Lagi-lagi ada sepasang mata yang melihat dari dalam kamar. Dia mengernyitkan dahi, menatap tidak suka. Dadanya terasa sesak dan panas.
“Sebentar membuat aku berdebar-debar. Bahkan lebih suka menganggapmu tidak punya suami. Sekarang, malah membuat aku sakit hati seperti ini."
Irvan jadi malas melakukan apapun. Dia hanya akan merebahkan dirinya di kasur. Sambil memikirkan rencana selanjutnya… entahlah, tapi memang hanya Cheryl satu-satunya wanita yang membuat Irvan tertarik. Selama ini, dia sama sekali tidak terbuka dengan wanita manapun. Mau secantik dan sekaya apapun mereka, tidak ada yang membuat hatinya luluh. Pernah saat kuliah dulu, dia bersama teman-temannya kampusnya ikut dalam kencan buta.
Ada tiga wanita yang tertarik pada Irvan. Mereka menggoda pria itu dengan susah payah. Walaupun Irvan tidak menganggap mereka sama sekali, dan malah memberikan tatapan dingin.
“Kamu mau minum malam ini?" ajak seorang gadis padanya.
“Tidak," jawab Irvan singkat.
Satu lagi wanita yang mendekatkan tubuhnya pada Irvan. Dia sengaja melepaskan sweater yang dipakainya.
“Malam ini panas sekali ya. Padahal ada kipas angin dimana-mana," ujarnya beralasan.
Wajah Ivan memang agak tampan. Cukup untuk menjadi standar sedang idola di kampus. Hanya saja, berbeda dengan teman-teman yang playboy. Pria itu bahkan tidak pernah dekat dengan seorang gadis.
“Hei, kamu mau jalan-jalan bersamaku? Kemana saja boleh. Tidak peduli mall yang mahal…"
“Tidak." Lagi-lagi jawaban singkat yang dikeluarkan. Teman-temannya sampai keheranan. Berpikir apakah Irvan menderita alergi wanita atau bagaimana?
Salah satu teman Irvan menyahut. “Hahaha, dia tidak mau. Bagaimana kalau denganku saja?" tawar pria berkacamata tebal dan gendut. Wajahnya juga dipenuhi oleh jerawat batu.
Jelas para gadis menolak keras dan memilih untuk menyingkir.
Namun sekarang, pria itu malah jatuh hati pada seorang wanita yang sudah memiliki suami. Terlebih, itu adalah kakak iparnya sendiri. Seperti tidak ada wanita lain saja di dunia ini.
Cheryl sudah selesai memasak. Dia segera menyisihkan makanan untuk Leon bawa, di sebuah kotak makan yang lucu.
“Habiskan ya. Jangan sampai ada sisa. Awas saja!" ancamnya.
Leon tertawa kecil. ”Iya, kalau kamu yang memasak, tidak mungkin makananya akan sisa."
“Oh, iya. Apa aku harus buatkan juga makanan untuk Irvan? Mungkin dia suka kelaparan juga saat siang kan?"
“Ya, coba aku tawar."
Beberapa saat kemudian, Leon datang lagi bersama Irvan. Wajah pria itu nampak kusut.
“Kamu mau aku buatkan bekal juga–"
“Tidak. Aku makan saja di kantin," tolaknya cepat.
“Duh, lagi-lagi bersikap dingin. Kadang juga tidak. Heran, entah bagaimana isi pikirannya," ucap Cheryl di dalam hati.
“Ya sudah."
Dia beranjak masuk ke dalam kamar. Leon mengekori dari belakang. Gadis itu memakaikan suaminya sebuah dasi formal berwarna hitam polos.
“Kapan kamu pulang? Tepatnya."
“Kan sudah aku bilang. Mungkin tengah malam."
“Iya, jam berapa? Biasanya suka lebih kan? Makanya aku tanya, mau pulang jam berapa?"
“Iya deh. Aku akan pulang sekitar jam 11:00. Atau paling lambat jam 12:00."
“Lama sekali. Apa tidak takut kena begal."
“Tidak kok. Jalan yang aku lewati kan aman. Banyak polisi lalu lintas juga. Jalannya ramai. Jangan khawatir."
“Hum, begitu ya. Tapi, kamu seperti tinggal di kantor ya, bukan rumah."
“Hahaha. Aku janji akan minta cuti kerja. Nanti kita bisa jalan-jalan sepuasnya. Tapi sebelum itu, pekerjaan yang menumpuk ini harus segera diselesaikan."
“Apa tidak ada penghargaan untuk karyawan paling rajin? Kamu bisa menang loh."
“Ada, tapi banyak yang lebih rajin dari aku. Rata-rata sudah biasa menjadi makhluk nokturnal."
“Hah, kamu kira hewan?"
Keduanya lantas tertawa terbahak-bahak. Dari luar, Irvan melihat pasangan yang sangat bahagia itu, melalui celah pintu.
“Lama-lama aku muak dan jadi terobsesi untuk mendapatkannya…"
Irvan dan Leon berangkat ke kantor bersamaan. Walaupun begitu, Leon mengatakan dengan tegas, bahwa mereka harus sangat profesional saat di kantor.
“Aku tidak suka berlalu nepotisme. Jadi, kamu lakukan pekerjaanmu dengan baik."
“Iya, aku mengerti…" Umur mereka bahwa tidak terpaut jauh. Tapi, mengapa hanya Leon saja yang sukses menjadi manajer? Dan dia hanya seorang karyawan biasa? Malah mendapatkan istri yang cantik juga seperti Cheryl.
“Aku merasa, bahwa dunia berputar hanya untukmu saja… Leon… " gumamnya.
Di kantor, keduanya harus berpisah. Irvan di lantai satu, dan Leon di lantai dua.
“Jangan lupa untuk makan siang nanti," pesan Leon.
“Iya…"
“Kenapa juga aku menolak bekal dari Cheryl tadi?" pikirnya.
Dia duduk di bangkunya. Ada banyak karyawan lain yang sudah mulai berkutat dengan komputer di depan mereka. Mengurus banyak sekali tumpukan berkas-berkas di meja masing-masing.
“Jika saja aku jadi manager seperti dia, pasti enak punya ruangan sendiri. Menyebalkan, disaat ingat kalau aku setiap hari harus kerja di tempat sempit."
Waktu berlalu. Jam di dingin sudah menunjukan pukul 8:00 malam.
Irvan membereskan barang-barang nya. Bergegas pulang untuk mengambil kesempatan.
“Leon belum pulang. Aku bisa melakukan sesuatu…"
Cheryl sedang memakan salad di depan kulkas saat Irvan sudah pulang.
“Apa yang kamu makan? Aku juga mau coba…" Mendekat ke arah Cheryl.
“Masih ada satu kotak di kulkas. Ambil aja," ucapnya ketus. Lalu berjalan dengan cepat menuju kamar.
Namun, tiba-tiba tangannya di cekal keras oleh Irvan. Pria itu berseringai menyeramkan.
Susah ada bayangan mengerikan yang menghiasi kepala Cheryl. Saat ini, di rumah hanya ada mereka berdua. Apa dia bisa melarikan diri jika Irvan melakukan hal jahat padanya?
Detak jantungnya tidak bisa berhenti berdetak keras. Membuat dadanya sesak dan pikirannya kalut.
“Lepaskan tanganku!" bentak Cheryl.
“Coba saja," tantang Irvan.
Ketika Irvan hendak melangkah maju, tiba-tiba pintu rumah terbuka. Leon juga sudah pulang. Cheryl menghela nafas lega. Dia langsung berlari ke pelukan suaminya.
“Kenapa? Ada masalah?"
“Harusnya aku yang tanya begitu. Kenapa bisa pulang lebih awal?"
“Oh itu, ada kolega bisnis dari Belanda. Bos menyuruh semua karyawan untuk pulang, termasuk aku."
“Syukurlah!"
Keduanya masuk ke dalam kamar.
“Kenapa? Aku lihat wajahmu tidak baik-baik saja. Ada masalah?" Dia duduk di kasur, berhadapan dengan Cheryl.
Wajahnya tampak ragu. Tapi, daripada berakhir penasaran … Cheryl akhirnya menceritakan semua kegundahannya selama ini. Mengenai sikap Irvan yang tidak lagi dingin, dan mulai aneh.
“Kenapa dia seperti itu?"
Dengan lembut Leon menceritakan pada istrinya.
“Dia memang sejak dulu tidak terbuka pada perempuan. Sudah banyak wanita yang terang-terangan minta dipacari oeku Irvan. Tapi, sama sekali tidak dia anggap."
“Oh, begitu ya. Pantas saja …"
Leon mengambil kulit mangga yang ada di kepala istrinya.
“Kamu tidak berniat untuk menghias kepadamu dengan ini kan?"
“Hah?" menatap terkejut. Sepertinya, dia salah sangka pada Irvan. Mungkin saja pria itu tadi hanya berniat untuk mengambil kulit mangga di atas kepalanya.
Sementara itu di dalam kamarnya. Irvan senyum-senyum sendiri, mengingat ketika tangannya bersentuhan dengan Cheryl. Seakan-akan wanita itu belum bersuami.