bc

Tagihan Pengkhianatan

book_age18+
11
FOLLOW
1K
READ
revenge
love-triangle
family
arrogant
stepfather
heir/heiress
drama
bxg
brilliant
loser
city
affair
like
intro-logo
Blurb

Dunia Stella runtuh dalam semalam ketika sebuah rahasia kelam terbongkar. Henry dan Maya ternyata telah lama menjalin hubungan gelap di belakangnya. Pengkhianatan itu terasa berkali lipat lebih menyakitkan saat Stella mendapati mereka telah memiliki seorang bayi yang seluruh biaya kelahirannya tanpa sadar didanai dari uang Stella sendiri.Hancur dan sempat merasa ingin menyerah, Stella menyadari bahwa cintanya itu salah. Namun, ia tak mau kalah oleh nasibnya yang malang.Di tengah badai emosi dalam hatinya Stella memilih untuk menahan diri. Alih-alih mengamuk tanpa arah, Stella mulai menyusun langkah dengan kepala dingin yang mematikan.

chap-preview
Free preview
Bab 01 Kejamnya Persahabatan
"Apa gunanya pakai lingerie ini kalau dia tidak pulang. Huufh.., menyebalkan!" Stella menghentakkan kaki ke lantai. Stella semakin gelisah saat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 01.00 dan suaminya belum juga pulang, padahal sudah berdandan cantik, tapi Henry tak juga pulang ke rumah, membuat Stella gelisah. "Ah, sudahlah, aku tidur saja." Stella berjalan menuju tempat tidur, tapi baru sampai di atas kasur, telinga Stella mendengar suara pintu terbuka. Hati Stella langsung berbunga-bunga dan segera berlari ke arah pintu. "Loh, kok kamu?" Mata Stella membelalak saat melihat Maya sahabat karibnya yang berdiri sambil menggendong bayi. Keningnya mengkerut dan berpikir keras kenapa Maya tengah malam di rumahnya? Dan bayi siapa yang digendongnya? Lalu Stella ingat dia memakai lingerie, spontan dia berlari ke kamar untuk memakai piyama dan kembali ke tempat Maya. "Maya, kenapa kamu di sini?" "Maafkan aku datang malam-malam, tapi ini penting. Apa Mas Henry ada?" tanya Maya yang melihat Stella yang mengancingkan baju. "Kamu cari Mas Henry tengah malam begini, memangnya ada apa?" "A-anu, ini penting sekali." Suara Maya tercekat di tenggorokan saat melihat Stella, terlebih penampilan Stella yang begitu cantik malam itu, saat mengenakan pakaian malam, kecantikan Stella terpancar nyata. "Ada apa ...?" tanya Stella yang melihat Maya menatapnya dengan wajah dingin. "Maaf aku datang mengganggu tengah malam, tapi aku tak berdaya, aku perlu bicara dengan Mas Henry." "Kenapa juga datang tengah malam? Kenapa tidak besok pagi saja?" "Jangan banyak bertanya, biarkan aku bicara dengan Mas Henry." "Bagaimana kamu bisa masuk ke rumahku? Siapa yang bukankan, pintu?" Rasa penasaran Stella bertambah besar. Di dalam rumah hanya dia dan suaminya yang punya kunci, tapi kenapa Maya bisa membuka pintu? Lalu Maya datang dengan menggendong bayi yang nampak kurang sehat. Pandangan mata Stella tajam mengarah pada Maya. "Kenapa Maya tengah malam ke sini bawa bayi?" batin Stella. "Bayi siapa itu?" "Aku jelaskan nanti, tapi sekarang suruh keluar Mas Henry, aku minta tolong padamu." Maya menundukkan kepala seraya menatap wajah bayi dalam pelukannya. Stella semakin heran dengan sikap Maya yang biasanya tidak seperti itu, terlebih pertanyaannya diabaikan dan pandangan matanya berkaca-kaca saat menatap bayi yang sedang digendongnya. "Maya, anak siapa yang kamu gendong itu?" Lagi-lagi pertanyaan Stella tidak serta-merta dijawab Maya. Pandangan matanya sendu seakan menahan gejolak hati yang sedang tidak karuan. "Apa itu anakmu?" Namun, pertanyaan Stella dibalas Maya dengan pandangan yang judes dan wajah kesal saat melihat ke arahnya. "Aku lihat Kamu marah padaku?" Stella menatap Maya dalam-dalam. Rasa heran Stella semakin besar saat melihat ekspresi Maya yang berjalan menuju pintu kamarnya dengan wajah geram. "Henry! Keluar ...!" teriak Maya dengan tatapan mata berapi-api. Stella kaget mendengar teriakan Maya, apalagi ini rumahnya dan tidak seharusnya orang luar seperti Maya berani berbuat seperti itu. Kelakuan aneh Maya semakin menjadi-jadi saat tidak menemukan Henry di dalam kamar. "Dasar b******k! Keluar!" teriak Maya lagi. Stella sudah tidak bisa menahan diri untuk bersabar melihat tingkah Maya, terlebih itu tengah malam, tidak seharusnya teriak-teriak dan mengganggu istirahat orang lain. "Stop! Jangan lagi berteriak, kamu gak lihat jam berapa ini, hah!" "Suruh Henry keluar!." "Kamu lihat sendiri kalau dia tidak di rumah, kalau tidak percaya kamu lihat saja sendiri, cari dia sampai ketemu!" tantang Stella yang hilang kesabarannya. "Anaknya sedang sakit, dia harus tanggung jawab!" "Anaknya siapa ...? Aku tidak mengerti?" "Anak ini, anaknya Henry." "Tunggu dulu, apa yang barusan kamu katakan? Anak yang kamu gendong ini, anak Mas Henry?" Stella dengan suara bergetar karena syok dengan apa yang didengarnya, karena selama satu tahun pernikahan, suaminya tidak menunjukkan gejala apapun, Henry bahkan selalu mesra dan penuh kejutan untuk menunjukkan rasa cintanya. "Anak ini buah cintaku dengan Henry." Mendengar ucapan Maya, lutut Stella gemetar dan tidak mampu menopang tubuhnya yang terasa berat. Stella mundur selangkah, hingga tubuhnya yang gemetar terhalang oleh dinding. Rasa tidak percaya yang mendalam, hancurnya persahabatan, dan perasaan terhina karena dikhianati oleh orang terdekatnya, membuat Stella luruh ke lantai. Dunia Stella seakan runtuh menimpanya, suami dan sahabat karibnya ternyata punya hubungan gelap di belakangnya, bahkan mereka sudah memiliki seorang bayi, tapi Stella tidak pernah menyadari gerak-gerik mereka berdua karena percaya dengan sahabatnya yang Stella anggap lebih dari ikatan persaudaraan, bahkan barang-barang yang dia punya, Maya pun dibelikan. "Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Batin Stella menjerit. Matanya menatap Maya dengan tatapan penuh kebencian dan kekecewaan. Tangannya gemetar menahan gejolak hatinya yang tidak karuan. Tapi beberapa detik kemudian, amarahnya menggelora melihat senyuman tipis di wajah Maya yang seakan mengejeknya. "Tega sekali kamu, Maya," lirih Stella. Air matanya mengalir deras, tatapannya mengunci mata sahabatnya. "Lebih dari sepuluh tahun, aku menganggapmu saudaraku sendiri ..." Maya menunduk, mempererat pelukannya pada bayi di dadanya. "Stella maaf. Aku tidak bermaksud seperti ini, kami tidak bermaksud menyakitimu." "Tidak bermaksud?" Stella tertawa sinis, sebuah tawa kering yang terdengar menyakitkan. "Kalian tidur bersama di belakangku, melahirkan seorang anak, dan kamu bilang tidak bermaksud? Sifat iblis mana yang sedang kamu tiru sekarang, Maya? Sungguh menggelikan." Maya terisak, tidak berani menatap Stella. "Maaf, Stel, tolong maaf aku ..." "Maaf katamu, semua barang yang kamu pakai. Sepatu yang kamu pakai, tas yang kamu jinjing, biaya rumah sakit ibumu, memakai uangku. Bahkan mungkin biaya persalinan kamu itu, uang dariku, karena suamiku satu bulan yang lalu meminta uang lebih, dari biasanya, dia bilang untuk membantu teman istrinya yang melahirkan. Hahahaha! Kalau dipikir-pikir itu, pasti kamu, iya kan?!" Suara Stella meninggi di akhir kalimat, menembus keheningan ruangan. "Stella, maafkan aku, bukan itu maksudku," lirih Maya dengan suara bergetar ketakutan. "Kalian sungguh pintar bersandiwara. Hahahaha! Ternyata selama ini, kalian membodohi aku. Sungguh menyedihkan, aku ini, kenapa aku tidak tahu, kalian berdua berselingkuh di belakangku?" Stella menangis sambil tertawa. Ia menertawakan kebodohannya selama ini. "Stella!!" teriak Maya sambil menunjuk muka Stella dengan mata melotot tajam. "Kenapa hah! Apa kamu tidak terima? Ciiiih! Orang licik sepertimu, membuatku jijik dan ingin muntah!" Stella bangkit dari bersimpuh dan mengacungkan jari ke wajah Maya. "Stella! Aku sudah merendahkan diri untukmu, tapi kamu malah menertawakan kesedihanku. Awas kamu, ya! Aku cabik-cabik mukamu!" Maya maju ke depan Stella dengan tangan yang siap mencakar. "Rasakan ini!" Dengan cepat Stella menangkis tangan Maya, tapi melihat Maya yang sedang menggendong bayi, Stella pun tidak melawan sekuat tenaga, karena takut mengenai bayi tidak berdosa itu. Meski hatinya ingin menjambak rambut Maya, tapi karena bayi dalam gendongan Maya, Stella pun menahan diri, dan memilih mundur. Namun, Maya yang merasa direndahkan harga dirinya, dia tidak terima begitu saja, tangannya mendorong tubuh Stella dengan kuat, hingga Stella tersungkur ke meja kaca, hingga kacanya pecah. Bruukk! Praaang! "Auuuh!" Stella meringis kesakitan, sambil berusaha berdiri dari lantai, tetapi perih di tangannya, membuatnya tertegun, menatap darah segar yang mengalir dari luka di telapak tangannya, dan menetes ke atas lantai keramik. "Puas kamu, Maya?!" desis Stella dengan suara bergetar. Tatapan matanya tajam mengarah pada Maya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
755.1K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
987.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
364.5K
bc

Not just, the Beta

read
350.8K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook