Enam

1081 Words
“Kamu mau kemana? Aku belum selesai bicara…" “Lepaskan. Sudah banyak rumor buruk tentang kita. Aku tidak mau jika harus tersandung oleh sebuah scandal." Medina tidak mau mendengarkannya. Dia malah menurunkan bajunya… “Bagaimana? Begini sudah cantik kan?" godanya. Sambil menyentuh wajah Irvan dengan telunjuknya. “Lagipula, kita tinggal membuat scandal nya menjadi nyata kan? Ayo berkencan denganku malam ini." Tanya ragu atau ras malu, Medina semakin mendekat ke arah Irvan. Pria itu sudah tidak tahan lagi. Dia mendorong Medina hingga sang asisten manajer itu terjatuh ke lantai, kakinya tersandung oleh kaki kursi. “Kalau anda bersikap menjijikan seperti ini, lagi, saya tidak akan segan melaporkannya pada bos!" Irvan segera pergi dari sana. Dia mengusap-usap wajahnya yang tersentuh oleh Medina, merasa jijik dan kesal. Hanya Cheryl yang mampu bersikap biasa saya padanya. Medina tertawa sarkas di ruangannya. “Kau pikir, bisa dengan mudah melarikan diri dariku begitu? Sayangnya tidak. Aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan mu!" Malam hari sudah datang. Sekitar jam 8:00, para karyawan mulai membereskan barang-barang bawaan mereka. Begitu pula dengan Leon, yang kali ini pulang karena tidak harus lembur. Pekerjaannya yang menumpuk, sudah ada ringan sekarang. Dia teringat akan istrinya. Segera menelpon. “Halo, kamu ada di rumah kan sekarang? Aku mau pulang." “Iya, aku sudah siapkan makan malam loh. Ayo cepat." “Baguslah. Kamu tidak mau titip sesuatu? Sekalian aku pulang. Mungkin, rumput laut kesukaan kamu?" tawarnya penuh perhatian. Dia tahu bahwa istrinya suka dengan rumput laut kering. Stok nya di rumah juga sudah hampir habis. “Wah, aku saja hampir lupa untuk beli. Kalau begitu, sekalian saja satu kardus hahaha." “Dua?" “Tiga, cukup." “Empat? Bagasi mobil luas, Sayang," godanya. “Hahahaha. Nanti tidak termakan. Dua kardus saja deh. Itu penawaran terakhir ya." “Baiklah. Tunggu ya…" “Iya…" Irvan sedang menunggu kakaknya itu di depan kantor. Dia sibuk melihat foto seseorang di ponselnya. Tania sepengetahuan Cheryl, Irvan memotretnya ketika dia sedang tersenyum. Wajahnya nampak manis, membuat hati Irvan berbunga-bunga. “Tidak sabar rasanya untuk pulang. Kita akan bertemu lagi…" Menyeringai jahat penuh arti. Sejak kemarin, Medina sengaja mendekati Leon. Keluar masuk ruangan Leon untuk mengantarkan berkas, yang tidak penting sama sekali. Dia lakukan hal itu untuk mengorek informasi mengenai Irvan pada Leon. Bersikap baik, dan perlahan menanyakan banyak hal pada Leon. Seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu. Dia membawakan Loen kopi s**u kesukaannya. “Ini, aku sengaja mengantri untuk membawakan anda. Silahkan diminum." Leon sendiri tidak aneh. Sudah banyak gadis yang berperilaku seperti Medina, demi mendekati adiknya itu. “Kenapa repot-repot? Padahal masih jam kerja juga. Jangan sembarangan keluar kantor seperti itu." “Eh, maafkan saya, Pak. Tapi, kenapa Irvan sangat sedingin itu?" “Kenapa kamu mau tahu?" “Yah, penasaran saja sih, Pak. Isi gosip karyawan perempuan pasti Irvan. Tidak ada yang lain. Jadi, itu sedikit mengganggu pikiran saja. Apalagi, dia tidak banyak bicara pada wanita yang terang-terangan menyukainya." “Oh, begitu. Dia memang sejak dulu tidak welcome pada wanita. Aku rasa, dia sama sekali tidak pernah pacaran." “Eh? Benar-benar langka. Tapi, kenapa dia seperti itu pak?" “Entahlah. Tanyakan saja pada orangnya." “Oh, begitu ya." Kakinya akan beranjak pergi dari sana. Namun suara Leon menghentikan langkahnya. “Tunggu!" “Iya, Pak?" “Lain kali, kalau ingin bertanya tentang Irvan, di luar jam kerja saja ya. Sangat mengganggu sekali." “Iya, pak. Saya mengerti," jawabnya kecewa. Dia pikir, Leon akan memberikan informasi lebih banyak padanya. Hal itu Medina lakukan hampir setiap hari, di setiap kali ada kesempatan. Dia bahkan membawakan Leon sarapan, yang dimasak oleh ibunya sendiri. Mau tidak mau, Leon menerimanya untuk menghormati. Walaupun dia tidak suka menjadi mak comblang. Medina mengejar keduanya, yang hampir masuk mobil. “Tunggu sebentar…" “Ada apa?" tanya Leon. “Ayo berkencan. Kebetulan, keluargaku sedang meresmikan rumah makan mereka yang ke 4. Kita bisa minum di sana. Kau mau?" Ingin menolak dengan tegas, namun tidak enak hati dengan Leon. Terpaksa dia menerimanya dengan wajah malas. “Iya…" Keduanya pergi dengan mobil Medina. Mereka melewati sebuah jalanan panjang yang di sisi-sisinya, terdapat lampu jalanan yang menyala terang. Gadis itu senang karena Irvan akhirnya setuju. Ini adalah kesempatan emas bagi Medina. Mereka sampai di sebuah rumah makan yang lumayan besar, masih bernuansa kuno dan mengambil unsur negara Korea. Medina memang masih memiliki keturunan Korea dari silsilah ayahnya. “Ayo masuk." “Memangnya tidak apa-apa? Ada keluargamu?" “Tidak ada tenang saja. Peresmiannya besok. Jadi, tidak usah khawatirkan apapun." Medina dan Irvan duduk lesehan. Di meja, Medina menyampaikan minuman bersoda, dan memesan soup dan kimchi. "Kamu pernah makan? Yang seperti ini?" Sambil menunjuk pesanannya dengan sumpit. “Mungkin…" Gadis itu sengaja banyak minum Soju. Sudah ada dua botol yang dia minum. Mulai mabuk dan menggoda Irvan. Tidak ada pelanggan lain yang datang, karena sudah larut. “Hei, wajahmu sangat tampan sekali!" Nekat wanita itu naik ke atas meja, dan hendak memeluk Irvan. Beruntung dia cepat menghindar. “Sialan!" Irvan lari ke jalan raya. Dia mencegat taxi dan menyuruh sang supir untuk mengantarkan Medina pulang. Sedangkan dirinya membawa mobil Medina. “Mana mau aku mengantar wanita sialan seperti Medina. Bikin jengkel saja. Tapi daripada mobilnya hilang, lebih baik aku pinjam saja dulu." Sesampainya di rumah, terlihat Cheryl yang menunggu di depan pintu. “Eh, akhirnya kamu pulang juga. Kenapa sampai larut seperti ini? Bahaya kan di jalan." “Kenapa? Kakak khawatir?" hatinya senang mendapat perlakuan seperti itu dadi Cheryl. “Tentu saja. Leon sudah menelpon berkali-kali, agar tidak pulang terlalu malam. Tapi, kamu tidak angkat." “Oh, baterai ponselku habis," jawabnya singkat. Semakin tergila-gila dia dengan kakak iparnya itu. Di dalam kamarnya, Irvan menatap Cheryl yang sedang membereskan sisa-sisa makan malam. “Terlalu manis untuk dibiarkan… tidak peduli jika kamu sudah punya suami sekalipun!" Keesokan harinya, kembali Leon dan Irvan melakukan rutinitas mereka. Berkutat dengan banyak pekerjaan monoton yang sebenarnya amat membosankan. Namun, bagaimana lagi? Irvan hanyalah karyawan biasa yang butuh uang untuk hidup. Di jam makan siang, Irvan pergi ke kantin. Mengantri seperti kebanyakan karyawan lainnya. Hingga akhirnya jam pulang kembali tiba Sekembalinya dari kantor, irvan dan medina pergi menghabiskan waktu untuk menikmati keindahan sore dan makan malam bersama. Irvan sangat menikmati itu, tapi tidak karena medina, melainkan karena wajah medina seolah berubah menjadi cheryl. Irvan tak ingin kembali, dia terus saja menikmati kebersamaan itu hingga larut malam. Leon sudah berulang kali menghubunginya, tapi selalu saja diabaikan. Hingga akhirnya nama Cheryl lah yang tertera di layar ponselnya, membuatnya tersadar dengan siapa dia saat ini. Tanpa basa basi, Irvan langsung mengajak Medina kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD