Lima

1053 Words
Seperti biasa, Leon dan Irvan pergi ke kantor mereka pagi-pagi sekali, Leon banyak kerjaan. Sedangkan Irvan terpaksa ikut rajin karena tidak mau naik taksi, atau kendaraan umum lainnya. Lagipula, dia tidak mau Leon curiga, akan perasaannya pada sang kakak ipar. Namun, baru beberapa langkah keduanya menjajal kaki di kantor, sudah ada banyak karyawan wanita yang mencoba untuk menarik perhatian Irvan. Seorang wanita bernama Clara, bahkan sengaja menabrak Irvan, hingga kopi panas tumpah pada baju keduanya. Sedangkan Leon tidak mau ikut campur. Dia memilih pergi saja. “Memang idola, susah untuk hidup tenang. Hahaha," ujarnya sambil memberikan tatapan mengejek pada Irvan. Dia lalu naik ke lantai dua, menggunakan lift khusus karyawan kalangan atas. “Apa-apaan ini? Kalau jalan makanya lihat-lihat, jadi basah kan. Mana panas juga!" bentak Irvan. Clara tidak peduli, dia hanya ingin cari perhatian saja. “Ih, aku benar-benar minta maaf ya. Tolong jangan marah, kamu tidak apa-apa 'kan?" tangannya terulur mengusap-usap baju kemeja Irvan. Sudah tembus pandang, hingga d**a bidangnya nampak. Irvan kesal. Dia memukul tangan Clara yang menyentuhnya. “Kamu buta atau bagaimana? Masih bertanya aku baik-baik saja atau tidak hah? Aku basah, kotor. Bagaimana caranya untuk pulang lagi!?" kesalnya. “Aduh, aku kebetulan punya kemeja yang baru aku belikan untuk adikku. Dia mau melamar kerja besok, jadi aku mampir tadi ke toko baju. Kamu bisa pakai ini dulu." Menyodorkan sebuah kemeja biru yang indah. Hatinya terasa berbunga-bunga ketika Irvan menerimanya. Padahal, pria itu hanya terpaksa saja. Semua ini sudah direncanakan oleh Clara. Dia ingin barang pemberiannya diterima oleh sang pujaan hati. Terpaksa Irvan pergi ke kamar mandi karyawan khusus pria, untuk berganti baju. Dia juga membersihkan diri, menggunakan tisu basah yang ditawarkan oleh Clara. Merampasnya dengan kasar, dan segera berlalu dari sana. Clara tersenyum puas. Dia pamer pada karyawan wanita lain, karena sudah berhasil cari muka. “Bagaimana? Aku keren kan?" tanya Clara pada teman di sampingnya. “Ya, keren. Sekarang, kerjakan saja semua tugasmu dengan baik. Jangan sampai terkena amarah bos seperti di rapat Minggu kemarin," jawabnya ketus. Yang lain juga memberikan tatapan sinis, sedang Clara malah menikmati hal itu. “Ayolah, jangan iri begitu. Ini belum seberapa sakitnya. Nanti, akan lebih terasa kalau aku menikah dengan dia kan?" Bugh. Sebuah pukulan telak di kepala, oleh Mia–primadona kantor, yang memukul kepala Clara si sok cantik dengan map merah yang lumayan berat. “Nih, kerjakan semua berkasnya dengan baik. Bos bilang, kamu karyawan yang paling malas. Sering datang telat, tapi pulang paling cepat!" “Hih, apaan sih. Dasar tukang iri, pemarah. Padahal sendirinya juga suka cari muka. Tukang jilat ludah sendiri! Menyebalkan!" Gerutu Clara. Hari sudah siang. Para karyawan bisa break sebentar untuk istirahat dan makan siang. Kantin kantor sudah dipenuhi oleh orang-orang. Ibu kantin mulai kewalahan. Biasanya, di hari-hari tertentu, kantor akan memberikan makan gratis. Namun, bos sekarang sedang tidak ada di kantor. Dia sedang dalam perjalanan bisnis, untuk mengait banyak investor baru, dari perusahaan maju di luar negeri. Para gadis berkumpul di satu meja makan besar. Irvan kembali menjadi topik utama mereka. “Gila sih. Kok bisa yah, ada pria setampan itu. Aku raja, wajahnya dipahat deh, mungkin mirip dengan dewa-dewa Yunani hahaha." “Iya, benar banget. Aku saja waktu pertama kali lihat, aku kira dia itu boneka pahatan loh," sahut yang lainnya. Tidak bosan-bosannya membicarakan perihal ketampanan Irvan. Clara datang, dilanjut dengan Mia. Keduanya duduk saling berhadapan. “Eh, aku kalian lihat kan, dia terima baju dari aku. Sudahlah, jangan berharap apa-apa lagi." Tatapan sinis semuanya tertuju pada wanita yang terlalu percaya diri itu. “Iya, terus saja bermimpi sampai kamu tidak bisa bangun lagi. Lebih bagus seperti itu," ujar Mia. “Ih, apaan sih. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Hahaha," tawanya mengejek. Irvan tidak pergi ke kantin, demi menghindari para gadis. Dia memilih untuk pergi ke cafe, membeli satu cup kopi panas, dan dua buah burger. Pria itu duduk kembali di kursi kerjanya. Sepi dan tenang. Tiba-tiba, dari arah belakang, ada tangan lembut dan mulus yang menyentuh pundak Irvan. Dia adalah Medina, asisten manajer kantor yang jatuh hati pada Irvan. Tidak jarang dia menggoda Irvan secara terang-terangan, membuat pria itu tidak betah selama di kantor. “Hei, kamu sedang makan? Nanti malam mau itu …" memberikan isyarat untuk pergi minum bersamanya ke bar. “Tidak lihat aku sedang apa? Anda pergi saja ke tempat sendiri. Saya mau makan. Dan untuk tawarannya, sudah jelas saya menolak." ”Hahaha. Seperti biasa, kamu bersikap dingin. Tapi, sikap dingin kamu itu, malah menjadi saya tarik tersendiri loh. Tidak mudah tergoda oleh perempuan cantik…" Irvan diam tidak menjawab. Dia risih saat Medina berdiri di hadapannya, dan bersandar di meja kerja Irvan. ”Mana mungkin aku lewatkan pemandangan indah saat kamu makan." Tangannya mulai nakal, dia memainkan kerah baju Irvan. ”Ayo pergi kencan. Nanti, kamu bisa minta apa saja deh, mau naik jabatan juga bisa…" Irvan langsung bangkit dari kursinya. Dia mengungsi ke ruangan Leon. “Loh, kenapa kesini?" “Biasalah. Banyak perempuan aneh yang menjijikan. Heran saja, kenapa mereka terlalu over." “Hahaha. Salah sendiri punya wajah tampan." “Ya ampun. Apa menjadi tampan itu dosa." “Bukan begitu, tapi ada resiko lain sih. Memangnya, wanita yang seperti apa yang kamu suka? Semuanya ditolak mentah-mentah," tanya Leon penasaran. “Itu…" isi kepala Irvan kini dipenuhi oleh Cheryl. Ingin menjawab pertanyaan Leon, tapi dengan cepat kembali sadar. “Tidak ada. Semua wanita membosankan, hanya melihat aku dari tampilan luar saja." Kecuali Cheryl, sama sekali tidak menunjukan rasa tertarik sejak pertama kali mereka bertemu. Itu yang membuat Irvan agak penasaran. Biasanya, tidak peduli sudah beranak cucu pun, wanita akan mudah jatuh hati pada parasnya. “Dia itu berbeda dengan wanita lain yang tidak punya malu…." gumam Irvan. Setelah jam makan siang selesai, semua karyawan kembali berkutat dengan kesibukan mereka masing-masing. “Hei, Irvan. Kamu dipanggil ke ruangan Bu Medina," ucap Mia. “Kenapa? Bukannya laporan keuangan sudah aku berikan?" “Tidak tahu. Coba saja ke sana," ujar Mia. “Hah, ada-ada saja." “Semangat, calon suamiku! Jangan buang kemeja itu ya!" kata Clara dengan semangat, yang lainnya kembali menatap sinis. Di ruangan Medina. “Oh, kamu sudah datang rupanya. Kemari," melambaikan tangan, menyuruh Irvan mendekat. Tubuhnya dia dekatkan pada Irvan, ketika pria itu duduk. “Kamu ada waktu nanti malam?" “Jadi, Anda menyuruh saya kesini untuk apa sih? Kalau tidak penting saya pergi saja." Tangannya di cekal oleh Medina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD