Pagi hari sudah datang. Cherly sibuk menyiapkan sarapan pagi mereka. Sejak tadi sibuk dengan peralatan memasak. Menu sarapan kali ini, adalah sup ayam dicampur dengan beberapa potong daging sapi yang diiris kecil. Selain itu, ada sambal tomat kesukaan Leon. Dengan senang hati dia melakukan rutinitas nya itu. Tidak terasa, panci tempat merebus soup sudah mengepul, hingga tutup pancinya perlahan naik ke atas.
Segera dia matikan kompor. Lalu menyajikan semuanya di meja makan.
Leon baru keluar dari kamar. Dia masih harus lembur untuk pekerja nya. Matanya nampak sangat lelah dan mengantuk. Ada kantung mata yang menghitam terlihat oleh Cherly.
Leon memeluk Cheryl dari belakang, ketika wanita itu sedang mengambil beberapa buah piring di rak atas.
“Kenapa? Kamu lelah ya? Sudah cukup istirahat?"
“Mana ada. Kalau bisa, aku masih mau tidur. Ayo ke kamar lagi."
“Makan dulu, baru tidur lagi."
“Kamu masak apa, Sayang?" tanya Leon lembut. Kepribadiannya itu membuat Cheryl jatuh cinta berkali-kali. Apalagi, dia selalu melihat mata suaminya menatap dengan penuh kasih sayang.
Tangannya terulur mengelus puncak kepala Leon.
“Aku masak sop sama sambel kesukaan kamu. Tapi ngomong-ngomong, kamu sepertinya tambah tinggi ya? Atau cuma perasaan aku saja?" tanya Cheryl.
Leon tertawa kecil. Dia justru merasa, bahwa istrinya lah yang tidak bertumbuh tinggi.
“Kamu yang pendek. Bukannya tumbuh ke atas, malah melebar ke samping," ledeknya sambil cengengesan. Hal itu sukses membuat kesal Cherly, dia menggembungkan pipinya lucu, bak ikan buntal. Lalu menghadiahi sebuah pukulan kecil ke tangan Leon.
“Kamu jangan salah. Begitu juga, kamu tetap cinta kan?" tanya Cheryl menantang.
Leon hanya tersenyum tidak menjawab. Takut salah tingkah nantinya. Dia membantu membawakan piring dan sendok, juga tiga buah gelas ke meja.
Dari kamar lain, Irvan sudah keluar dengan pakaian kaos, sengaja membuka dua kancing teratas. Dia ikut duduk di meja. Namun, pikirannya tertuju pada Cherly. Menatap wanita itu seakan-akan bukan iparnya, melainkan seorang gadis yang masih lajang.
Cheryl sadar akan tatapan penuh arti itu. Dia menjadi tidak nyaman. Tapi terpaksa diam saja, dan memilih untuk duduk di dekat Leon.
“Makanannya enak, kakak memang pintar memasak ya," ucap Irvan. Sudah tidak ada lagi sikap dingin yang selama ini dia lakukan, malah berganti dengan sebuah ketertarikan pada kakak iparnya.
Cherly hanya menjawab sekenanya saja. “Iya….aku memang sengaja pilih-pilih sayuran segar untuk dimasak."
Ingatannya tiba-tiba teringat akan kejadian waktu pagi, saat masih gelap sekali diluar. Cheryl sedang menjemur beberapa sepatu kets nya di luar. Ingin dia pakai untuk hangout bersama teman-temannya. Dari dalam, Irvan juga keluar. Dia menghampiri kakak iparnya itu.
Tubuhnya sengaja dia dekatkan pada Cheryl, membuat wanita itu merasa tidak nyaman. Tatapannya begitu nakal, seperti ada maksud tersembunyi.
“Kenapa? Tumben sekali kamu sudah bangun pagi-pagi seperti ini."
“Salah? Aku cuma mau menghirup udara segar," ujarnya.
“Oh, begitu." Memilih untuk tidak peduli dan melanjutkan pekerjaannya.
Ada sejumput perasaan mendebarkan setiap kali Irvan berbicara dengan Cheryl. Lebih suka menganggapnya wanita yang belum bersuami.
“Masuklah. Disini dingin."
“Kamu sendiri? Kenapa memakai pakaian pendek begitu?" Meneliti sampai bawah. Melihat bahwa Cherly hanya memakai celana pendek di bawah lutut.
Lagi-lagi dia merasa tidak nyaman. Salahnya sendiri berpakaian seperti itu di hadapan pria lain yang bukan suaminya. Namun, dia lupa kalau dia Irvan.
“Aku kuat dingin. Kamu tidak usah repot-repot memikirkan aku," jawabnya ketus.
“Oh, begitu…" Irvan kembali masuk ke dalam rumah. Dia lalu keluar lagi dengan memakai pakaian olahraga.
“Kamu mau kemana? Apa tidak terlalu pagi untuk olahraga?"
“Tidak. Kamu juga sudah olahraga–menjemur sepatu. Apa salahnya?" Kemudian, pria itu berlalu dari hadapan Cheryl.
“Dasar aneh, kemarin dingin, sekarang tidak. Besok, apa lagi? Menyebalkan."
Sekelebat bayangan tangan muncul berkali-kali di hadapan wajah Cheryl. Itu adalah tangan Leon, yang mencoba untuk menyadarkannya dari lamunan.
“Hei, kamu kenapa? Ada masalah?" tanya Leon khawatir, nampak jelas di wajahnya.
“Hah!? Oh tidak. Aku tidak apa-apa kok," jawabnya terbata.
”Aduh, apa aku ceritakan saja masalah ini pada Mas Leon? Tapi….agak aneh. Mungkin, ini hanya perasaanku saja. Atau memang Irvan yang benar-benar bersikap tidak seperti biasanya?" pikirnya dalam hati.
Leon merebut piring makanan dari hadapan Cheryl.
“Kamu melamun terus, kalau begini, kapan bisa selesainya? Sini, aku suapin saja ya."
“Eh, tidak usah. Kamu makan saja, toh sedang sibuk sekali kan? Nanti jadi lama dan mengganggu. Aku bukan anak kecil loh."
“Tidak apa-apa, aku yang mau menyuapi kamu. Akhir-akhir ini, aku sibuk sekali. Jadi, kita cuma punya sedikit waktu untuk bersama kan? Ayo, makan."
“Iya, deh. Yang penting kamu senang," ujarnya pasrah.
“Masakan kamu enak. Aku jadi mau nambah terus, takut nanti gendut hahaha."
“Mana ada gendut. Perut laki-laki kan lebih panjang dari perempuan. Makan saja yang banyak, jangan takut gendut segala."
“Hahaha iya deh. Aku menurut saja."
“Tapi, beda cerita kalau aku yang makan terlalu banyak. Pasti langsung naik berat badan. Rasanya, makan angin sana, langsung gendut."
Ucapannya sukses membuat tawa Leon. Sama halnya dengan Irvan, namun dia hanya menyengir saja.
“Loh, kenapa malah tertawa? Aku benar kan? Dasar!" omelnya.
“Iya, jengah merajuk lagi."
Leon mengecup singkat pipi istrinya, juga mengecup kening Cherly. Wanita itu senang, dan membalas Leon juga, tanpa memperdulikan ada Irvan di sana.
Tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata yang menatap tajam. Tidak suka dengan pemandangan romantis yang sedang terjadi pagi itu. Dia memegang sendok nya terlalu keras, sehingga tidak sengaja berbenturan dengan piring.
“Eh, kamu tidak apa-apa kan, Irvan?" Leon bertanya.
Irvan menjawab dingin. "Tidak apa-apa. Lanjutkan saja ‘pekerjaan' kalian."
Selesai makan, Cherly membawa piring-piring kotor ke wastafel. Sedangkan Leon sudah masuk ke ruangan khusus–tempatnya biasa bekerja saat di rumah.
Tangan Cheryl tidak sengaja bersentuhan dengan tangan Irvan ketika menaruh piring di wastafel. Pria itu tersenyum miring, tanpa diketahui oleh Cherly.
“Ah, maaf ya. Tangan kamu jadi kotor." Ada tumpahan kuah soup di tangan Irvan.
“Tidak apa-apa. Aku bisa bersihkan sendiri." Hatinya masih panas ketika mengingat pemandangan tadi. Cepat-cepat dia masuk ke dalam kamar, dengan jengkel.
“Loh, kenapa lagi dia?"
Leon kembali mendatangi istrinya yang sibuk mencuci piring di wastafel.
“Mau aku bantu? Padahal tidak usah repot-repot begitu," tawarnya.
“Tidak apa-apa kok. Aku yang mau. Kenapa? Mau aku buatkan kopi?"
“Boleh … aku mau minta tolong yang lain juga."
“Apa?"
Leon memposisikan tubuhnya di hadapan Cheryl. Sangat dekat, hingga tidak ada jarak antara mereka. Tangannya dia taruh di pundak sang istri.
“Begini, aku sepertinya akan pulang sangat lama. Mungkin tengah malam lagi. Sibuk, jadi tidak ada waktu untuk makan di kantin kantor. Kamu mau buatkan aku bekal?"
“Oh, aku kira apa, sampai serius seperti ini. Padahal, bisa langsung minta tanpa basa-basi kan?"
“Hahaha. Iya deh, kamu yang terbaik." Keduanya berpelukan sangat erat.