Satu jam sebelum akad
Salsa membawa segelas teh jahe hangat menyusuri lorong lantai sembilan, sementara ujung kebaya hijau sage yang ia pakai terus menyangkut di tumit sepatunya. Sejak subuh ia sudah menasihati dirinya sendiri agar tidak menangis hari ini. Kakaknya akan menikah. Itu hari bahagia. Tidak ada alasan matanya terasa panas sejak semalam.
Di depan pintu suite pengantin, ia mengetuk dengan siku karena kedua tangannya penuh.
"Kak Kirana, aku bawa teh jahe. Katanya bagus buat perut yang tegang."
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, lebih keras. "Kak?"
Pintu itu ternyata tidak tertutup rapat. Begitu tersentuh siku Salsa, daun pintunya bergeser terbuka dengan bunyi pelan yang entah kenapa membuat bulu kuduknya berdiri.
Suite itu terang benderang. Gaun akad berwarna putih gading tergantung rapi di depan jendela, lengkap dengan kerudung panjang dan mahkota melati yang masih basah oleh semprotan air. Kursi rias kosong. Peralatan make up berserakan setengah terbuka, kuas dan palet bertebaran seperti ditinggalkan di tengah pekerjaan.
"Mbak Dewi?" panggil Salsa pada penata rias yang seharusnya ada di sana.
Perempuan itu muncul dari kamar mandi sambil membawa handuk kecil, wajahnya bingung. "Loh, Mbak Salsa. Mbak Kirana tadi minta waktu sendiri sebentar, katanya mau berdoa. Saya tunggu di luar hampir setengah jam. Saya kira dia sudah turun ke ruang keluarga."
Setengah jam. Salsa merasakan dadanya mengencang pelan, seperti tali yang ditarik dari dalam.
"Kakakku tidak ada di ruang keluarga," katanya, lebih kepada dirinya sendiri. "Aku baru dari sana."
Ia meletakkan gelas teh di meja rias, dan di situlah ia melihatnya. Sebuah amplop putih polos tersandar di cermin, dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal. Tulisan Kirana yang miring ke kanan, selalu terburu-buru.
Untuk Salsa.
Tangannya gemetar saat membuka lipatan kertas di dalamnya. Hanya empat kalimat.
Sal, maaf. Aku tidak bisa melakukan ini. Bukan karena Dimas, dan bukan karena kamu. Tolong jaga Ibu. Jangan cari aku.
Tidak ada nama. Tidak perlu. Tidak ada orang lain yang menulis huruf g dengan ekor sepanjang itu.
Salsa membacanya tiga kali. Kata-katanya tidak berubah, hanya makin dingin setiap kali ia membaca.
"Mbak Salsa, ada apa?" Mbak Dewi mendekat. "Mukanya pucat sekali."
"Tolong keluar sebentar, Mbak." Suara Salsa terdengar asing di telinganya sendiri, datar dan terlalu tenang. "Dan jangan bilang siapa pun dulu."
Setelah pintu menutup, Salsa langsung menelepon nomor kakaknya. Nada sambung terputus pada dering kedua, lalu suara operator mengabarkan nomor itu sedang tidak aktif. Ia mencoba lagi. Lagi. Lagi. Sampai jarinya kebas.
Ia memeriksa kamar mandi, balkon, lemari, bahkan kolong tempat tidur seperti anak kecil yang bermain petak umpet. Koper kecil milik Kirana yang semalam ada di sudut ruangan sudah tidak ada. Dompetnya hilang. Sepatu putih yang dipakainya latihan jalan kemarin juga hilang, hanya sepatu pengantin berhak tinggi yang tertinggal rapi di dekat ranjang.
Ini bukan hilang. Ini kabur.
Salsa terduduk di tepi ranjang dengan lutut yang tiba-tiba terasa seperti agar-agar. Akad dijadwalkan pukul sepuluh. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul sembilan. Di bawah sana, dua ratus tamu sedang menikmati teh dan kue basah sambil membicarakan betapa serasinya Kirana dan Dimas.
Ia tidak tahu berapa lama terdiam sampai pintu suite terbuka lagi dan Ibu masuk dengan kebaya brokat cokelat kesayangannya.
"Salsa, Kirana sudah siap belum? Bapak bilang penghulu sudah ... " Kalimat itu terhenti. Ibu menatap ranjang yang kosong, gaun yang masih tergantung, lalu wajah anak bungsunya. "Di mana kakakmu?"
Salsa tidak sanggup bicara. Ia hanya menyodorkan surat itu.
Ibu membacanya dengan mulut sedikit terbuka. Warna di wajahnya perlahan menghilang, dan ia memegang kusen lemari seolah lantai di bawahnya bergoyang.
"Tidak mungkin," bisiknya. "Tidak mungkin. Kirana tidak akan begini. Dia anak yang paling bertanggung jawab."
"Bu, duduk dulu. Aku ambilkan air."
"Panggil Bapak." Ibu mencengkeram lengannya. "Panggil Bapakmu sekarang."
Pak Hendra datang tidak sampai lima menit kemudian, masih dengan jas hitam yang kancingnya belum sempat dikait. Pria enam puluh tahun yang biasanya berjalan seperti raja kecil di setiap ruangan itu berhenti di ambang pintu, membaca surat yang diserahkan istrinya, lalu meremasnya hingga buku-buku jarinya memutih.
Salsa mengira ayahnya akan marah. Berteriak. Memukul meja. Memerintahkan orang mencari Kirana ke seluruh kota.
Pak Hendra tidak melakukan satu pun dari itu. Ia justru menutup pintu suite pelan-pelan, menguncinya, lalu berdiri diam dengan punggung menghadap mereka selama hampir satu menit penuh. Kebisuan itu membuat Salsa jauh lebih takut daripada teriakan mana pun.
"Siapa yang tahu soal ini?" tanyanya akhirnya, tanpa menoleh.
"Hanya kami bertiga, Pak. Sama Mbak Dewi, tapi dia belum tahu isinya."
"Bagus." Pak Hendra berbalik. Wajahnya sudah kembali tertata, dingin seperti sedang memimpin rapat. "Tidak seorang pun boleh tahu sampai kita selesai bicara."
"Pak, Kak Kirana pergi. Kita harus lapor polisi, harus cari dia, bagaimana kalau dia ... "
"Kirana pergi dengan kakinya sendiri, membawa kopernya sendiri, dan menulis surat dengan tangannya sendiri." Nada ayahnya datar. "Dia tidak diculik. Dia memilih."
Ibu mulai terisak di kursi rias. "Tapi bagaimana dengan tamu? Keluarga Dimas sudah datang semua. Ya Allah, malu sekali kita."
Pak Hendra menarik kursi, duduk menghadap Salsa, dan menatapnya lama. Tatapan yang membuat Salsa ingin mundur, karena ia belum pernah dilihat ayahnya seperti itu. Bukan seperti menatap anak. Lebih seperti menatap barang yang tiba-tiba menjadi sangat berguna.
"Salsa," katanya pelan. "Kamu yang akan duduk di sana."
Ruangan itu seperti kehilangan udara.
"Apa?"
"Kamu yang akan menikah dengan Dimas pukul sepuluh nanti."
"Bapak bercanda." Salsa tertawa, tawa pendek yang terdengar salah. "Aku bukan pengantinnya. Aku bahkan hampir tidak kenal Mas Dimas. Aku hanya pernah bertemu dia tiga kali, itu pun cuma bersalaman."
"Kamu tidak perlu mengenalnya. Kamu hanya perlu mengucapkan ijab kabul dan duduk dengan tenang."
"Itu pernikahan, Pak. Bukan sandiwara."
"Justru karena itu pernikahan, nama dua keluarga dipertaruhkan." Suara Pak Hendra tidak meninggi sedikit pun. "Keluarga Adiwangsa bukan keluarga biasa. Kalau akad ini batal di depan dua ratus tamu dan para kolega, hubungan bisnis Bapak dengan mereka selesai. Perusahaan yang Bapak bangun tiga puluh tahun bisa runtuh dalam seminggu. Kamu mau lihat Ibumu kehilangan rumah ini?"
"Itu tidak adil."
"Hidup memang tidak adil, Nak. Dan kamu bukan orang pertama yang belajar itu hari ini."
Salsa menoleh ke Ibu, mencari pembelaan. Tetapi Ibu hanya menunduk sambil menggenggam tisu basah, bahunya bergetar. Ketika akhirnya mengangkat wajah, Ibu berbisik dengan suara yang pecah.
"Sal, tolong. Sekali ini saja. Ibu tidak sanggup kalau semuanya hancur hari ini."
Itu yang paling menyakitkan. Bukan perintah Bapak, tetapi permohonan Ibu, yang selama dua puluh lima tahun hampir tidak pernah memintanya apa pun.
Salsa menatap gaun putih gading di dekat jendela. Gaun yang dijahit untuk tubuh yang lebih tinggi, lebih anggun, lebih sempurna darinya. Seperti hampir semua hal lain dalam hidupnya, ia selalu mengenakan sisa dari ukuran yang dibuat untuk Kirana.
Pintu suite diketuk dua kali.
Pak Hendra bangkit membukanya. Di baliknya berdiri seorang pria tinggi dengan beskap hitam yang pas di bahu lebar, rambut tertata rapi, dan wajah yang tidak menunjukkan emosi apa pun. Dimas Adiwangsa. Calon pengantin pria. Orang yang seharusnya sedang duduk menunggu di bawah sana.
"Maaf mengganggu," katanya, suaranya dalam dan tenang. "Penghulu sudah bertanya kenapa belum ada kabar dari pihak pengantin perempuan. Saya naik sendiri karena merasa ada yang tidak beres."
Pandangan Dimas bergerak melewati Pak Hendra, menyapu ruangan, berhenti pada ranjang kosong, lalu gaun yang tidak tersentuh, lalu surat kusut di tangan Pak Hendra. Terakhir, ia menatap Salsa.
Tidak ada keterkejutan di mata itu. Hanya sesuatu yang lebih sulit dibaca, seperti seseorang yang sudah menduga akhir cerita sejak halaman pertama.
"Kirana pergi," katanya. Bukan pertanyaan.
Tidak seorang pun membantah.
Dimas mengangguk pelan, hampir tidak terlihat. Lalu, kepada Pak Hendra, "Apa rencana Bapak?"
"Salsa bersedia menggantikan," jawab Pak Hendra cepat. Terlalu cepat.
"Aku belum bilang bersedia," potong Salsa, dan suaranya bergetar hebat.
Dimas melangkah masuk dan berhenti dua langkah di depannya. Dari dekat, Salsa baru menyadari ada garis lelah tipis di bawah mata pria itu, jejak malam yang tidak dihabiskan untuk tidur.
"Aku tidak akan memaksa," katanya rendah, supaya hanya Salsa yang mendengar. "Kalau kamu menolak, aku sendiri yang akan keluar dan menyampaikan bahwa akad ditunda. Tidak ada yang akan menyalahkanmu."
"Dimas," Pak Hendra memperingatkan.
"Tapi aku butuh jawabanmu sekarang," lanjut Dimas tanpa mengalihkan pandangan. "Waktu kita tidak banyak."
Salsa menunduk, menatap surat yang kini tergeletak di lantai, huruf-huruf miring Kirana yang menolak dibaca ulang. Jaga Ibu. Jangan cari aku. Seolah menyerahkan seluruh kekacauan ini ke pundaknya sudah cukup sebagai penjelasan.
Ia memikirkan Ibu yang gemetar. Ia memikirkan nama keluarganya. Ia memikirkan dua ratus tamu yang menunggu di bawah.
Ia memikirkan, untuk pertama kalinya dalam hidup, bahwa menjadi anak yang selalu mengalah ternyata tidak pernah ada habisnya.
Salsa mengangkat wajah.
"Aku bersedia," katanya.
Dan pada detik itu, ia belum tahu seberapa mahal harga dari kalimat sependek itu.