38 | Menerkam

1509 Words

"Mahareno." Sambil menjulurkan tangannya kepada Aylin. Detik di mana semua mata memandang ke tangan itu, termasuk Aylin. Di kepalanya terlintas pemikiran; mengapa dulu pria ini tidak ada kemunculan batang hidungnya sekadar lewat chat? Bukankah Rani sudah menginfokan tentang Aylin—termasuk dengan nomor ponsel? "Aylin," sambutnya, menjabat tangan Bang Reno. Lelaki itu senyum. Aylin sontak ukir senyum yang sama. Ramah tamah saja. Menjadi detik di mana dapat Aylin rasakan sebuah rangkulan di pinggang, yang ternyata berasal dari Baja. "Pulang sekarang?" "Oh, iya." Sambil Aylin tarik lepas tangannya dari genggaman Mahareno. Baja senyum, khususnya kepada sang putra. "Papa sama Aylin pulang dulu. Oh, ya, Reno ... lain kali balas pesan Papa." Aylin diam, Maharani juga diam. Sementara, Reno m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD