangga. “Bibi Lyra, aku sungguh menyesal atas semua kekacauan ini. Aku datang untuk berbicara dengan Yara, sebagai sesama wanita. Aku ingin kita berdamai.” Lyra melipat tangan di d**a, matanya menatap Nadine dengan selubung kecurigaan yang tebal. “Berdamai, Nadine? Setelah kau memicu badai media yang menghancurkan reputasi putriku?” “Aku hanya bereaksi karena emosi, Bibi. Aku ingin memperbaikinya,” balas Nadine dengan nada memelas. Lyra melangkah maju satu tindak menatap Nadine dengan tatapan tajamnya. “Aku telah hidup cukup lama untuk membedakan antara penyesalan dan strategi. Aku merasa kau sama sekali tidak memiliki niat untuk berdamai. Kau hanya sedang mencari celah untuk menusuk lagi.” Senyum manis di bibir Nadine membeku seketika. Ruangan itu hening selama beberapa detik sebelum Nadine menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna licik. Ia tidak membantah, hanya menatap Lyra dengan pandangan yang kosong. “Bibi terlalu lelah rupanya,” gumam Nadine singkat. Lyra mendengus dingin. “James, urusi tamu agungmu ini. Aku tidak ingin melihat wajahnya lebih lama lagi.” Lyra berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya tanpa menoleh lagi. James menghela napas panjang. “Maafkan Bibi Lyra, Nadine. Dia sangat terguncang.” “Tidak apa-apa, Paman. Aku mengerti,” Nadine mengusap lengan James dengan simpatik. “Boleh aku ke toilet sebentar sebelum aku pamit pulang? Perjalananku cukup jauh tadi.” “Tentu, kau tahu di mana letaknya,” sahut James lesu, kembali memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya. Nadine berjalan menjauh, namun langkahnya tidak menuju toilet. Dia memastikan James tidak memperhatikan, lalu dengan gerakan seringan kucing, ia menaiki tangga sayap barat. Ia tahu di mana James menyekap Lucas. Pintu kamar itu tidak terkunci dari dalam. Nadine menyelinap masuk. Di dalam remang cahaya lampu tidur, dia melihat Lucas tertidur lelap dengan jejak air mata di pipinya. Nadine mendekat, rasa iba sama sekali tidak menyentuh hatinya. Dengan gerakan cepat dan presisi, dia mencabut beberapa helai rambut dari puncak kepala anak itu. Lucas mengigau pelan namun tidak terbangun. “Ini adalah tiket keberuntunganku,” bisik Nadine sambil memasukkan sampel itu ke dalam plastik kecil yang ia simpan di balik saku gaunnya. Nadine keluar dari kamar dan menutup pintu dengan hati-hati. Namun, tepat saat dia berbalik di koridor lantai atas, sebuah bayangan besar menghadangnya. Steven berdiri di sana dengan kemeja yang berantakan dan napas yang terengah-engah. Matanya berkilat murka saat melihat Nadine keluar dari kamar Lucas. “Apa yang kau lakukan di sini, Nadine?!” suara Steven menggelegar, memenuhi lorong. Nadine tersentak, namun dia segera menguasai diri. “Steven? Kau menerobos masuk seperti pencuri?” Steven maju selangkah, mencengkeram lengan Nadine dengan kuat hingga wanita itu merintih. “Jangan pernah kau berani menyentuh Lucas atau Yara lagi! Pergi dari sini sebelum aku benar-benar melupakan bahwa kau adalah seorang wanita!” “Lepaskan aku, Steven! Kau menyakitiku!” “Keluar!” Steven menghempaskan lengan Nadine hingga wanita itu terhuyung ke dinding. “Jangan pernah muncul lagi di hadapanku, di rumah ini, atau di mana pun keluargaku berada!” Nadine merapikan gaunnya, dia tidak tampak takut. Sebaliknya, dia menyunggingkan senyum miring yang memuakkan. Dia menatap Steven dengan tatapan penuh kemenangan yang tersembunyi. “Kau sangat sombong saat ini, Steven,” desis Nadine pelan. “Tapi dengarkan aku baik-baik. Justru kau yang akan datang merangkak padaku, memohon ampun, setelah aku berhasil menghancurkan hidupmu dan martabat wanita kesayanganmu itu. Nikmatilah saat-saat terakhirmu sebagai pahlawan.” Nadine melangkah pergi dengan tawa kecil yang mengerikan. Steven hendak mengejarnya, namun suara berat James menghentikannya dari lantai bawah. “Hentikan, Steven!” James berdiri di kaki tangga dengan wajah gelap. “Bagaimana kau bisa masuk ke rumahku?” Steven menuruni tangga dengan langkah lebar, berdiri tepat di depan James. “Di mana Yara? Berikan kuncinya, James! Kau tidak berhak menyekap mereka!” James menghalangi jalan Steven saat Steven mencoba merangsek ke arah sayap barat. “Kau tidak berhak menemui Yara! Kau adalah sumber aib keluarga ini! Pergi dari rumahku sekarang juga sebelum aku memanggil polisi atas tuduhan perambahan ilegal!” “Polisi? Silakan panggil mereka!” tantang Steven dengan nada suara yang meninggi. “Biarkan mereka tahu bahwa Tuan James yang terhormat menyekap putri dan cucunya sendiri karena keserakahan bisnis!” “Jaga mulutmu!” James mendorong d**a Steven. “Yara adalah putriku, dan Lucas berada di bawah tanggung jawabku sebagai kepala keluarga. Kau bukan siapa-siapa bagi mereka! Kau hanya anak angkat yang telah merusak kepercayaan kami!” “Aku adalah pria yang akan menghancurkanmu jika kau tidak menyingkir dari jalanku, James!” Steven mencengkeram kerah baju James, matanya merah karena amarah yang memuncak. “Kau tidak akan pernah mendapatkan mereka!” James berteriak tepat di wajah Steven. “Pengawal! Usir dia keluar!” Empat pengawal berseragam hitam segera mengepung Steven. James merapikan pakaiannya dengan tangan gemetar lalu menatap Steven dengan tatapan penuh kebencian. “Sampai tes DNA itu keluar besok pagi, kau tidak akan melihat seujung rambut mereka pun. Sekarang, seret dia keluar!” Steven memberontak, namun kekuatan empat orang pria dewasa menahannya. Saat dia diseret menuju pintu besar, matanya terus menatap ke arah koridor lantai atas, tempat dia tahu Yara dan Lucas sedang menunggunya dalam kegelapan. “Aku akan memastikan kalian keluar dari penjara keluargamu sendiri,” bisik Steven penuh janji.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD