Bab 1 — The Beginning Sang Kekasih Allah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
(Bismillāhir-rahmānir-rahīm)
--------------------------------------------
Langit senja menggantung redup di atas sebuah desa kecil bernama Darul Falah. Desa itu berada di tepian padang ilalang luas, jauh dari hiruk-pikuk kota dan perdagangan manusia. Rumah-rumahnya sederhana, berdinding bambu dan beratap rumbia. Di desa itulah tinggal seorang pemuda bernama Musaffa Zassyiff.
Tak seorang pun mengetahui dengan pasti sejak kapan nama itu menjadi harum di telinga penduduk desa. Sebab Musaffa bukan bangsawan, bukan pula anak saudagar kaya. Ia hanya anak dari seorang lelaki tua renta bernama Abdullah, seorang penenun tikar yang tubuhnya telah bungkuk dimakan usia.
Mereka hidup di sebuah gubuk kecil dekat sungai.
Namun anehnya, siapa pun yang bertemu Musaffa akan merasa damai.
Matanya teduh. Ucapannya lembut. Langkahnya ringan. Dan senyumnya seperti menenangkan hati orang yang sedang gelisah.
Setiap subuh, sebelum ayam jantan berkokok, Musaffa telah bangun. Ia mengambil air wudu di sumur belakang rumah, lalu mengangkat ayahnya yang telah lemah untuk duduk.
“Ayah, mari shalat,” katanya lembut.
Abdullah tersenyum lirih.
“Engkau tak pernah lelah menjagaku, Nak.”
Musaffa hanya menunduk.
“Bukankah surga berada di bawah ridha orang tua?”
Kemudian mereka shalat berjamaah dalam cahaya lampu minyak yang kecil. Seusai shalat, Musaffa membacakan Al-Qur’an dengan suara yang begitu merdu hingga dedaunan seakan ikut diam mendengarkan.
Orang-orang desa sering berkata, jika Musaffa membaca Al-Qur’an saat malam, maka anjing-anjing berhenti menggonggong dan angin berhembus lebih pelan.
---
Kehidupan mereka sangat miskin.
Kadang mereka hanya makan singkong rebus selama beberapa hari. Kadang Musaffa harus bekerja di ladang orang demi membeli obat untuk ayahnya.
Namun tidak pernah sekalipun terdengar keluhan dari bibirnya.
Suatu pagi, seorang tetangga bernama Karim datang terburu-buru.
“Musaffa! Tolong doakan anakku! Sudah tiga hari panasnya tak turun!”
Musaffa yang sedang membelah kayu berhenti. Ia menatap Karim dengan teduh.
“Aku hanyalah hamba biasa.”
“Tapi semua orang bilang doamu mustajab!”
Musaffa menunduk lama.
Lalu ia berkata pelan, “Jika Allah ridha, insyaAllah anakmu sembuh.”
Ia mengambil air wudu, lalu masuk ke rumah kecilnya. Di sudut rumah, ia shalat dua rakaat sangat lama. Air matanya jatuh di sajadah usang.
“Ya Allah… jika kesembuhan itu baik bagi anak itu, sembuhkanlah. Jangan karena namaku disebut-sebut manusia, lalu Engkau cabut keikhlasanku.”
Setelah itu ia mendatangi rumah Karim.
Anehnya, belum sampai matahari tergelincir, panas anak itu turun.
Sejak saat itu semakin banyak orang datang meminta doa.
Namun Musaffa tidak pernah merasa dirinya istimewa.
Ia selalu berkata:
“Jangan gantungkan harapan pada manusia. Mintalah kepada Allah.”
---
Musaffa sangat mencintai seluruh makhluk hidup.
Ia memberi makan kucing liar. Menolong burung yang patah sayap. Bahkan semut-semut yang masuk ke rumahnya pun ia pindahkan perlahan agar tidak terinjak.
Suatu hari, beberapa pemuda desa menertawakannya.
“Musaffa terlalu lembek!”
“Lihat! Semut saja diselamatkan!”
Musaffa hanya tersenyum.
“Rasulullah mengajarkan kasih sayang kepada seluruh makhluk.”
“Apakah semut itu juga?”
“Bahkan kepada yang lebih kecil dari semut.”
Ucapan itu membuat para pemuda terdiam.
---
Malam-malam Musaffa diisi ibadah.
Saat desa tertidur, ia bangun dalam sepi. Sujudnya panjang. Zikirnya lirih. Tangisnya pecah dalam gelap.
Kadang Abdullah yang terbangun mendengar anaknya berdoa:
“Ya Allah… jangan jadikan aku mencintai pujian manusia. Sembunyikan amal-amalku sebagaimana Engkau sembunyikan dosa-dosaku.”
Abdullah sering menangis diam-diam mendengar doa itu.
Ia tahu anaknya berbeda.
Namun Musaffa sendiri tidak pernah merasa demikian.
---
Musim kemarau datang panjang tahun itu.
Sungai mulai mengering. Sawah retak-retak. Banyak warga kelaparan.
Suatu siang, kepala desa datang menemui Musaffa.
“Warga ingin engkau memimpin doa meminta hujan.”
Musaffa terkejut.
“Aku?”
“Kami percaya Allah mencintaimu.”
Musaffa menunduk gelisah.
Ia takut dipuji manusia lebih daripada takut miskin.
Namun demi penduduk desa, ia akhirnya ikut menuju lapangan tandus tempat seluruh warga berkumpul.
Langit begitu panas.
Anak-anak menangis kehausan.
Orang-orang mengangkat tangan penuh harap.
Musaffa berdiri paling belakang.
Tetapi warga memintanya maju.
Dengan langkah berat, ia berjalan ke depan.
Lalu ia berkata:
“Jangan berharap kepada doaku. Berharaplah kepada rahmat Allah.”
Ia mengangkat tangan gemetar.
Belum sempat ia memulai doa panjang, air matanya lebih dulu jatuh.
“Ya Allah… kami hamba-Mu yang penuh dosa. Jika bukan karena kasih sayang-Mu, binasalah kami…”
Suasana mendadak hening.
Angin bertiup perlahan.
Lalu…
Langit yang semula cerah berubah gelap.
Petir menggelegar.
Hujan turun begitu deras.
Tangis warga pecah bercampur takbir.
“Allahu Akbar!”
Anak-anak berlari kegirangan di bawah hujan.
Namun di tengah semua itu, Musaffa justru menangis semakin keras.
Ia berbisik:
“Ya Allah… jangan hukum aku dengan ketenaran.”
---
Sejak hari itu, nama Musaffa mulai dikenal hingga desa-desa lain.
Orang-orang datang dari jauh.
Ada yang meminta didoakan agar kaya.
Ada yang meminta jabatan.
Ada yang ingin cepat mendapat jodoh.
Namun Musaffa sering menolak secara halus.
“Aku takut mendoakan sesuatu yang tidak diridhai Allah.”
Sebagian orang kecewa.
Sebagian marah.
Tetapi ia tidak berubah.
Jika ia melihat seseorang datang dengan hati sombong, ia enggan berbicara panjang.
Namun bila seseorang datang dengan hati tulus dan penuh penyesalan kepada Allah, Musaffa akan menangis bersama mereka dalam doa.
---
Suatu malam, Abdullah memanggil anaknya.
“Musaffa…”
“Iya, Ayah.”
“Ayah merasa umur Ayah tak lama lagi.”
Musaffa langsung menggenggam tangan tuanya.
“Jangan berkata begitu.”
Abdullah tersenyum lemah.
“Dengarkan Ayah. Kelak akan datang masa berat dalam hidupmu. Banyak manusia memujimu… dan lebih banyak lagi membencimu.”
Musaffa diam.
“Jika itu terjadi… jangan tinggalkan Allah.”
Air mata Musaffa jatuh perlahan.
“Ayah… aku hanya ingin hidup sederhana bersamamu.”
Abdullah menatap wajah anaknya lama sekali.
“Engkau bukan milik dunia ini, Nak.”
Malam itu angin bertiup dingin.
Lampu minyak bergoyang pelan.
Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya, hati Musaffa terasa gelisah seakan takdir besar sedang berjalan mendekatinya.
---
Beberapa hari kemudian, seorang musafir asing datang ke desa Darul Falah.
Pakaiannya panjang berdebu. Tongkat kayu berada di tangannya. Sorot matanya tajam namun teduh.
Ia bertanya kepada penduduk:
“Di mana rumah pemuda bernama Musaffa Zassyiff?”
Penduduk menunjuk rumah kecil dekat sungai.
Musafir itu berjalan perlahan ke sana.
Saat tiba, ia melihat Musaffa sedang menyuapi ayahnya dengan penuh kasih.
Musafir tua itu terdiam lama.
Matanya berkaca-kaca.
Lalu ia berbisik sangat pelan:
“Subhanallah… cahaya itu benar-benar ada padanya…”
Musaffa menoleh.
“Apakah Tuan mencari seseorang?”
Musafir itu tersenyum.
“Aku mencari seorang kekasih Allah.”
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Jantung Musaffa berdegup sangat keras.
---
Tamat Bab 1
Lanjut ke Bab 2 — Musafir Pembawa Rahasia.